Silahkan Jadi Hebat, Jangan Hambat Orang

0
557 views
Ilustrasi - Bersaing secara tak sehat. (Anokhi)

[12:35, 25/09/2021] Rama Yusup Gunarto SMM Bandung: Minggu, 26 September 2021

Bil.11:25-29.
Mzm.19:8.10.12-13.14.
Yak. 5:1-6.
Mrk.9:38-43.45.47-48

ADA pemisahan yang cukup tegas dari umat yang pernah saya layani.

Untuk sesama suku dan agama, mereka menyebut diri satu sama sebagai “orang kita”. Sedangkan untuk orang lain yang beda agama dan sukunya, disebutnya “mereka”.

Dalam perkembangan sehari-hari, banyak orang cenderung memikirkan tentang “kita” dan bukan tentang “mereka”.

Banyak orang cenderung memperjuangkan apa yang dipikirkan dan diinginkan sendiri. Kurang berpikir dan berjuang tentang kebaikan bersama dan bekerja dalam kebersamaan.

Banyak orang tidak siap menerima perbedaan dan kurang menghargai keragaman, karena cenderung menghendaki keseragaman.

Maka, kalau ada yang orang lain yang berbeda, berarti mereka harus salah dan ditolak.

“Rasanya menyakitkan sekali bahwa semua usaha dan kerja kerasku selama ini tidak dinilai secara adil,” kata seorang ibu dengan nada kesal.

“Dasar pimpinan kampungan. Tidak bisa melihat orang lain maju. Yang dianggap baik dan dipromosikan hanya orang sesukunya. Bahkan hanya mereka yang masih ada hubungan saudara denganya,” lanjutnya.

“Untuk menyingkirkan orang yang beda agama dan suku, mereka menggunakan segala cara. Supaya jabatan tidak jatuh ke tangan orang lain berbeda suku dan agamanya,” ujarnya.

“Kalau secara prestasi dan golongan tidak bisa diutak-atik. Mereka menciptakan sentimen dan tekanan-tekanan hingga dilakukan mutasi,” lanjutnya.

“Ini semua terjadi, karena ada persaingan dan sentimen yang selalu ditanam sejak dulu. Tidak ada keterbukaan dan kerjasama serta toleransi dengan orang yang lain yang berbeda dengan dirinya,” katanya.

“Susah untuk senang dan bahagia dengan keberhasilan orang lain,” lanjutnya.

Sikap seperti di atas diingatkan oleh Yesus untuk diperbaiki.

Ketika ada orang yang mengusir setan demi nama-Nya, Yesus sama sekali tidak tersinggung. Ia tidak merasa namanya telah dicatut.

Justru Ia menegaskan, “Tak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Yesus berpikir positif, terbuka pada semua orang yang berhekendak baik dan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan baik demi nama-Nya, meskipun mereka tidak termasuk kelompok pengikut-Nya.

Yesus mengajak kita berpikir positif terhadap orang lain sehingga kita menjauhkan diri dari sikap eksklusif.

Jangan merasa kelompok sendiri yang paling baik dan hebat, hingga selalu harus menghambat orang lain yang lebih baik dan punya prestasi lebih cemerlang.

Bagimana dengan diriku?

Apakah aku masih melihat orang lain sebagai lawan yang harus ditaklukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here