Home BERITA Sosok Santa Monika yang Kutemukan dalam Kegiatan Safari Panggilan

Sosok Santa Monika yang Kutemukan dalam Kegiatan Safari Panggilan

0
160 views
Pengalaman mengikuti Safari Panggilan di Paroki Kabanjahe dan tinggal di rumah Kak Micel. (Sr. Tarsisia Turnip SFD)

KEGIATAN Safari Panggilan merupakan salah satu program kampus STFT St. Yohannes Siantar yang dilaksanakan setiap tahun.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar hidup bersama umat sekaligus memperkenalkan panggilan hidup membiara kepada mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk penggalangan dana yang akan digunakan kampus kami dalam berbagai kegiatan.

Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini karena saya boleh mengenal kehidupan umat dan merefleksikan perjalanan panggilan saya.

Kak Micel dari Kabanjahe

Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Kabanjahe, menjadi tempat kami melaksanakan safari panggilan. Kota Kabanjahe menyambut kami dengan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Tanah Karo.

Udara dingin yang merasuk hingga ke tulang seolah menjadi latar belakang yang sempurna bagi perjalanan kami.

Selama tiga hari melaksanakan kegiatan safari panggilan, saya dan dua teman suster tinggal di rumah seorang ibu yang kami panggil Kak Micel.

Ia merupakan seorang single parent yang memiliki empat orang anak. Dua anaknya sudah merantau, sedangkan dua lainnya masih bersekolah dan tinggal bersama beliau di rumah. Pekerjaan sehari-hari Kak Micel adalah berdagang rempah-rempah di Pasar Kabanjahe.

Bagi saya, sosok Kak Micel adalah seorang wanita tangguh dan penuh iman.

Ia juga memiliki raut wajah yang lembut dan paras yang cantik. Selama kurang lebih tiga hari tinggal bersama keluarga di rumah itu, kami banyak bercerita.

Kami para suster menceritakan pengalaman panggilan kami. Dan begitu juga Kak Micel yang membagikan pengalaman hidupnya dalam berkeluarga.

Di Pasar Kabanjahe, tempat Kak Micel berdagang sehari-hari. (Sr. Tarsisia Turnip SFD)

Buah ketekunan

Kisah hidupnya sangat menyentuh dan membuat saya sungguh terharu melihat perjalanan hidupnya.

Kak Micel dulunya seorang Protestan. Namun, setelah menikah dengan suaminya, ia memutuskan mengikuti keyakinan suaminya, yaitu Katolik. Sejak awal, ia sudah mengetahui bahwa keluarga suaminya bukan keluarga yang rajin pergi ke gereja.

Ia juga mendapat tekanan dari keluarganya sendiri agar tidak meninggalkan keyakinan sebelumnya. Namun, ia memiliki keyakinan bahwa ia dapat mengubah kebiasaan buruk di tengah keluarga suaminya.

Perjalanan rumahtangganya tidaklah mudah. Suaminya memiliki kebiasaan yang kurang baik, bahkan malas pergi ke gereja. Suatu ketika, Kak Micel pernah mengajak suaminya pergi ke tempat perpulungan (doa lingkungan), tetapi jawaban suaminya sungguh menyakitkan hatinya. “Kalau mau pergi, tidak usah mengajak saya. Bawa saja anak-anak dan urus sendiri di sana.”

Walaupun mendapat perkataan yang menyakitkan, iman Kak Micel tidak pernah goyah. Beliau juga pernah merasakan kepedihan yang luar biasa. Uang yang seharusnya digunakan untuk modal berjualan di pasar justru dihabiskan oleh suaminya. Bahkan suaminya pernah berkata: “Apa yang kamu dapat dari gereja? Uang tidak ada kamu dapat.”

Dengan tenang Kak Micel menjawab: “Memang saya tidak mendapat uang, tetapi saya mendapat hati yang sabar. Kalau saya tidak ke gereja, mungkin saya sudah habis kesabaran dan menghabisi kalian semua yang ada di rumah ini.”

Saya sangat kagum melihat ia yang tidak pernah menyerah menghadapi keluarga atau pun membalas perlakuan suaminya. Ia tetap menjalani hidup dengan tabah dan penuh iman.

Berkat ketekunan dan kesabaran Kak Micel, usaha yang ia lakukan perlahan-lahan mulai membuahkan hasil. Melalui kesaksian hidup dan doa-doanya, hati suaminya mulai berubah dan meninggalkan kebiasaan buruknya.

Enam tahun sebelum suaminya meninggal, semua kebiasaan buruk itu berubah total. Suaminya mulai rajin pergi ke gereja, bahkan menjadi pribadi yang sangat taat.

Saat ia menceritakan hal itu, saya melihat ada rasa haru dan syukur dalam dirinya. Memang ada kesedihan, karena harus kehilangan suami tercinta. Tetapi di balik kesedihan itu, ia bersyukur karena Tuhan telah mengubah hati suaminya sebelum berpulang kepada Bapa di surga.

Mengikuti Program Safari Panggilan di Paroki Kabanjahe. (Sr. Tarsisia Turnip SFD)

“Santa Monika” zaman ini

Bagi saya pribadi, Kak Micel adalah sosok “Santa Monika” di zaman ini. Santa Monika, dengan airmata, doa, dan kesabarannya, terus mendoakan pertobatan putranya, St. Agustinus, hingga akhirnya mengalami pertobatan. Demikian juga Kak Micel. Ia tidak mengubah suaminya dengan kemarahan atau paksaan, melainkan dengan ketekunan doa, kesabaran, dan teladan hidupnya.

Pengalaman tinggal bersama beliau membuat saya banyak berefleksi dalam menjalani panggilan hidup saya. Sering kali saya mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan kecil, mudah kecewa, atau kehilangan semangat ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Melalui kisah hidup Kak Micel, saya belajar bahwa hidup memang tidak selalu mudah, tetapi Tuhan selalu memberi kekuatan bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Saya juga semakin memahami bahwa panggilan hidup membiara bukan hanya tentang melayani dengan semangat dan ambisi, melainkan kesiapan untuk hadir, berjalan bersama umat, dan mendengarkan mereka.

Selama tiga hari tinggal di rumah Kak Micel, saya juga merasakan kasih seorang ibu. Ia menerima kami dengan penuh perhatian dan ketulusan, walaupun hidupnya sendiri penuh perjuangan.

Dari cara ia berbicara, menyiapkan makanan, dan melayani kami, saya melihat ketulusan hati yang begitu besar dan hangat. Saya merasa diterima seperti keluarga sendiri.

Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa menjadi keluarga tidak selalu harus karena hubungan darah, tetapi juga karena kasih yang tulus.

Pengalaman safari panggilan ini menjadi pengalaman yang penuh syukur bagi saya. Bukan hanya pengalaman untuk mengumpulkan dana, melainkan juga pelajaran hidup yang sangat berharga.

Melalui sosok sederhana seperti Kak Micel, saya melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan nyata. Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan hadir dalam kehidupan umat sederhana: dalam perjuangan mereka, dalam airmata mereka, dan dalam kesetiaan mereka untuk terus berharap kepada-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo