Suami Jadi Bidan Tolong Isterinya Melahirkan

0
171 views
Ilustrasi - Menembus hutan. (Ist)

Renungan Harian
Sabtu, 26 Juni 2021
Bacaan I: Kej. 18: 1-5
Injil: Mat. 8: 5-17
 
KETIKA saya bertugas di Merauke, saya bertemu dengan salah seorang bapak guru yang dulunya bertugas di pedalaman Papua.

Ia adalah salah satu dari sekian banyak guru-guru yang di kirim ke Papua pada zaman TriKora. Ia lalu berkisah tentang pengalamannya semasa menjadi guru di pedalaman.

Pada masa itu, di pedalaman belum ada tenaga kesehatan. Untuk mendapatkan bantuan tenaga medis harus ke kota kabupaten. Untuk mencapai kota kabupaten membutuhkan tenaga dan biaya luar biasa.

Biasanya pastor yang mengunjungi umat memberi pelayanan kesehatan. Namun sayang pada masa itu jumlah pastor juga masih amat terbatas, sehingga kunjungan pastor bisa terjadi satu tahun sekali atau paling cepat 6-7 bulan sekali.
 
Pada waktu itu, isteri bapak guru ini hamil tua dan saat melahirkan tinggal menghitung hari.

Bapak guru itu amat khawatir. Bagaimana bila saat melahirkan isterinya tiba, sementara untuk membawa isteri ke kota agar mendapatkan pelayanan dari tenaga kesehatan tidak mungkin dilakukan.

Kekhawatiran bapak guru semakin dalam, manakala mengetahui adat istiadat yang dianut masyarakat setempat berkaitan dengan seorang perempuan yang melahirkan.

Tata cara masyarakat setempat, seorang perempuan yang sudah tiba waktu melahirkan, ditempatkan di pondok yang berada di luar desa. Semua kebutuhan hidup disediakan oleh keluarga, dan ditinggal sendirian di pondok itu sampai melahirkan anaknya.

Hal itu dilakukan karena menurut kepercayaan mereka, kalau ada perempuan melahirkan di rumah akan membawa petaka.
 
Bapak guru itu tentu saja tidak rela dan tidak tega kalau memperlakukan isterinya seperti masyarakat setempat.

Maka bapak itu mempelajari buku tentang persalinan yang pernah didapatnya dari seorang pastor.

Meski tidak begitu mengerti istilah-istilah medis, tetapi bapak itu mencoba mengerti terutama lewat gambar-gambar yang ada di buku itu.

Dan saat yang dinantikan itu tiba. Isterinya sudah saatnya melahirkan. Bapak itu menolong isterinya sambil melihat buku supaya tahu apa yang harus dilakukan.

Bapak itu berkeyakinan bahwa Allah adalah bidan segala bidan, maka Allah pasti menolong isterinya melalui dirinya yang bodoh ini.

Apa yang dipikirkan manusia tidak mungkin bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.
 
Berbekal keyakinan itu, bapak itu dapat menolong isterinya melahirkan putura pertama mereka. Kebahagiaan dan syukur meliputi keluarga bapak guru itu.

Ia amat bersyukur atas rahmat yang luar biasa itu. Pengalaman syukur luar biasa itu semakin meneguhkan imannya.

Allah yang penuh kasih, dan sungguh-sungguh tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Pengalaman itu amat membekas dan selalu menjadi sumber kekuatan hidup dan keyakinannya, bahwa Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Kitab Kejadian, Sara yang secara manusiawi sudah tidak mungkin lagi mempunyai anak.

Namun Allah menjadikan Sara mampu untuk melahirkan anak dan kemudian menjadi ibu dari segala bangsa. “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau. Pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.”
 
Bagaimana dengan aku?

Pengalaman apakah yang semakin meneguhkan imanku?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here