Terpancang Aturan Buta

0
211 views
Ilustrasi: Aturan.

Puncta 29.10.21
Jum’at Biasa XXX
Lukas 14: 1-6

“KAMI dulu bingung, bagaimana harus mengatur jadwal. Pada hari Minggu pagi ada undangan di RT untuk kerja bakti. Kalau pergi ke gereja, rasanya gak enak dengan tetangga-tetangga yang kerja bakti. Tetapi kalau ikut kerja bakti, kami tidak bisa ikut ekaristi di gereja.

Untung sekarang ada misa Sabtu sore. Jadi kami bisa menjalani keduaya dengan baik.”

Demikian sharing Pak Pardi di lingkungan.

“Kita sekarang sudah dipermudah dan diberi kemungkinan-kemungkinan, jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukan kewajiban berdoa. Namun juga tetap bisa ikut terlibat srawung di tengah masyarakat,” kata Pak Ketua Lingkungan.

“Ya Pak, hanya orang malas saja yang punya banyak alasan sibuk ini sibuk itu dan tidak melakukan baik sembahyang di gereja maupun gotong-royong di lingkungan,” sahut Pak Guru.

Yesus melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Ada orang yang sakit busung air datang pada saat Yesus makan bersama kaum Farisi.

Maka Yesus bertanya kepada kaum Farisi, “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?”

Nampaknya Yesus tahu kalau kehadiran-Nya diamat-amati banyak orang. Maka Dia dengan sengaja mengajak mereka untuk berpikir. Dia ingin agar orang tidak terikat oleh aturan yang menyesatkan.

Kaum Farisi sangat kaku dengan aturan. Mereka merasa berdosa jika melanggar aturan. Lalu dengan mudah menyalahkan orang lain yang tidak mengikuti aturannya.

Lukas mengajak para pembacanya untuk berpikir kritis. Tidak hanya mengikuti aturan secara buta.

Yesus memancing mereka berpikir kritis. “Siapakah diantara kalian yang anak atau lembunya terperosok ke dalam sumur, tidak segera menariknya keluar, meski pada hari Sabat?”

Yesus mengajak kita membuat prioritas pilihan. Prioritas itu didasarkan pada semangat cintakasih dan belarasa demi keselamatan orang.

Keselamatan lebih diutamakan daripada taat pada aturan yang kaku.

Mengapa kita bisa maklum kalau mobil ambulance boleh menerebas aturan lalu lintas demi menyelamatkan nyawa manusia?

Karena keselamatan manusia lebih utama daripada aturan yang dibuat oleh manusia.

Kaum Farisi jatuh pada hukum yang kaku dalam penerapannya, sehingga mengabaikan prinsip yang lebih utama.

Marilah kita mengedepankan keselamatan manusia daripada kaku terhadap aturan buta.

Salatiga diguncang oleh gempa.
Orang berhamburan selamatkan nyawa.
Menolong jiwa manusia lebih utama.
Daripada ikut aturan kaku dan buta.

Cawas, mari berbelarasa….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here