Yesus, Paus, Bung Karno, dan Jokowi dalam Goresan Kwas Heribertus Hudi Anarto, Pelukis Realis Foto dari Solo

0
302 views
Yesus, Paus, Bung Karno, dan Jokowi di Tangan Pelukis Heribertus Hudi Anarto. (FX Juli Pramana)

SEBAGAI pelukis beraliran realis foto, Heribertus Hudi Anarto sangat menghidupi semangat bunyi pepatah lawas berbahasa Latin: “Ars longa, vita Brevis“. Artinya, “Seni itu berumur panjang, sedangkah umur manusia begitu pendek.”

Heribertus Hudi Anarto lahir 1 April 1954 di Solo, Jateng. Ia mengenyam pendidikan seni lukis dari Universitas Sebelas Maret Surakarta; di Fakultas Sastra; Jurusan Seni Rupa, Seni Lukis.

Pak Hudi seorang pensiunan guru seni lukis. Ia melakukan kreasi kreatifnya dengan cara melukis beraliran realisme foto grafis.

Pengalaman paling menggembirakan sebagai pelukis disyeringkan Pak Hudi kepada Sesawi.Net. Ia merasa bangga, ketika berhasil melukis gambar-gambar rohani; terutama lukisan Yesus dan Maria.

Kebanggaan melukis gambar rohani dirasakan oleh Pak Hudi karena dari situ lalu ada rezeki mengalir dari Tuhan.

Yesus yang menderita dan hati-Nya yang Mahakudus dalam karya lukisan aliran realis foto besutan pelukis Hudi Anarto di Solo. (FX Juli Pramana)
Lukisan Yesus hasil goresan tangan Hudi Anarto memainkan kwasnya di atas kanvas. (FX Juli Pramana)
Sosok Paus Benedictus XVI dalam kenangan pelukis Heribertus Hudi Anarto. (FX Juli Pramana)

Melukis mengembangkan talenta

Sebuah lukisan “Perjamuan Terakhir Yesus Bersama Para Rasul” dibuat Pak Hudi dan telah dipersembahkan kepada Gereja Santo Paulus Paroki Kleca Solo. Ini dia lakukan sebagai ungkapan syukur.

Pak Hudi telah purna tugas menjadi guru SMK Negeri 9 Surakarta. Sudah sejak sembilan tahun yang lalu. Mulai mengajar sejak tahun 1987, ia mengaku sukacita gembira atas talenta anugerahTuhan. Selain itu, juga bergembira karena telah dapat membagi ilmu kepada para murid yang belajar menekuni seni lukis di SMK Negeri 9 Surakarta.

SMK Negeri 9 merupakan sekolah jurusan seni rupa di Kota Surakarta.

Beberapa lukisan Pak Hudi telah dikoleksi oleh banyak pencinta seni. Beberapa lukisan Pak Hudi masih tersimpan di rumahnya Perumahan Griya Yasa RT 2, RW 9 Nomor C-48 Gentan, Baki, Sukoharjo. Tampak tertempel di dinding lukisan Bung Karno, Jokowi, Yesus, Paus Benedictus XVI, dan beberapa lukisan lainnya.

Lukisan Bung Karno hasil goresan kwas di tangan Heribertus Hudi Anarto, pelukis aliran realis foto di Solo. (FX Juli Pramana)
Sosok Jokowi menurut persepsi seni pelukis Heribertus Hudi Anarto. (FX Juli Pramana)

Di masa tuanya, Pak Hudi setia menjaga dan merawat isteri yang sakit stroke. Dikarunia dua anak dan satu cucu, Pak Hudi merasakan dirinya masih sehat.

Meskipun saat ini kegiatan melukis sudah berkurang, tapi ia masih bisa berolahraga dengan melakukan gerakan-gerakan ringan gerakan yang ada di beladiri tangan kosong Merpati Putih yang ditekuni sejak muda.

Pameran bersama puteri  Affandi

Sudah berkali-kali Hudi mengikuti pameran seni lukis. Hudi terakhir kali mengikuti sesi pameran ini tanggal 12-13 November 2022. Dilakukan dalam rangka mmperingati satu tahun komunitas pelukis Dulur’s OTS.

Di situ dihadirkan Dulur’s OTS Community & Duo Maestro Present “Kepahlawanan” dengan pameran lukisan  di Gedung Graha Paripurna DPRD Surakarta.

Saat pameran berlangsung, Kartika Affandi, puteri maestro pelukis Affandi juga hadir. Ia didampingi maestro pelukis dari Yogyakarta: Joko Pekik.

Di ajang pameran, Kartika Affandi membawa satu lukisan karya fenomenalnya ketika di Paris. “Satu lukisan dengan tema laki-laki di depan Gereja Katedral Notre Dame de Paris. Saya melukisnya juga on the spot,” tutur Kartika kala itu

Lukisan dengan titel Ngudang Putu hasil karya goresan kwas di tangan pelukis Heribertus Hudi Anarto di Solo. (FX Juli Pramana)
Burung betet klangenan dalam bingkai sebuah lukisan realis foto karya pelukis Heribertus Hudi Anarto di Solo. (FX Juli Pramana)

Kegembiraan melukis

Bagi Hudi, melukis bisa memberikan kegembiraan. Juga bagi orang lain yang mengapreasiasi lukisannya. Harapannya pada dunia lukis, demikian kata Hudi, agar dunia lukis terus berkembang.

Meski para pelukis senior telah dipanggil Tuhan, tetapi pelukis-pelukis muda diharapkan terus bermunculan.

Ini seperti mengikuti :kebenaran” bunyi pepatah Latin “Ars longa, vita brevis“, maka inilah keyakinan Hudi. “Meskipun yang melakukan pekerjaan seni sudah tidak ada, tetapi masih ada generasi penerusnya dan karya-karyanya masih bisa diapresiasi” kata Pak Hudi.

Warisan karya seni senantiasa bisa dihayati. Tidak terbatas waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here