“Miss, Wait Ya! Ballpoint Saya Lost Neh!”

3
5,508 views

SEKALI waktu, saya tengah asyik berbelanja bersama istri di sebuah pusat perbelanjaan. Sementara istri baru menunggu antrian untuk membayar, mata saya terpaku pada pemandangan indah di depan mata: seorang perempuan cantik, masih muda, terlihat tengah mendorong kereta barang.

Lamunan saya terpotong oleh bisikan anak-anak seumuran kelas IV sekolah dasar. Ternyata mereka “menyapa” perempuan cantik itu. ” Miss, nanti saya akan membeli udang untuk cooking tomorrow.”

“Miss, bayam segini harganya lima ribu. Kemahalan nggak, ya?,” timpal yang lain.

“Miss, wait, ya. Saya mau mencari ballpoint baru. Ballpoint saya lost.”

Ooo, ternyata perempuan muda yang menawan itu berprofesi sebagai guru yang sengaja membawa murid-murid belajar “berbelanja”. Mungkin dalam rangka salah satu mata pelajaran di sekolah, entah memasak atau ekonomi.

Sekolah nasional plus

Saya tertegun sesaat. Bukan lantaran terpesona oleh pemandangan indah di depan mata, melainkan teringat lagi akan pengalaman masa lalu ketika masih mengajar di sekolah yang dengan bangga menyebut diri sebagai sekolah nasional plus. Di sekolah berlabel nasional plus ini, seakan sudah menjadi hukum wajib bagi kami untuk saling menyapa dengan sebutan Miss atau Mister.

Ini sesuatu hal yang baru bagi saya dan rasanya aneh, karena selama saya mengajar di sekolah-sekolah lain kami hanya menggunakan sebutan Bapak dan Ibu Guru. Panggilan Mister dan Miss hanya saya terapkan kepada beberapa guru asing yang berbahasa inggris.

Marilah kita seksama mencermati lingkungan sekitar kita.

Sebutan Miss dan Mister bagi guru-guru lokal yang berkewarganegaraan Indonesia kian menjadi hal yang lumrah di kalangan sekolah-sekolah yang mengaku sebagai nasional plus atau semacamnya. Sepertinya sebutan semacam ini menjadi prestise tersendiri bagi yang dipanggil begitu. Dengan dipanggil sebagai Miss, seorang guru perempuan merasa dirinya bukan guru biasa.

Begitukah?

Kultur setempat

Sebutan panggilan untuk guru erat terkait dengan kultur sosial setempat darimana guru itu berada. Mayoritas sekolah “unggulan” didirikan di lingkungan masyarakat ekonomi menengah ke atas yang penghuninya kebanyakan adalah keluarga muda. Mereka masih terpukau dengan kultur berbahasa asing terutama Bahasa Inggris. Eksesnya, mereka pun jadi merasa amat bangga jika setiap hari bisa menggunakan panggilan atau istilah bahasa Inggris yang ternyata sering tidak pada tempat dan momen pas.

Demi kepentingan pemasaran, tren itulah yang kini banyak diadopsi mentah-mentah oleh sekolah-sekolah baru itu. Bukan hanya untuk panggilan sebutan guru dengan Miss atau Mister, bahkan semua jabatan manajemen sekolah –sekalipun posisi ini dipegang WNI– juga menggunakan istilah bahasa asing. Kepala sekolah diganti dengan sebutan headmaster atau principal, wakil kepala sekolah dengan vice principal, dan sebagainya.

Bukannya ini sesuatu yang salah, tetapi tidak patut jika digunakan dalam konteks komunikasi dengan berbahasa Indonesia. Istilah asing sepatutnya digunakan dalam konteks berbahasa asing yang sama.

Yuk, berbahasa Indonesia yang baik

Sebagai institusi pendidikan nasional yang masih ada dalam naungan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, seharusnya sekolah menjadi contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar yang sesuai dengan konteks komunikasinya. Jangan sampai kita membuat bingung para murid atau bahkan ikut mendukung budaya gado-gado yang jelas tidak enak didengar kedua kuping kita. Jika sekolah tidak bisa lagi menjadi contoh yang benar dalam pemakaian bahasa, siapa lagi yang akan mengajari para murid?

Pernah saya bertanya dengan beberapa teman ekspatriat  yang mengajar di sekolah, apakah mereka lebih senang dipanggil dengan Mister atau Miss plus nama keluarga, atau dengan Bapak atau Ibu. Mereka tersenyum dan mengaku lebih menyukai dipanggil Bapak/ Ibu plus nama mereka sendiri. Dengan dipanggil sebagai bapak atau ibu, mereka merasa diterima sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia dan sebagai pribadi.

Jangan sampai semua anak didik tiba-tiba menjadi “Cynthia Laura”:  “Hi, saya Cynthia Laura, sii yubaiiii… baiiii… semuaa.. “

Oh mae Got, ada negara Cynthia Laura Laura neh….

Photo credit: Mathias Hariyadi

3 COMMENTS

  1. Dalam beberapa hal mungkin ada benarnya kita tidak mencampur aduk pemakaian bahasa sehingga tidak muncul bahasa ‘gado-gado’. Tetapi mungkin itu adalah langkah awal untuk mengenalkan bahasa asing khususnya bhs inggris pada usia dini. Lantaran tidak bisa full berbahasa inggris jadinya ya…masih campur aduk. Sudah saatnya bahkan mungkin sedikit terlambat kita menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari-hari. Selama ini bahasa inggris sudah diajarkan sejak SD sampai SMA bahka PT tetapi tetap saja kita masih tertinggal dalam berbahasa ini 🙂

    • Begitulah kalau kita mengadopsi secara bulat-bulat bahasa Inggris ke dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru yang sudah menikah tetap saja maunya dipanggil MISS. Bisa celaka anak-anak kita nanti. Yang seharusnya mendapat ilmu, baik sesuai literatur maupun pengalaman, harus dipangkas karena sebutan “MISS”. Kata “IBU (guru)” lebih berkesan mengayaomi, bukan? Wajar bila tren perkembangan anak muda sekarang “sangat luar biasa”. Termasuk moral.

  2. Miris ketika nilai yang terkandung dalam kata “Guru” seolah olah pudar diganti dengan sebutan “miss” atau “Mister”, setiap orang bisa menjadi ‘Miss” atau “mister” tapi tidak setiap orang dapat menjadi “GURU”, kata “GURU” dikenal sejak lama bukan hanya dibidang pendidikan tetapi juga dalam agama,dimana guru ditempat di posisi yang terhormat. Disini kita berharap mereka yang menjadi pendidik dan pengajar dapat menjadi GURU bagi anak didiknya, bukan sekedar miss atau mister mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here