14 Tahun Dikabarkan “Hilang”, Susahnya Mencari Lokasi Desa Asal (2)

0
206 views
Mendaki perbukitan untuk menemukan lokasi di mana keluarga pekerja migran ini berasal. (Ist)

BEBERAPA hari kemudian, saya lalu mendapat WA dari seseorang yang mengaku relawan dari Oenlansi dan dia mengatakan bahwa dia masih keluarga korban.

Dalam sekejap, saya langsung berkomunikasi dengan relawan tersebut menyangkut anak yang hilang itu.

Awal bulan Desember 2018 yang lalu, kebetulan saya ada jadwal berkunjung ke Paroki Oenlansi yaitu di Stasi Obibi.

Romo Eko Aldianto O.Carm dari Komisi KKPPMP KWI yang sedang mengadakan kunjungan ke Kupang langsung saya gamit dan diajak sekalian berjumpa dengan umat Stasi Obibi dalam rangka sosialisasi tentang bahaya adanya pratik perdagangan orang.

Setelah acara sosialisasi, saya langsung minta bantuan pastor Paroki Oinlansi Romo Sebatianus Kefi untuk mencari Desa Kualiu di mana mungkin orangtua J itu –siapa tahu—memang berasal dan berada.

Ketika saya menyodorkan alamat tersebut, reaksi yang muncul adalah heran dan terkejut.

“Wah saya agak asing dengan nama desa ini. Sebaiknya, bisa ditanyakan kepada  Sekretaris Paroki saja,” ungkapnya.

Lalu petugas Sekretariat Paroki Oenlansi menjelaskan kepada penulis demikian ini.

“Suster…  desa ini sangat jauh sekali dan jalannya sangat jelek juga berbatu-batu,” katanya.

Maka saya dengan spontan, saya langsung bereaksi demikian. “Justru itu, saya sengaja datang ke sini mau mencari orangtuanya supaya remaja pekerja migran ini bisa dipulangkan,” kata saya.

“Baik Suster … Nah, kalau begitu, mari kita bersiap hati agar bisa menelusuri alamat ini,” kata Romo Paroki.

Sekali lagi, Romo itu kembali mengatakan hal ini: “Suster harus tahan banting ya?”

Dan saya pun hanya senyum saja. Dalam sekilas, akhirnya kami langsung tancap gas meluncur ke desa tersebut.

Memang medannya sangat sulit dan berbahaya. Kami harus rela naik turun bukit dengan jalan yang masih berbatu-batu; terkadang mobilnya tidak mampu “mendaki”, sangat susah bisa melampui ketinggian sehingga harus diderek naik.  

Jika terlambat ganti gigi dalam posisi ketinggian itu, maka akan menjadi sangat berbahaya.

Dihibur oleh pemandangan indah

Tak diragukan lagi, mobil pastoran tersebut memang sangat andal terbiasa dengan medan yang berat seperti di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini.

Luar biasa perjalanan penelusuran ini dengan disajikan pemandangan yang sangat indah dan luar biasa bukit-bukit nan cantik dan elok serta tanaman bunga hutan dan liar yang sangat luar biasa.

Inilah salah satu hiburan saat mencari mutiara di tumpukan jerami selalu ada penghiburan dan hadiah-hadiah kecil dari Sang Ilahi.

Jalan yang berliku naik turun bukit ini tidak membuat takut atau pun panik, meskipun kadang sport jantung juga, karena di kanan-kiri jalan yang tersaji di depan mata adalah jurang.

Permukiman penduduk di sebuah dataran tinggi di Kualiu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. (Sr. Laurentina PI)

Syukur pada Allah, akhirnya perjuangan yang sangat menantang itu menemukan hasilnya, sekitar jam 17.30 kami menemukan desa tersebut.

Dan kami pun parkir di tempat yang aman dan nyaman setelah itu menghela nafas lega, maka kami pun langsung bertanya pada orang di sekitarnya dan dengan kesederhanaan dan keramahannya mereka menunjukkan suatu tempat.

Rumah di atas bukit

Tempat tersebut adalah sebuah bukit. Saya sempat heran dan bertanya-tanya? Ha… kok rumahnya bertengger di atas bukit. Memangkah Bapak TM tinggal di atas? Bisakah ia turun ke sini?

Mereka langsung menjawab: “Tidak bisa, Bu Suster, ia sudah tidak bisa jalan.”

Maka,  saya pun tanpa pikir panjang langsung naik dan akhirnya Romo Sebast dan Romo Eko Aldianto O.Carm juga mengikuti saya.

Kami berempat naik ke atas bukit tersebut; dengan perjuangan yang  sangat berat dan nafas ngos-ngosan akhirnya kami pun berjumpa dengan orang tua kandung J yaitu Bapak TM. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here