Kantin Kejujuran

0
1,531 views

Para pencinta, pemerhati dan pelaku pendidikan

Cucu saya yang duduk di kelas lima SD Tarakanita Serpong, Tangsel,  berceritera, di sekolahnya disediakan galon air kejujuran. Setiap siswa yang mengisi botol minumnya dengan air dari galon tsb harus menggantinya dengan uang Rp. 1.000,-. Tanpa diawasi dan dijaga, hanya mengandalkan kejujuran siswa. Cerita ini membawa ingatan saya pada satu bait tembang macapat Serat Wulangreh  karya sastra  Sri Susuhunan Pakubuwana IV, yang mengajarkan hidup harmoni atau sempurna dengan menjalankan hidup yang benar:

Ngelmu iku (Ilmu/hakekat itu diraih)

Kalakone kanthi laku (dengan cara menghayatinya dalam setiap perbuatan)

Lekase lawan kas (dimulai dengan kemauan)

Tegese kas nyantosan (Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama)

Setya budaya pangekese dur angkar (Teguh membudi daya menaklukkan semua angkara)

Banyak lembaga pendidikan dasar, menengah dan atas, mungkin juga tingkat selanjutnya lebih memfokuskan pengkajian ilmu pengetahuan tanpa disertai  ajaran moral dan budipekerti.  Pendidikan hendaklah mengusahakan secara maksimal untuk  memperkokoh karakter peserta didik.

Dengan kokohnya karakter (budi) peserta didik akan menjadi orang  yang terhindar dari  watak angkara, nafsu memperalat orang lain untuk kepentingan diri atau kelompoknya, korupsi dan nafsu menguasai, menjajah bahkan menindas.  Diharapkan, kelak peserta didik akan menjadi orang yang mengusahakan dan memperjuankan kesejahteraan bersama.

Pendidikan di sekolah tidak hanya terbatas kepada penyaluran informasi dari guru kepada murid, tidak hanya mencakup pengajaran dan pembekalan akal budi ataupun pemikiran peserta didik  dengan informasi yang sebanyak-banyaknya. Pembekalan hendaknya disertai  pembangunan, dan pembentukan  iman dan spiritualitasnya. Artinya tidak hanya mencakup pengajaran agama secara teoritis, tetapi juga pembentukan watak, karakter dan moralitas tiap-tiap peserta didik.

Bagaimana sekolah-sekolah kita menerapkan cara pendidikan Katolik dalam kehidupan belajar dan mengajar; antara para murid, guru, orangtua, kepala sekolah, yayasan dan pastor?

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here