5W+1H Kitab Suci dan Komunitas Litteras Nosti (KLN) Paroki Pringgolayan, Bantul

0
733 views
Komunitas KLN Paroki St. Paulus Pringgolayan Bantul bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (Dok. Komunitas KLN)

UMAT Katolik pasti ada yang sudah pernah mendengar atau membaca sebuah pernyataan (aforisme) terkenal yang pernah dicetuskan oleh St. Hieronimus.  Bunyinya demikian: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est).

St. Hieronimus adalah orang kudus dalam tradisi Gereja Katolik yang sangat besar perannya bagi perkembangan Kitab Suci. Ia melakukan terjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin yang sering disebut Vulgata.

Dilansir dari http://www.indonesianpapist.com, pada tanggal 14 November 2007, Paus Benediktus XVI memberikan audiensi umum mengenai St. Hieronimus.

Beberapa kutipan dari audiensi itu antara lain:

Cinta penuh gairah akan Kitab Suci oleh karena itu meresap ke seluruh hidup Hieronimus, sebuah cinta yang selalu ia cari untuk diperdalam pada orang beriman.

 Kepada salah seorang puteri rohaninya, ia menganjurkan, Cintailah Kitab Suci, dan kebijaksanaan akan mencintai Engkau; cintailah dia dengan mesra, dan ia akan menjaga engkau; hormatilah dia, dan engkau akan dibelai olehnya. Semoga bagimu ia menjadi seperti kalung dan anting-anting.”

Dan lagi, Cintailah ilmu tentang Kitab Suci dan engkau tidak akan mencintai sifat-sifat daging yang buruk.”

Bagi Hieronimus, kriteria fundamental dalam menafsirkan Kitab Suci adalah keharmonisan dengan Magisterium (Kuasa Mengajar) Gereja. Kita tidak pernah dapat membaca Kitab Suci seorang diri karena kita akan menemukan terlalu banyak pintu tertutup dan akan terlalu mudah tergelincir ke dalam kesesatan.

Ilustrasi: Kitab Suci (Ist)

Kitab Suci (Alkitab) yang umumnya dipakai oleh umat Katolik saat ini terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (dalam terjemahan baru) yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI-Gereja Protestan) ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia (LBI-Gereja Katolik).

LBI yang merupakan lembaga di  Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) serta tiap-tiap wilayah keuskupan telah kontinu melakukan berbagai program dan upaya agar Kitab Suci semakin dekat dan dihayati oleh umat setiap hari.

Termasuk salah satunya lewat berbagai kegiatan tiap bulan September yang dikenal sebagai Bulan Kitab Suci Nasional.

Beberapa upaya LBI tersebut misalnya, pada tahun 1975 LBI menyarankan agar setiap paroki mengadakan misa syukur pada bulan Agustus.

Kemudian,  pada tahun 1976 dilakukan pengiriman bahan-bahan secara langsung kepada pastor-pastor paroki untuk digunakan pada peringatan Hari Minggu Kitab Suci.

Tujuan dari Hari Minggu Kitab Suci, yaitu:

  • Mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah.
  • Mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya.

Selanjutnya, pada sidang KWI tahun 1977 (dulu KWI masih disebut MAWI = Majelis Agung Waligereja Indonesia), para uskup menetapkan hari Minggu pertama bulan September sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional.

Lalu, karena antusiasme dari kalangan umat maka kemudian kegiatan ini dilakukan secara penuh selama bulan September.

Komunitas pencinta membaca Kitab Suci di Paroki St. Paulus Pringgolayan, Bantul, DIY.

Mencintai KS di Paroki St. Paulus Pringgolayan

Sejenak penulis ingin berbagi informasi tentang  kegiatan mencintai membaca Kitab Suci di kalangan umat Katolik di Gereja St. Paulus – Paroki Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Berawal dari gagasan beberapa umat dari Bidang Pewartaan (Kerasulan Kitab Suci) akhirnya terbentuk sebuah komunitas membaca Kitab Suci yang diberi nama “Komunitas Litteras Nosti (KLN).

Komunitas ini punya misi untuk menggerakkan umat agar secara rutin membaca Kitab Suci (Tiga bab per hari mulai Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu). Agar terkoordinasi maka para anggota diwadahi dalam sebuah grup WA dengan difasilitator oleh beberapa admin dan dibimbing langsung oleh pastor paroki, Romo  Agustinus Ariawan Pr.

Komunitas KLN ini baru saja aktif secara resmi pada tanggal 1 Juni 2018 lalu, dan sampai saat ini sudah terdaftar sebanyak 57 orang anggota.

Puji Tuhan, pada tanggal 9 Juni 2018 lalu,  para anggota komunitas dapat bertemu dengan Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko Pr dan bahkan sempat diberkati oleh Bapa Uskup secara langsung.

Lah, terus apa hubungannya dengan judul 5W+1H di atas?

Seperti kita ketahui bersama bahwa Kitab Suci sering dipandang sebagai “berita” atau “kabar” gembira/baik/sukacita bagi umat Allah.

Sisi “berita” atau “kabar” ini yang akan sedikit Penulis singgung, khususnya yang ada kaitannya dengan bidang jurnalisme.

Apa itu berita?

Ada yang mengatakan bahwa istilah “berita” berasal dari kata Sanskerta, vrit (ada atau terjadi) atau vritta (kejadian atau peristiwa).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berita adalah “cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.

Lyle Spencer, dalam buku News Writing, menyebutkan, berita merupakan kenyataan atau ide yang benar dan dapat menarik perhatian sebagian besar pembaca.

Doug Newson dan James A. Wollert dalam Media Writing: News for the Mass Media mengemukakan bahwa berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat.

Sementara itu, menurut Eric C. Hepwood, berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting dan dapat menarik perhatian umum.

Tentu saja, dalam konteks ini, penulis tidak menempatkan Kitab Suci “semata-mata” sebagai sebuah produk berita belaka.

Penulis cuma ingin mencoba perspektif lain dalam melihat sebuah teks Kitab Suci.

Jika sebelumnya di awal disebutkan tentang ungkapan terkenal dari seorang St. Hieronimus, maka pada bagian ini kita perlu tahu juga sebuah prinsip terkenal dalam dunia jurnalistik, yang salah satu produknya adalah berita atau news.

Dalam sebuah produk berita ada istilah yang sangat terkenal di kalangan jurnalis yakni unsur 5W+1H.

Unsur 5W+1H ini terdiri dari What, When, Where, Who, Why, dan How.

Jika dijabarkan maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • What: Peristiwa apa yang terjadi (unsur peristiwa).
  • When: Kapan peristiwa terjadi (unsur waktu).
  • Where: Di mana peristiwa terjadi (unsur tempat).
  • Who: Siapa yang terlibat dalam kejadian (unsur orang/manusia).
  • Why: Mengapa peristiwa terjadi (unsur latar belakang/sebab).
  • How: Bagaimana peristiwa terjadi (unsur kronologis peristiwa).

Berdasarkan penjabaran unsur 5W+1H di atas, coba mari kita amati dari salah satu perikop Kitab Suci. Misalnya, kutipan bacaan hari ini (Jumat, 15/06/2018) dari 1 Raj 19.9a, 11-16.

Pada perikop Kitab Suci di atas kita dapat membaca dan merenungkan tentang:

  • What (adanya peristiwa perintah Tuhan kepada Nabi Elia lewat sebuah firman);
  • When (terjadi pada zaman Raja Ahab);
  • Where (pada sebuah gua di Gunung Horeb);
  • Who (Tuhan dan Nabi Elia);
  • Why (Tuhan menyampaikan firman-Nya karena kekhawatiran yang dialami oleh Nabi Elia);
  • How (Nabi Elia pergi ke Gunung Horeb dan bermalam di sebuah gua.

Kemudian datanglah firman Tuhan kepadanya dan bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

Nabi Elia kemudian menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Kemudian terjadilah dialog antara Tuhan dan Nabi Elia, di mana pada akhirnya Tuhan memerintahkan Nabi Elia pulang ke Damsyik untuk mengurapi beberapa orang sesuai petunjuk Tuhan.

Nah, pada akhir tulisan ini, penulis ingin mengajukan pertanyaan juga kepada para pembaca. 

  • What: Apakah Anda sudah rutin melakukan kegiatan membaca Kitab Suci secara khusus? Ataukah masih jarang atau bahkan tidak sama sekali?
  • When: Kapan biasanya kegiatan membaca Kitab suci dilakukan? Pagi? Siang? Malam? Jam? Apakah Anda sudah menyediakan waktu secara khusus untuk membaca Kitab Suci?
  • Where: Di mana tempat membaca? Rumah? Kantor? Gereja? Anda membaca lewat media buku cetak Kitab Suci ataukah lewat media lain?
  • Who: Anda biasanya membaca secara pribadi ataukah bersama orang lain? Apakah Anda bergabung dalam suatu komunitas/grup membaca Kitab Suci?
  • Why: Kenapa Anda akhirnya bisa rutin membaca Kitab Suci? Atau sebaliknya, kenapa Anda jarang membaca Kitab Suci?
  • How: Bagaimana proses atau momen yang terjadi sampai Anda bisa tergerak untuk mulai secara rutin membaca Kitab Suci?

Selamat merenungkan. Mari mengenal Kristus dengan membaca Kitab Suci. Mari bergabung dengan komunitas Kitab Suci yang ada.

Semoga St. Hieronimus mendoakan Anda. Tuhan memberkati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here