Ada Apa Zaman Now dan Zaman Kita Dahulu?

1
201 views
Ilustrasi: Para murid SD 01 Nanga Mahap mengikuti Rekoleksi Masa Prapaskah. (Sr. Ludovika OSA)

BERAWAL dari kata Zaman Now. Saat mendengar kata zaman now. Dan sering terdengar zaman now. Dan akhirnya apa pun selalu diikuti zaman now

Siapa pencetus pertama tidak tahu. Yang jelas, semua kalangan kini suka menggunakan istilah zaman now.

Ada apa dengan zaman now? Ketika menempel pada orangtua zaman now, anak zaman now, guru zaman now. Ternyata ada tuntutan dan tuntunan untuk menyikapi hal ini bagi kami yang menyebut guru.

Guru yang zaman now. Tuntutan berkenaan dengan anak yang kita didik dan dampingi adalah anak-anak zaman now.

Anak zaman now yang sudah tidak bisa kita siapkan menjadi tukang pos yang biasa dengan lagu Aku Tukang Pos. Ini karena pekerjaan itu sudah digantikan dengan SMS atau WA.  

Itu salah satu peluang kerja yang akhirnya harus hilang dari puluhan ribu peluang kerja lantaran kita sekarang ini sudah memasuki dunia siber. Tidak bisa konsentrasi dan menerima dengan baik ketika guru bercerita.

Dulu, ketika kecil dan guru masih berstatus murid. Guru menegur, saya mendengarkan. Dulu, ketika menjadi murid  dan sekarang ketika nakal sehingga harus lapor orangtua, malah kena marah. Tetapi sekarang, kalian kena tegur guru padahal kalian salah, eh ada polisi datang ke rumah guru.

Dahulu memang di ujung rotan ada emas. Sekarang di ujung rotan ada rutan. Ketika anak dicambuk, itu menjadikan anak pinter dan berhasil. Namun sekarang, kalau guru memukul sekalipun siswa salah, tetap saja guru yang dianggap salah.

HAM yang menjadi tantangan bagi guru untuk mendisiplinkan anak. Dan masih ada kata dahulu dan dahulu yang lain yang sudah tidak bisa kita terapkan sekarang.

Inilah sebagian tantangan-tantangan kami para pendidik.

Akankah kita sebagai pendidik tetap akan mengunakan kata dahulu? Apalagi dalam proses pendidikan di kelas yang mau tidak mau, suka tidak suka mesti berbenah dan berubah.

Satu hal terjadi: anak di rumah sudah nonton TV dengan berbagai ukuran dan berbagai tontonan. Masing-masing kanal stasiun menawarkan program yang berbeda dan menarik. Belum iklan yang menggiurkan. HP dengan berbagai game dan hal-hal yang menarik. Sementara guru cerita tanpa kelihatan warna dan datar-datar saja.

Menuntut berubah

Zaman now menuntut berubah dan berbenah, namun sekaligus menuntun kita harus mampu  menjadi guru zaman now dan mendidik anak zaman now. Segala fasilitas dapat juga membantu kita untuk mendampingi dan mendidik anak zaman now.

Mengapa takut dan kuatir?

Ketakutan dan kekuatiran kita tidak mengurangi atau mengatasi masalah. Tuhan bersabda, jangan takut aku menyertaimu sampai akhir zaman mengapa takut dengan zaman now? Dan rahmat Tuhan cukup untuk kita.

Hanya akankah kita terlindas oleh ketakutan kita. Sementara di sekitar juga tersedia aneka solusi untuk mendampingi anak zaman now. Perkembangan teknologi yang pesat bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan membantu penyusunan perangkat pembelajaran serta perubahan KTSP ke Kurikulum 2013 menjadikan solusi dalam membekali anak agar bertumbuh dan berkembang keimanan yang  teguh, ilmu pengetahuan dan kepribadian. Untuk itu, diperlukan guru yang dapat menangkap peluang itu.

Harus melek teknologi

Melek teknologi dan mengimplementasikan Kurikulum 2013 dengan benar.

Tetapi, bagaimana mau melek teknologi, kalau sudah merasa alergi belajar atau anti teknologi?Bagaimana mengimplementasikan kurikulum dengan benar kalau mereka belum paham dan enggan untuk belajar.

Enggan untuk belajar karena belum mendapat pendampingan yang tepat. Yang membantu mereka paham akan pengimplementasian kurikulum tersebut.

Hal inilah yang menggerakan saya memotivasi dan memberi kesempatan mereka berlatih. Berlatih menjadi guru zaman now melek dan terampil menggunakan IT sebagai sumber belajar dan membantu penyusunan perangkat pembelajaran.

Kurikulum 2013 ini sudah mulai didengungkan dari tahun 2013. Awal-awal diperlakukan sempat dengan antusias memperiapkan diri namun menjadi hilang gairah dengan dikeluarkan Permendikbud 160/2014.

Kami “melupakan” Kurikulum 2013 dantetap menjalankan KTSP. Dan ketika diperlakukan bertahap, kami pun mengikuti setengah hati; bukan karena tidak setuju, tetapi karena tidak tahu. Maka, meskipun kami menyatakan melaksanakan Kurikulum 2013, roh dan semangatnya KTSP.

Pelatihan demi pelatihan yang diselenggarakan pihak pemerintah dan swasta lewat workshop, seminar, lokakarya yang bertema Kurikulum 2013 sudah kami ikuti.

Namun kami yang ditugasi yayasan mendampingi para guru melihat merasakan dan mengalami bahwa kami juga belum mengusai kurikulum tersebut. Tidak hanya guru yang belum paham, kepala sekolah juga belum paham.

Hal ini juga yang menjadi pencetus kami untuk menyelenggarakan Pelatihan Implementasi Kurikulum Abad 21 bersama nara sumber yang luar biasa.

Mengapa luar biasa? Saya sendiri ikut pelatihan Kurikulum 2013 dan sudah berulang kali menjadi Instruktur Kepala Sekolah Implementasi Kurikulum 2013.

Saya sedikit paham dan sudah mendampingi Kepala Sekolah di tempat saya bertugas di Kabupaten TTU, Timor, NTT. Namun kurikulum tersebut masih mengalami revisi yang membuat kami mesti mengikuti perubahan demi perubahan. Kadang yang sudah direvisi belum terpelajari sudah mengalami revisi lagi.

Tidak ada yang terlambat untuk sesuatu yang baik, kalau kita mau memulai dan terus melakukan perbaikan demi sebuah kualitas pelayanan dalam pendidikan. (Berlanjut)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here