Ajaran-ajaran Sesat dalam Sejarah Gereja

0
4,115 views
Ilustrasi (Ist)

INI adalah ringkasan materi seminar internal tentang “Ajaran-ajaran Sesat dalam Sejarah Gereja” yang berlangsung di Aula Paroki St. Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tanggal 21 November 2016 lalu.

Baca juga:  Senin 21 Nov 2016 Malam: Seminar KS tentang Ajaran-ajaran Sesat dalam Gereja

Mari kita perhatikan beberapa istilah berikut ini:ajaran-sesat-gereja

  • Apa itu bidat dan bagaimana sifatnya?
  • Mengapa bidat muncul?
  • Contoh bidat di dalam Gereja.
  • Mau kita apakan bidat itu?
  • Apa ada bidat di dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia?
  • Sejumlah penanda dan cara menangani bidat.

Ulasan mengenai hal itu bisa dilihat pada buku Selilit Sang Nabi: Bisik-bisik tentang Aliran Sesat (Penerbit Kanisius: 2016)

Apa itu bidat

  • Aliran sesat dulu sering disebut dengan istilah bida’ah atau sekarang menjadi  bidat.  Dalam bahasa Inggris, istilahnya adalah heresy yang berasal dari kata Yunani hairesis: action of taking, choice).
  • Bidat adalah aliran, ajaran, paham, gerakan keagamaan yang dinilai oleh pemegang ortodoksi sebagai penyimpangan dari prinsip baku dan standar.
  • Bidat dilakukan oleh orang yang telah dibaptis secara sah, yang telah mengakui isi iman, tetapi kemudian menyangkalnya, dan keluar dari komunitas.

bidaah-charles-darwinCiri-ciri bidat

  • Merupakan kelompok minoritas dalam mayoritas.
  • Bidat biasanya membongkar ajaran ‘lama’ dan mengajarkan ajaran ‘baru’ dan berseberangan dengan tradisi ajaran konvensional.
  • Ajarannya bersifat ‘mengusik’ ajaran konvensional dan praksis agamanya sendiri.
  • Menjadikan komunitasnya eksklusif, merada diri paling puritan ‘asli’, berjiwa militant. Ibarat ada ‘Gereja baru’ di dalam Gereja Katolik.
  • Kelompok minoritas ini memiliki anutan dan tatacara sendiri.

Mengapa bidat sampai muncul?

  • Lembaga agama terlalu kaku, ‘established’, tidak inspiratif, lebih banyak merepotkan diri dengan unsur formal, yuridis, dan praktik beriman yang superfisial.
  • Awalnya, lembaga agama dengan gampangnya memberi stigma dan kemudian memojokkan kelompok kecil yang ‘berbeda’ ini. Kemudian aliran itu memutuskan keluar dari kelompok mayoritas, memisahkan diri dan membentuk komunitas baru.bidaah-galileo
  • Tokoh ‘kharismatis’ kelompok kecil ini  mengaku telah diilhami oleh otoritas tertinggi (absolut) demi ‘pemurnian’ lembaga agama. Ia atau mereka lalu  mengedepankan jalan lain ‘berbeda’ dari ajaran konvensional.
  • Ia atau mereka melakukan penafsiran secara baru atas Kitab Suci dan pengalaman rohani.
  • Terjadi ketidakkonsistenan plin-plan penghayatan iman orang-orang yang mengaku beragama.
  • Keprihatinan tokoh kharismatis atas kenyataan yang hidup dalam mayoritas, maka lalu menawarkan ‘jalan baru’.
  • Mencari jalan pintas dan instans dengan berlari ke jalan penghiburan dangkal.
  • Kerinduan akan ‘ratu adil’ di tengah beban hidup yang kian berat.bidaah-manichea
  • Memanipulasi (pemanfaatan) inkonsistensi psyche, alam dan dunia magis oleh orang tertentu dan bisa juga ada upaya untuk mencari penghasilan/keuntungan materi.
  • Mencari popularitas.
  • Kesalahan mengerti dan menafsirkan pengalaman kejiwaan, dlsb.

 

Contoh bidat dalam sejarah Gereja Katolik

Kita membedakan dua jenis bidat berdasarkan doktrin/ ajaran dan praksis/disiplin.

bidaah-diagramBagaimana harus bersikap?

Karena ‘menyesatkan,  kita lalu menyerahkannya pada lembaga pengadilan? Mengeluarkan ‘fatwa’ menolak keberadaan mereka atau malah kemudian melaukan ‘demo’ ke Keuskupan atau KWI?

Sebaiknya kita menenggang perbedaan, mengajukan sikap toleran, dan tidak menganggap diri sebagai satu-satunya pemilik dan  penafsir kebenaran.

bidaah-3Kasus di Indonesia

Saya tak berhak menghakimi aliran-aliran tersebut. Hanya mau sehati dengan Guru Kehidupan dari Nazareth yang pernah mengeluarkan peringatan: Ingat, awas terhadap para pengajar …ia bagaikan serigala berbulu domba…

Sejumlah penanda

Didache 11.5 – 11.11.

“….. Dia tidak tinggal di rumahmu lebih dari satu hari, atau dua hari jika terpaksa. Apabila dia tinggal selama tiga hari, dia adalah Nabi palsu.”

“…… Jika Rasul itu pergi, maka dia hanya mengambil roti sebagai bekal sampai dia menemukan tempat menginap yang lain. Sedangkan jika dia meminta uang, maka dia adalah Nabi palsu.”

  • Sering meramalkan tentang kegelapan, keruntuhan dan pemurnian dunia ini, supranatural.
  • Diberlakukannya aturan baru: kerudung, nama, pangkat, cincin, gelang, dan benda-benda ‘gaib’ seperti patung, mantra, dll.
  • Mendaku bahwa tokoh kharismatis tertentu mendapat ‘ilham’, ‘visiun’, ‘bisikan’ dari otoritas Hyang Suci.
  • Memanfaatkan instabilitas psyche, jiwa dgn kata-kata suci dan magis, sehingga tangis, guncangan, air mata, ketidakpantasan menjadi pisau pembelah pengalaman rohani.
  • Menjadi penghiburan dan pelarian bagi ‘penderita’, tidak kritis, menyepelekan akal budi.
  • Ditanamkan tradisi baru: Injil beda, Kitab Suci Plus atau Minus, dan ‘sang tokoh’ mula-mula berbicara atas nama Hyang Ilahi (Tuhan Jesus atau Bunda Maria), tetapi sebenarnya membesarkan dirinya sendiri, dan ujung-ujungnya uang.
  • Melegitimasi diri dengan Kitab Suci kanonik, dan yang biasa dirujuk adalah Daniel, Wahyu, kata-kata Tuhan Jesus yang ‘apokaliptik’.

bidaah-perikop-injilTakut menjadi penghayat Injil?

  • Iman kristiani sudah teruji selama 2.000 tahun, dibela secara heroik oleh para martir, confessores, dicintai oleh awam dan kaum religius secara total, dilayani secara tuntas oleh para hirarki yang bekerja sama dengan awam, dimatangkan oleh pelbagai konflik, perpecahan, penindasan, penganiayaan, dan penghinaan.

Pertimbangan

  • Agama Kristen pernah dicap sebagai ‘aliran sesat’ dalam Yudaisme.
  • “Sadarlah dan berjaga-jagalah. Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” (1 Ptr. 5:8-9).

Tolok ukur kebenaran secara formal

  • Kitab Suci Kanonik
  • Ajaran para Bapa Gereja
  • Kuasa Mengajar Gereja
  • Tradisi sehat
  • Credo (Syahadat Para Rasul)
  • Dalam Kerjasama dengan kolegialitas uskup
  • Kemaslahatan bagi paguyuban

Cara menangani bidat

  • Konsolidasi ke dalam melalui KBG.
  • Sharing pengalaman doa dan pendalaman iman, katekese.
  • Pelaksana jujur amanat Injil dan Rule of Faith.
  • Ber-267 sehat dengan pimpinan dan komunitas lain: follow your leader
  • Mengembangkan budaya dialog dan terbuka.
  • Beriman secara kritis, rendah hati, dan gembira.
  • Belajar sendiri, membaca, mistagogi (ongoing formation), bertanya pada orang yang memiliki integritas dan kredibilitas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here