Aksi dan Orasi Damai Merawat Kebhinekaan

0
1,015 views

BERSAMA  sejumlah aktivis kemanusiaan, pejuang HAM dan kerukunan, saya mengikuti dan mendukung Aksi dan Orasi Damai Merawat Kebhinekaan di Semarang. Aksi ini diselenggarakan masih dalam rangkaian safari untuk memperingati Hari Toleransi Internasional.

Ada pun komunitas-komunitas yang ikut di dalamnya adalah Jaringan Masyarakat Semarang untuk Keberagaman yang terdiri dari Gusdurian Semarang; LBH Semarang; eLSA Semarang; Ahlul Bait Indonesia – Semarang; Persaudaraan Lintas Agama (PelitA) – Semarang; Komunitas Pegiat Sejarah – Semarang; KP2KKN Jawa Tengah; Komunitas Payung; Paguyuban Pedagang Kaki Lima Semarang; LRC-KJHAM Semarang; Aliansi Mahasiswa Papua – Semarang; PMII Semarang; KSM Walisongo; Lakpesdam NU Jateng; GMNI Semarang; DPC Permahi Semarang; Dewan PPMI Kota Semarang; Persatuan Waria Semarang; dan Komisi Hubungan Antaragama Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) menyelenggarakan aksi damai, orasi dan pembacaan puisi.

Acara ini di gelar di Bundaran Taman Patung Diponegoro Jl. Pahlawan Semarang. Sejumlah aparat Polri berjaga mengamankan jalannya aksi tersebut dengan ramah.

Yunantyo Adi, aktivis kemanusiaan dan penggiat HAM serta Koordinator Paguyuban Masyarakat Semarang (PSM) HAM dan saya turut hadir menyertai dan mendukung aksi damai ini justru karena panggilan untuk hadir secara inkluaif, inovatif dan transformatif sesuai Ardas KAS 2016-2020. Para aktivis muda yang ikut aksi berkumpul di depan Kantor Pos Pleburan Semarang lalu berjalan sambil menyanyikan lagu Garuda Pancasila dengan iringan saksofon saya. Umi, mahasiswi UIN Walisongo memimpin menyanyi penuh semangat denga microphone-nya. Sesampai di Bundaran Air Mancur Jl. Pahlawan Semarang, tanpa harus mengganggu arus lalu lintas yang ada, aksi damai diawali dengan menyanyiulkan lagu Indonesia Pusaka masih dengan tetap diiringi alunan saxofon.

Orasi damai
Meski panas terik matahari menyengat, tak membuat para aktivis perdamaian dan persaudaraan lintas agama ini menyerah dalam menyampaikan niat dan amanat. Silih berganti mereka menyampaikan orasi damai. Lukas Awi Tristanto, misalnya, mengajak kita untuk terus berjuang melawan setiap diskriminasi. Promotor ekoinspirasi (menjadikan ekologi sebagai inspirasi kehidupan) yang juga Sekretaris Kom HAK KAS ini mengajak semua pihak membangun kerukunan berbasis ekologi.

Para hadirin dan masyarakat dibuat terpana penuh haru saat Ellen Kristi menyampaikan orasi damai mengenang Intan Olivia Marbun, anak balita yang jadi salah korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikemene Samarinda beberapa waktu lalu. Sambil menangis penuh cinta seorang ibu, ia menyerukan agar kekerasan dan intoleransi tak lagi terjadi di negeri ini.

Saya pun didaulat untuk berorasi. Saya menyampaikan pentingnya membuka kesadaran baru untuk membangun peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agamanya. Para mahasiswa dan orang muda merupakan elemen penting untuk menjadi kekuatan melawan kekerasan dan intoleransi bagi bangsa ini.

Orang muda dan mahasiswa harus terus bekerjasama secara lintas batas untuk memperkokoh kerukunan, perdamaian dan persaudaraan di bumi pertiwi ini. Tak perlu takut menghadapi ancaman dan tantangan yang menghadang. Maju terus pantang mundur.

Pembacaan Puisi
Tak ketinggalan, seniman dan budayawan Semarang Widya “Babahe” Leksono turut menyemarakkan aksi damai ini dengan membacakan puisi yang diambil dari karyanya. Dengan penuh ekspresi, aktivis kesenian dan kebudayaan di Taman Budaya Raden Saleh Semarang ini langsung ndheprok – duduk di jalan aspal yang panas – untuk menyampaikan puisinya dalam bahasa Jawa atau disebut Geguritan.

Geguritannya dibaca dalam nada dan diiringi alunan saksofom pula. Cuplikan Pangkur yang menyadarkan agar kita tidak terjebak dalam angkara murka, perlulah meredam hawa nafsu dalam diri sendiri. Jangan menjadi dungu karena kebohongan dan harus berwatak baik dan rendah hati. Atas permintaannya, saya mengiringi puisinya dengan alunan saxofon seirama nada-nada yang diteriakkannya.

berita-19-nov-2016-pic-2

Deklarasi
Aksi damai ini ditutup dengan membacakan deklarasi Rawat Keberagaman, Tolak Intoleransi. Pembacaan deklarasi dilakukan oleh Subhan Muhammad, Koordinator Gusdurian Semarang.

Tujuh pokok seruan deklarasi disampaikan.

  • Pertama, menolak segala bentuk tindakan intoleransi dan diskriminasi atas nama agama, suku, ras, warna kulit, jenis kelamin, pandangan politik, orientasi seksual, dan lain-lain.
  • Kedua, agar negara berperan aktif dalam rangka menjaga keberagaman.
  • Ketiga, bubarkan Ormas intoleran.
  • Keempat, tutup website dan akun media sosial intoleran.
  • Kelima, lindungi kelompok minoritas. Keenam, tindak tegas semua pelaku tindakan intoleran. Ketujuh, rawat keberagaman dan perdamaian, tolak intoleransi dan kekerasan.

Begitulah aksi damai itu berlangsung tertib tanpa mengganggu kepentingan umum dan arus lalu lintas jalan protokol di depan Kantor Gubernur dan DPRD Jateng tersebut. Semoga tetap rukun bersatu membangun peradaban kasih bagi siapa saja di mana saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here