Aku Bertemu Malaikat (6)

0
3,510 views

Pukul dua siang, kami tiba di Wonosari. Matahari marah. Panas membakar udara jalanan. Perut pun minta diisi. Kami melihat sebuah rumah bambu dengan atap mengepulkan asap putih.

Pikir kami pasti si empunya rumah sedang masak. Artinya, ada makanan di sana. Kami mengetuk pintu. Seorang ibu setengah baya menyambut. Kami sampaikan maksud kami. Kami lapar dan kami mohon dikasih secuil makanan.

Ibu menatap kami. Dalam bola matanya terbersit rasa kasihan mendalam. Tapi, ibu itu minta maaf karena tidak ada makanan siang itu. Yang ada hanya air minum. Itu pun baru dimasak. Kami paham dan melanjutkan langkah.

Ibu menangis
Saat kami meninggalkan rumah perempuan itu sejauh 500-an meter, mendadak terdengar orang berteriak dari belakang. Ternyata perempuan tadi mengejar kami dengan sepeda mininya. Ia berteriak-teriak sambil menangis. Ia meminta maaf karena benar-benar tidak mempunyai makan siang untuk disuguhkan.

Kami heran lalu hanyut dalam haru. Bola-bola kristal cair tanpa henti menyembul di kedua sudut mata perempuan itu. Sebagai pengganti rasa salah, ia membawakan tiga bungkus indomie dan uang lima ribuan kepada kami. Kami pun terima indomie itu. Tapi tidak dengan uang itu.

Kami komit untuk tidak menerima uang. Kami mengucapkan terimakasih. Perempuan itu pun pergi sambil terus sesenggukan. Di mataku, terasa ada gelimang air yang mau tumpah. T-e-r-h-a-r-u!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here