AM Putut Prabantoro: Syarat Tiga Sehat untuk Pimpin Indonesia

0
177 views
Foto bersama para tamu undangan dan peserta Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik, di RR La Verna, Pringsewu, Lampung, Sabtu (27/07/2019)

UNTUK memimpin Indonesia harus terpenuhi tiga sehat, selain memiliki karakter berkomitmen, berintegritas dan memiliki kesetiaan. Sehat jasmani, sehat rohani dan sehat ideologi adalah tiga sehat yang dimaksud.

Kekacauan yang terjadi dalam bangsa Indonesia belakangan ini antara lain terjadi karena sebagian pemimpin bangsa tidak memenuhi syarat tiga sehat itu.

Tiga sehat ini mendesak ditanamkan kepada generasi milenial karena mereka akan memimpin bangsa dan negara dalam kurun waktu 15 tahun lagi.

Demikian ditegaskan oleh Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) kepada para peserta Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik Kabupaten Pringsewu, Lampung, Sabtu (27/07/2019).

Hadir dalam acara tersebut:

  • Wakil Bupati Pringsewu DR. H Fauzi SE, Mkom, Akt. CA, CMA.
  • Anggota DPD/MPR RI Anang Prihantoro.
  • Kepala Kesbangpol Kabupaten Pringsewu Sukarman.
  • Kaban Pol PP Edi Sumber Pamungkas.
  • Ketua Pemuda Katolik Komda Provinsi Lampung Marcus Budi Santoso.
  • Ketua Pemuda Katolik Komcab Pringsewu Robertus Didik Budiawan C.
  • Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
Para peserta Kursus Kader Pancasilais berfoto bersama dengan Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI AM Putut Prabantoro narasumber) dalam Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik, Pringsewu, Lampung, Sabtu (27/07/2019).

Menurut Putut Prabantoro, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan benegara tidak mencapai kondisi yang ideal jika sebagian pemimpinnya tidak sehat.

Memenuhi tiga sehat ini adalah prasyarat utama untuk memimpin negara dan bangsa yang besar seperti Indonesia. Kesehatan jasmani tidak hanya secara fisik tidak sakit, tetapi juga faktor yang membentuk terbangunnya jasmani yang sehat, seperti pekerjaan sebagai contoh, juga harus sehat.

“Sehat rohaninya termasuk didalamnya juga sehat cara berpikir, mental dan kejiwaan. Kedua sehat ini yaitu jasmani dan rohani selalu terkait erat seperti dalam pepatah kuno mens sana in corpore sano yaitu dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Sehat rohani dan jasmani akan membentuk para pemimpin yang berkomitmen, berintegritas dan yang memiliki kesetiaan,” ujar Putut Prabantoro yang juga Ketua Presidium ISKA Bidang Komunikas Politik.

Kekisruhan yang terjadi dalam hidup bermasyarakat (sosial), hidup berbangsa dan bernegara belakangan ini dapat terjadi, masih menurut Putut Prabantoro, karena sebagian pemimpin bangsa tidak sehat secara ideologi.

Ada sebagian pemimpin negara atau bangsa ingin menggantikan ideologi Pancasila karena menganggap ada ideologi lain yang lebih sehat.

Indonesia juga sangat membutuhkan pemimpin yang berkomitmen, berintegritas dan memiliki kesetiaan. Meskipun tanpa ada orang yang menagih, seorang pemimpin harus memenuhi komitmen perkataannya.

Oleh karena itu, mereka yang memenuhi komitmen selalu dikatakan sebagai pemimpin yang berintegritas dengan menunjukkan satunya kata, perbuatan dan perasaan, yang ketiga unsur ini menjadi satu kesatuan tak perpisahkan.

“Yang lebih penting adalah seorang pemimpin bangsa harus memiliki kesetiaan harus terhaap bangsa dan negara demi sumpah atau janji yang telah diucapkannya. Tanpa kesetiaan, sumpah atau janji yang diucapkan tidak memiliki arti apa pun.”

“Belanda mungkin saja telah menjajah Nusantara selama ratusan tahun, karena sebagian pemimpin daerah atau kerajaan tidak memiliki komitmen, integritas serta kesetiaan. Dengan mudah akhirnya, Belanda menjalankan politik adu domba karena mereka tahu bangsa nusantara sebagai cara melanggengkan kekuasaannya,” jelas Putut Prabantoro.

Wakil Bupati Pringsewu Lampung, DR. H Fauzi SE, Mkom, Akt. CA, CMA menerima kenang-kenangan dari Ketua Pemuda Katolik Komcab Pringsewu, Lampung Robertus Didik Budiawan disaksikan oleh (ki-ka) Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI AM Putut Prabantoro (narasumber), Ketua Pemuda Katolik Komda Lampung Marcus Budi Santoso dan Anggota DPD / MPR RI Anang Prihantoro (narasumber), di RR La Verna, Pringsewu, Sabtu (27/07/2019).

Sebelumnya, anggota DPD/MPR RI Anang Prihantoro menyampaikan pemahaman terkait kepemimpinan yang memiliki prinsip. Anang menyebutnya Pemimpin Yang Berprinsip yakni pemimpin yang berjatidiri karena memegang teguh prinsip.

Menurut Anang, kepemimpinan yang berprinsip itu harus memiliki tiga nilai yakni nilai moralitas, nilai integritas, dan nilai kapasitas. Tanpa ketiga nilai ini, seorang pemimpin jatuh dalam gaya kepemimpinan kontraktual atau pemimpin yang melaksanakan tugas secara jual-beli.

Wakil Bupati Fauzi dalam pidatonya mengharapkan kader Pemuda Katoli dapat berperan aktif dan sebagai mitra pemerintah. Diharapkan semua kader organisasi di Bumi Jejama Secancanan (Pringsewu) dapat berperan aktif ikut membangun daerahnya dan bergotong royong sebagaimana mankna dari motto Kabupaten Pringsewu.

Bumi Jejama Secancanan berasal dari bahasa Lampung yang berarti Bumi Jejama Secancanan.

“Kita semua tanpa melihat organisasinya, harus berlomba untuk menjadi lebih baik ” ujar Fauzi.

Robertus Didik Budiawan menjelaskan Kursus Kader Pancasilais ini memang harus ditekankan. Toleransi menurut Didik Budiawan merupakan jiwa dari Bhinneka Tunggal Ika. Namun hal itu tidak hanya terkait dengan agama tetapi juga terkait erat dengan hubungan antar suku, ras ataupun kelompok.

Toleransi selalu meletakkan sikap saling menghormati sebagai nilai yang harus dijunjung tinggi oleh siapa saja yang akan hidup di Indonesia.

“Sikap toleransi hanya bisa berjalan jika diawali dengan sikap saling menghormati. Sikap toleransi itu akan berujung pada sila Persatuan Indonesia, satu bangsa yang diikat dengan bahasa, bendera dan tanah air yang sama,” jelasnya.

Penegasan juga diungkapkan oleh Marcus Budi Santoso sebagai Ketua Pemuda Komda Lampung, yang mengatakan kesatuan dan persatuan NKRI di bawah Pancasila merupakan hal yang harus diperjuangkan oleh kader Pemuda Katolik.

Setiap kader Pemuda Katolik harus melaksanakan motto yang ditanamkan oleh Uskup Indonesia pertama Mgr. Soegijapranata Sj yakni “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here