Artikel Kesehatan: Bayi Sifilis

0
89 views
Remaja 12 tahun terkena Congenital syphilis by E Kuerschner Ziegfeld Moulage

PADA hari Rabu, 27 Februari 2019 silam, telah diterbitkan perkiraan baru oleh HRP (UNDP, UNFPA, UNICEF, WHO and World Bank Special Programme of Research in Human Reproduction) bahwa ada lebih dari setengah juta (sekitar 661.000) total kasus bayi sifilis (congenital syphillis) pada tahun 2016, yang menghasilkan lebih dari 200.000 kelahiran mati (stillbirths) dan 150.000 kematian bayi baru lahir (neonatal deaths).

Apa yang harus dicermati?

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang ditemukan oleh oleh Fritz Schaudinn dan Erich Hoffmann pada 1905.  Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital.

Sifilis diyakini telah menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada tahun 1999, dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus menurun secara dramatis sejak ketersediaan penisilin di seluruh dunia pada 1940-an, angka infeksi kembali meningkat sejak pergantian milenium di banyak negara, terkadang muncul bersamaan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Dua dari tiga bayi sifilis lahir tanpa gejala. Gejala umum yang kemudian berkembang pada beberapa tahun pertama kehidupan meliputi hepatosplenomegali (70%), ruam (70%), demam (40%), neurosyphilis (20%), dan pneumonitis (20%). Sifilis kongenital tahap akhir dapat terjadi pada 40% bayi meliputi kelainan bentuk hidung, tanda Higoumenakis, atau persendian Clutton. Uji serologi untuk deteksi sifilis lebih mudah, ekonomis, dan lebih sering dilakukan.

Terdapat dua jenis uji serologi yaitu uji non-treponema yang meliputi Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Rapid Plasma Reagin (RPR), serta uji treponema yang meliputi Fluorescent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS) dan Treponema Pallidum Haem Agglutination (TPHA).

Sifilis kongenital atau bawaan dapat dicegah dan diobati, selama pemeriksaan laboratorium dan perawatan diberikan kepada wanita hamil secara lebih awal, yaitu selama perawatan antenatal. Risiko hasil buruk pada janin dapat diminimalkan, jika seorang wanita hamil yang terinfeksi sifilis, dapat melakukan pemeriksaan laboratorium dan menerima pengobatan yang memadai pada awal kehamilan, idealnya sebelum trimester kedua.

Pengobatan sifilis pertama yang efektif dengan obat Salvarsan, dikembangkan pada tahun 1910 oleh Paul Ehrlich, yang diikuti oleh penisilin dan konfirmasi keefektifannya dipastikan pada tahun 1943.

Sampai sekarang, pengobatan lini pertama bagi sifilis adalah satu dosis suntikan intramuskular Penisilin G atau satu dosis azitromisin telan.

Doksisiklin dan tetrasiklin adalah pilihan lainnya, namun karena terdapat risiko kelainan pada janin, dosisiklin dan tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk wanita hamil.

Ceftriakson, obat antibiotik generasi ketiga sefalosporin, mungkin saja seefektif obat berbasis penisilin.

Beban global sifilis bawaan menurun selama periode tahun 2012-2016, meskipun tidak signifikan, dari sekitar 750.000 menjadi 660.000 kasus. Perbaikan juga terjadi dalam uji saring, pengobatan, dan pengawasan sifilis pada ibu hamil.

Oleh sebab itu, sangat penting bahwa semua wanita usia subur dilakukan skrining sifilis dini dan lanjutan perawatan, sebagai bagian dari perawatan antenatal berkualitas tinggi.

Selain itu, sistem dan program kesehatan perlu memastikan bahwa semua wanita yang didiagnosis dengan sifilis, serta bayi mereka, dirawat secara efektif dan bahwa pasangan seksual mereka dijangkau untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatannya.

Program eliminasi sifilis kongenital dilakukan dengan menghilangkan penularan sifilis dari ibu-ke-bayi (Prevention of Mother-to-Child-Transmission of Syphilis) telah terjadi di beberapa bagian dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir 12 negara telah divalidasi oleh WHO, karena telah berhasil menghilangkan penularan sifilis dan HIV dari ibu ke anak.

Malaysia pada 8 Oktober 2018 menjadi negara pertama di Wilayah Pasifik Barat yang disertifikasi WHO, karena telah mampu menghilangkan penularan HIV dan sifilis dari ibu-ke-bayi.

Kajian Epidemiologi HIV Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI (2016), menyebutkan bahwa sekitar 10% perempuan Indonesia telah melaporkan mengalami sejumlah gejala terkait IMS, termasuk HIV dan sifilis.

Kasus sifilis yang dilaporkan di Indonesia tahun 2011 hanya 2.933 orang, meningkat terus pada tahun 2012, 2013, dan puncaknya pada tahun 2014 mencapai 8.840, sedangkan tahun 2016 telah turun menjadi 7.055 orang.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 Tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B Dari Ibu Ke Anak, menyebutkan bahwa target program Eliminasi Penularan di Indonesia adalah pada tahun 2022. Indikatornya berupa infeksi baru Sifilis pada bayi ≤50 kasus bayi terinfeksi Sifilis per 100.000 kelahiran hidup.

Kecurigaan infeksi sifilis pada bayi dilakukan dengan pemeriksaan serologi titer RPR bayi pada usia 3 bulan, dan dinyatakan terinfeksi Sifilis jika Titer bayi lebih dari 4 kali lipat titer ibunya, misal jika titer ibu 1:4 maka titer bayi 1:16 atau lebih.

Selain itu, juga bila titer bayi lebih dari 1:32. Target cakupan pemeriksaan ini tahun 2020 adalah 80% dari ibu hamil diperiksa Sifilis dan 100% ibu hamil dengan Sifilis diobati dengan Benzatin Penicilin G 2,4 juta IU suntikan IM dosis tunggal pada fase dini, diulang 2 kali dengan selang waktu satu pekan atau dirujuk ke RS.

Selain itu, 100% anak dari ibu Sifilis mendapat pengobatan dosis tunggal Benzatin Penicilin G 50.000 IU/kgBB suntikan IM, pemeriksaan titer RPR usia 3 bulan dibandingkan titer ibunya, atau pemantauan klinis sampai usia 2 tahun.

Target pencapaiannya adalah 95% anak dari ibu Sifilis hasil pemeriksaan titer RPR jadi negatif atau sama dengan titer ibu, anak sehat, tanpa cacat atau kematian.

Penanganan infeksi Sifilis pada bayi baru lahir dari ibu Sifilis, dengan RPR Titer < 1/8, diulang pemeriksaan titrasi minimal 3 bulan, bila perlu dengan terapi penicillin G Kristal aqueous 50.000 unit/kgbb/dosis suntikan iv tiap 12 jam selama 7 hari, dilanjutkan tiap 8 jam sampai genap 10-14 hari.

Jika cairan otak atau LCS tidak normal dan dicurigai bayi mengalami neurosifilis, penicillin G Kristal aqueous dinaikkan dosis menjadi 200.000 unit/kgbb/dosis suntikan iv tiap 6 jam selama 10-14 hari.

Target nasional 2022 adalah 100% ibu bersalin, termasuk ibu terinfeksi sifilis, dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan. Dengan demikian, infeksi sifilis pada bayi dapat ditangani dengan benar.

Sudahkah kita bertindak?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here