Artikel Politik: Cui Bono

0
154 views
Cicero

KETIKA itu, tahun 80 SM. Di pengadilan Roma, Marcus Tullius Cicero (106–43 SM) dengan suara lantang mengatakan “Cui bono?” Siapa yang mendapatkan keuntungan?  

Siapa yang mendapatkan keuntungan dalam kasus pembunuhan Sextus Roscius Senior itu. Cicero, pengacara muda (26), membela Sextus Roscius yang didakwa sebagai pembunuh ayahnya: Sextus Roscius Senior.

Pertanyaan seperti itu biasa ditanyakan oleh orang-orang Romawi kuno ketika berharap dapat menembus kabut kemungkinan penyebab masalah; membongkar misteri di balik sebuah peristiwa.

Karena itu, pertanyaan seperti itu biasa dikemukakan dalam kasus penyelidikan tindak kriminal.

Cicero mengatakan: “Cassius ille, quem populus Romanus verissimum et sapientissimum iudicem putabat, identidem in causis quaerere solebat, ‘cui bono’ fuisset. Sic vita hominum est, ut ad maleficium nemo conetur sine spe atque emolumento accedere.

(Terjemahan bebasnya: “Lucius Cassius yang terkenal, yang oleh orang-orang Romawi dianggap sebagai hakim paling jujur dan paling bijaksana, sering mengatakan dalam mengevaluasi kasus-kasus ‘siapa yang mendapat untung’ [cui bono fuisset]. Ini adalah cara manusia: tidak ada yang mengejar—melakukan–kejahatan tanpa harapan memperoleh keuntungan).”

Lucius Cassius adalah hakim Romawi yang sangat terkenal. Menurut Cicero, Lucius adalah hakim yang “jujur dan bijaksana.”

Nama Lucius Cassius sangat terkenal, karena ia hakim yang “langka.”

Di zamabln itu, ada banyak hakim. Akan tetapi, hakim yang jujur dan bijaksana sangatlah sedikit. Yang lebih banyak adalah hakim yang tidak jujur dan tidak bijaksana dalam mengambil keputusan.

Tetapi, tidak demikian Lucius. Ia mempunya kebiasaan, saat menangani sebuah kasus, terus-menerus bertanya, “Cui bono?”

Lucius mempunyai keyakinan—dalam suatu kejahatan atau skema politik—hal yang terbaik untuk mulai membongkar kasus itu adalah dengan melihat, tidak harus terhadap tersangka, tetapi orang-orang yang dalam posisi memperoleh keuntungan atau manfaat paling besar  dari kasus tersebut.

Ada tiga pertanyaan utama yang diajukan: “Siapa yang memperoleh keuntungan?”; “Bagaimana mereka mendapatkan keuntungan?”; dan “Dengan cara apa mereka mendapatkan keuntungan?”

Dalam rumusan lain, Harold Dwight Lasswell (1902-1978) seorang ilmuwan politik AS dalam bukunya Power and Society: A Framework for Political Inquiry (1950), yang ditulis bersama Abraham Kaplan, mengartikan politik dalam pengertian yang sangat pragmatis: siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana?

Seperti yang dijelaskan oleh Lucius juga Cicero, pengertian “mendapat apa?” tidak selalu berarti yang bersifat fisik, material, melainkan juga yang non-material.

Misalnya, kedudukan, jabatan, gengsi, harga diri, dan juga peluang untuk meraih kekuasaan di masa depan, serta peluang untuk korupsi.

Karena itu, sangat wajar kalau dalam usaha “mendapatkan sesuatu” itu, semua kekuatan politik saling bersaing di dalam suatu arena permainan politik dan (bukan tidak tertutup kemungkinan) akan menggunakan atau menghalalkan segala cara, mengutip istilah Niccolo Machivelli.

Termasuk dalam hal ini mengingkari kesepakatan.

Itulah sebabnya, Kaisar Romawi, Augustus (63SM-14M) pernah mengingatkan, “Hati-hatilah karena banyak perbuatan jahat dapat berasal dari permulaan yang baik.”

Padahal, dalam politik ada istilah yang disebut political virtue, kebajikan politik. Dengan kata lain, dalam berpolitik, kebajikan semestinya tidak dapat ditinggalkan, tidak dapat dilupakan.

Sebab, urusan politik itu sejatinya adalah urusan moral.

Misalnya, kesetiaan dan dedikasi atau pengkhianatan, ingkar janji, tidak bertemunya antara ucapan dan perbuatan. Tetapi, “politik adalah sebuah drama karakter dan keadaan yang tiada akhirnya” (Andrew Gamble, 2018).

Tidak aneh karenanya kalau dunia politik terus menerus mengagetkan: yang sebelumnya memegang teguh nilai-nilai kesetiaan tiba-tiba mendadak sontak menjadi tidak setia atau berkhianat; yang berdedikasi dengan enteng tidak bertanggung jawab; juga sebaliknya, yang sebelumnya bermusuhan, bisa dengan “mudah” menjadi kawan; bahkan mungkin menjadi kawan yang sangat dipercaya; yang sebelumnya kawan, sekutu, berbalik menjadi musuh, pesaing.

“Siapa kawan kita dan Siapa musuh kita?” bisa setiap saat berubah: yang kawan jadi lawan, dan yang lawan jadi kawan.

Oleh karena, menurut Andrew Gamble, politik dapat menyatukan orang melalui dialog dan negosiasi. Politik juga bisa memecah mereka, dan mengobarkan ketegangan dan memperdalam perpecahan.

Semua itu  tergantung cui bono? Keuntungan apa yang diperoleh dengan melakukan semua itu? Atau sebaliknya, Cui plagalis?, siapa yang dihukum, atau siapa yang kalah? Atau dengan kata lain siapa yang dibatasi, siapa yang berkurang, siapa yang mendapat kekuatan lebih sedikit.

Yah, itulah politik, yang “saat ini memiliki reputasi yang buruk.”  Memang, tidak selalu demikian. Ada suatu masa dan budaya  politik dipandang sebagai salah satu kegiatan manusia yang paling luhur, paling tinggi, dan paling penting.

Semua itu terjadi bila tujuan utama (dan itu diusahakan benar dengan sungguh-sungguh) politik adalah untuk mewujudkan bonum commune, kemaslahatan bersama; kesejahteraan umum.

Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran, dan kedamaian terus menerus direalisasikan.

Dengan demikian, politik sesungguhnya berwatak mulia. Dan, semestinya, jawaban terhadap pertanyaan Lucius  Cassius dan diulangi Cicero, “Cui Bono?” dari drama politik sekarang ini adalah sangat jelas: Rakyat.

PS: https://triaskun.id/2019/11/08/cui-bono/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here