Artikel Politik: Lelaki Mabuk di Gare du Nord, Paris

0
165 views
Ilustrasi: Banyak minum alkohol dan kemudian mabuk (Ist)

TIBA-tiba seorang lelaki berkaos putih dan bercelana jins biru, menghampiri kami yang tengah berdiri di depan “Consignes”, penitipan koper di Stasiun Kereta Gare du Nord, Paris.

Kami menitipkan koper di tempat itu karena akan melanjutkan perjalanan ziarah ke Lourdes.

Lelaki itu tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengucapkan sesuatu. Dari mulutnya tercium bau minuman keras. Wajahnya kusam. Matanya merah. Bau badan sangat tajam menabrak indra pencium kami.

Saat itu, saya ingat pesan beberapa teman dan juga pemilik apartemen yang kami sewa. “Hati-hati di stasiun kereta, banyak pencopet dan juga pemabuk.”

Dan sekarang saya berhadapan dengan pemabuk. Ia masih tetap mengulurkan tangan ke saya dan mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Tetapi, saya tahu maksudnya: minta uang. Karena itu, saya biarkan saja. Sikap diam saya, ternyata membuatnya marah.

Tanpa saya duga, lelaki mabuk itu membuat gerakan akan memukul. Saya mundur selangkah dan berteriak memanggil petugas penitipan koper, seorang perempuan berkulit hitam, tinggi besar. Ia segera lari ke luar dan menghardik lelaki itu; lalu dengan HT-nya memanggil petugas keamanan.

Lelaki mabuk itu, pergi, sambil terus ngomong tidak jelas. Benar yang dikatakan oleh Charlie Chaplin (1889-1977), aktor dan komikus kondang asal Inggris, “Karakter sejati seorang pria muncul ketika dia mabuk.”

Mabuk-mabukan memang merusak. Mabuk apa pun, pasti merusak. Mabuk kekuasaan, misalnya. Mabuk kekuasaan artinya menginginkan kekuasaan lebih dari pada yang semestinya; melebihi kapasitas yang seharusnya didapatkan.

Karena mabuk kekuasaan, maka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan itu.

Ernest Hemingway (1899-1961), sastrawan AS peraih Hadiah Nobel Sastra (1954) pernah mengatakan orang cerdas terkadang terpaksa menghabiskan waktu untuk mabuk karena kebodohannya.

Tetapi, apakah lelaki mabuk yang menyamperi kami itu adalah orang cerdas? Rasanya, bukan. Dia pemalas…dan pemabuk tulen.

Yang terjadi sekarang bukan seperti yang dikatakan Hewingway. Orang memang mabuk, namun bukan karena minuman tetapi karena kekuasaan. Mabuk kekuasaan.

Ada pula mabuk agama, yang dalam batas tertentu pemahaman dan praksis keagamaan dalam kemabukan itu bisa menjadi ‘politik identitas’ dan bisa memunculkan masalah tersendiri ketika terlibat dalam pergumulan dan kontestasi politik di ruang publik.

Akan tetapi, para pemabuk agama ini bisa pula dijadikan obyek manipulasi politik, kepentingan politik para elite yang mabuk kekuasaan. Bisa juga digunakan oleh para pemimpin agama yang mencium enaknya aroma politik.

Mengapa orang mabuk kekuasaan demikian? Karena kekuasaan memang mempesona; menjanjikan banyak hal. Apalagi, mengutip pendapat Friedrich Nietzsche (1844 – 1900) bahwa dalam diri manusia ada kehendak untuk berkuasa (the will to power).

Ada banyak rumusan, pengertian tentang kekuasaan. Tetapi, pada akhirnya kekuasaan bisa dikatakan merupakan identitas diri yang kadang-kadang dipoles, dipercantik, bahkan diperkuat dengan etnik, agama, ras, suku, dan simbol-simbol lain.

Dan, di lingkaran terakhir, kekuasaan dibingkai dengan tindakan politik untuk menguasai orang lain. Kata kunci dari kekuasaan dan politik adalah hegemoni terhadap orang lain; menakluklan pihak lain, orang lain.

Pada ujungnya, orang yang mabuk kekuasaan akan menggunakan segala usaha dan cara, menghalalkan segala cara (meminjam istilah Machiavelli) untuk mendapatkan, merebut, dan mempertahankan kekuasaan.

Itulah yang terjadi sekarang di zaman yang barangkali oleh pujangga besar Ranggawarsita digambarkan sebagai “Zaman Edan”. Yang ditulisnya demikian:

Amenangi zaman edan
(Mengalami zaman edan/gila)
Ewuh aya ing pambudi
(Serba sulit menentukan perilaku)
Melu edan nora tahan
(Mau ikutan berbuat gila, tak sampai hati)
Yen tan melu anglakoni
(Kalau tak ikutan)
Boya keduman milik.
(Tidak kebagian rejeki)
Kaliren wekasanipun
(Jadinya kelaparan)
Dilalah karsa Allah
(Sudah menjadi kehendak Tuhan)
Begja-begajne kang lali, luwih begja kang eling lan waspada
(Seberapa pun untung yang didapat oleh orang yang lagi lupa, masih lebih bahagia orang yang sadar dan waspada).

Mungkin, lelaki mabuk di Gare du Nord itu terbawa arus “zaman edan” pula, seperti orang-orang di negeri ini yang mabuk atau pura-pura mabuk demi sebuah tujuan.

PS:

  • Artikel ini sudah tayang di Kompas.id hari Rabu, 26/6.
  • Artikel lengkap bisa dibaca di https://triaskun.id/2019/06/26/lelaki-mabuk-di-gare-du-nord/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here