Artikel Politik: “Ngobrol” dengan Pak Katua

0
130 views
Wajah Indonesia yang pluralis by Ist

“BEGINI, Mas,” kata Pak Katua mengawali obrolan kami sore itu sambil minum kopi pahit dan makan ubi goreng di sebuah warung dekat kantor.

Dia memang selalu dipanggil Pak Katua.

Tidak tahu siapa yang memulai panggilan itu. Yang pasti, Pak Katua  sungguh mengagumkan. Pak Katua, sangat rendah hati, banyak senyum, selalu lebih dahulu menyapa bila bertemu.

“Saya akan memulai mengutip buku karya Amartya Sen, Identity and Violence:The Illusion of Destity (2006) Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Kekerasan dan Identitas (2016),” kata Pak Katua melanjutkan omongannya.

Kalau urusan buku, Pak Katua lah jagonya. Pengetahuannya luas, karena bacaannya banyak, berbagai ragam buku dibaca. Dan, ia tidak segan-segan membagi ilmu yang sudah disadapnya dari buku.

“Kebencian sektarian yang giat dihembus-hembuskan bisa menyebar cepat ibarat nyala api,” kata Pak Katua mengutip pendapat Sen.

Tragedi seperti itu pernah terjadi di Kosovo, Bosnia, Rwanda, Myanmar, Sudan, dan terus terjadi di Israel, Palestina, dan banyak negara lain di dunia ini, barangkali juga di negeri ini.

Menurut Sen, banyak konflik dan kekejaman di dunia ini dipupuk dan diperparah melalui ilusi tentang adanya sebuah identitas tunggal tanpa pilihan; tunggal dan serba mutlak.

“Jangan tanya bagaimana dengan di Indonesia,” kata Pak Katua sambil melanjutkan, “Masih menurut Sen, pemilahan penduduk dunia berdasarkan peradaban dan agama melahirkan suatu pendekatan ‘soliteris’ terhadap identitas manusia. Yang dimaksud dengan ‘soliteris’ adalah pendekatan yang memandang manusia hanya sebagai bagian dari satu kelompok semata.”

Pak Katua melanjutkan, “Padahal dalam kehidupan normal, orang dapat dipandang dari berbagai macam kelompok. Anda orang Jawa, Mas. Orang Jawa dari Yogyakarta, yang warga negara Indonesia, seorang laki-laki, tidak makan nasi lebih suka sayur-sayuran, berhobi main bola, suka membaca buku, wartawan, juga penulis buku, suka mendengarkan musik, tetapi lebih suka mendengarkan siaran wayang kulit, seorang ayah dari satu anak, kepala keluar.”

“Nah, jelas bukan, dari uraian di atas, Anda, Mas, dapat dimasukkan dalam banyak kelompok. Bukan hanya satu kelompok. Bukankah, masing-masing kelompok itu memberikan identitas yang khas. Artinya identitas yang berbeda, bahkan sangat berbeda dengan kelompok lain. Betul, bukan,” kata Pak Katua.

Setiap orang memiliki banyak identitas. Setiap orang majemuk. Kalau setiap itu identitasnya mejemuk, apalagi bangsa ini.

Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk dalam berbagai hal: suku, etnis,ras, agama, budaya, bahasa, ras, dan banyak hal lain adanya.

Dalam kamus teologi, pluralisme adalah pandangan filosofis yang tidak mereduksikan segala sesuatu pada satu prinsip terakhir, melainkan menerima adanya keragaman. Pluralisme dapat menyangkut bidang kultural, politik dan religius. (Gerald O‟ Collins dan Edward G. Farrugia, 1996).

“Tetapi, ingat Mas,” pesan Pak Katua, “Pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, bahasa, dan sebagainya. Hal semacam itu justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi bukan pluralisme. Tetapi, pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati dalam ikatan-ikatan keadaban, bhinneka tunggal ika.”

“Lebih jauh lagi, pluralisme adalah keberadaan atau toleransi keragaman etnik, suku, agama, kepercayaan, bahasa, atau kelompok-kelompok budaya dalam suatu masyarakat atau negara. Itu persis di negeri ini, tetapi yang kadang-kadang hendak diingkari. Padahal, semua itu adalah sebuah kenyataan, sebuah realitas.Tidak ada seorang pun, satu golongan pun yang bisa membantahnya, menafikkannya,” kata Pak Katua penuh semangat.

“Bukankah begitu, Mas?” lanjut Pak Katua.

Tetapi, sebelum pertanyaan itu dijawab, Pak Katua sudah mengatakan, “Sudahlah Mas, obrolan kita sampai di sini saja, nggak usah menyinggung peristiwa yang terjadi di Malang dan Surabaya, yang akhirnya membakar (sambil berbisik: mungkin juga dibakar, ya) Bumi Papua. Jangan menafikkan pluralitas.”

Pak Ketua berdiri dan pergi sambil tetap tersenyum seperti biasanya.

PS:

  • Artikel lebih lengkap bisa di baca di https://triaskun.id/2019/08/25/ngobrol-dengan-pak-katua/
  • Artikel ini sudah tayang di Kompas.id hari Jumat lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here