Belajar Bertoleransi, Gereja St. Maria Bunda Karmel Probolinggo Sambut Tamu 150 Murid dan 10 Guru SD Muhammadiyah

0
4,201 views
Romo Hugo berdialog akrab dengan para guru SD Muhammadiyah di Probolinggo.

INI benar-benar merupakan sebuah pemandangan yang indah, ketika bisa menyaksikan anak-anak belajar di ‘sekolah kehidupan’ untuk berlatih membina sikap toleransi.

Ini bukan sekedar teori,  tetapi praktik nyata.

Itulah yang yang terjadi pada hari Senin  tanggal 28 Agustus 2017 lalu,  ketika  sebanyak 150 siswa-siswi dan 10 guru SD Muhamadiyah di Kota Probolinggo datang dengan senang hati berkunjung ke Gereja Katolik St. Maria Bunda Karmel Probolinggo. Ini tentu bukan sekedar kunjungan biasa, melainkan dilakukan dalam konteks pendidikan anak sejak usia dini yakni belajar menghargai keberagaman, termasuk bertoleransi dengan pemeluk agama lain.

Romo Hugo bersama para guru dan murid SD Muhammadiyah di Probolinggo, Jatim, usai melakukan kunjungan masuk gedung Gereja St. Maria Bunda Karmel.

Menyambut dengan suka hati

Kunjungan ini langsung diterima  dengan senang hari oleh pastor paroki yakni Romo  Hugo Susdiyanto, O.Carm.  Ia ditemani oleh sejumlah anggota FKUB Kota Probolinggo dan aktivis dialog lintas Agama dan kepercayaan.

Setelah disambut oleh Rm. Hugo, anak-anak diantar melihat dan masuk ke dalam gedung gereja untuk melihat isi bagian dalam gedung gereja. Kepada pastor paroki, para murid ini aktif bertanya banyak hal tentang apa itu Gereja Katolik.

Pertanyaan aneka ragam disampaikan oleh anak-anak dengan bahasa dan kepolosan mereka kepada Rm. Hugo.

Para guru SD Muhammadiyah di Probolinggo mengajak ratusan muridnya untuk belajar membina sikap dan semangat toleransi dengan pemeluk agama lain dengan cara mengunjungi Gereja Katolik St. Maria Bunda Karmel – Paroki Probolinggo, Keuskupan Malang, Jatim.

Salah satunya adalah pertanyaan seorang anak:

  • “Ustad disini tinggal bersama dengan siapa?,” demikian tanya seorang murid.
  • Romo Hugo pun menjawab: “Ustad di sini disebut ‘Pastor’ atau ‘Romo’. Para romo ini tidak menikah dan tidak punya isteri. Kami di sini tinggal di pastoran bersama para romo lainnya. Di sini ada tiga romo.”

Pengalaman kunjungan ini memberi kesan mendalam bagi anak-anak SD Muhammadiyah dan para guru. Mereka bergembira karena telah belajar secara langsung dengan praktik berkunjung.

Melihat isi gedug gereja dan belajar membina sikap toleransi melalui pengalaman bergaul dengan ‘penghuni’ gereja.

Kesan  guru

“Kami berterimakasih, anak-anak dan kami boleh belajar langsung dengan mendatangi sebuah Gereja Katolik. Harapannya,  anak-anak kami bisa lebih mengenal Indonesia dengan aneka ragam budaya dan agama. Semoga kita semakin memupuk rasa kebangsaan dalam NKRI ini dengan baik,” demikian tuturnya spontan dan langsung.

Romo Hugo O.Carm bersama para guru SD Muhammadiyah di Probolinggo usai kunjungan melihat isi bagian dalam gedung gereja katolik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here