Dua Sahabat Karib Saya

0
67 views
Ilustrasi: Keberagaman Indonesia dalam sebuah tarian bersama. (Mathias Hariyadi)

SAYA memanggilnya “Bambang” dan “Ucen”. Mereka sahabat-sahabat terdekat saya. Bila saya harus menyebutkan 50 sahabat saya, mereka berdua termasuk di dalamnya.

Kami bersahabat sejak lebih dari 40 tahun lampau. Kadang bercengkerama, sering bercanda, diselingi diskusi hangat, tak jarang pula berselisih paham. Setelah itu kembali akrab.

Keluarga kami pun bersahabat.

Nama lengkap “Bambang” adalah “Bambang Winarto”. Konon sebelumnya bernama “Bhe Kian Kik”. Pria baik hati asal Malang sudah lama tinggal di Jakarta. Pengusaha dengan modal utama kerja keras dan pantang menyerah.

Dari namanya, mudah ditebak kalau Bambang adalah keturunan Cina, beragama Katolik. Maaf, saya tak menyebutnya “Tionghoa”, karena sejak kecil selalu memanggil teman-teman sebagai “(keturunan) Cina”. Mereka pun tak protes dengan sebutan itu. Kami sudah terlanjur dekat untuk dipisahkan hanya karena panggilan akrab seperti itu.

Sementara nama lengkap “Ucen” adalah “Husein Heyder”. Dari kecil namanya sudah seperti itu. Pria ganteng asal Semarang tu juga sudah lama tinggal di Jakarta. Modal utamanya sebagai pengusaha adalah murah senyum dan berteman dengan sebanyak mungkin orang.

Ucen keturunan Arab, beragama Islam, berasal dari famili terkenal di Kota Semarang.

Sekali lagi, kami sudah sangat lama bersahabat. Dan selama itu pula, tak pernah terpikir bahwa kami berbeda. Bahkan, saya tak sadar, bahwa ras Bambang dan Ucen berbeda dengan saya. Apalagi terpikir bahwa mereka bukan berdarah Indonesia.

Meski Bambang keturunan Tionghoa, Katolik; Ucen Arab, Muslim, dan saya Jawa, Katolik, keakraban kami tak terganggu dengan faktor-faktor yang membedakan itu.

Apa yang membuat keadaan begitu harmonis?Saya tak tahu sebab-musababnya.

Sampai dua pekan lalu, ketika media sosial dan televisi menyiarkan hiruk-pikuk wawancara seorang artis terkenal yang “kelepasan” mengatakan bahwa dirinya tidak (atau bukan) berdarah Indonesia.

Tiba-tiba saya terusik dan menyadari akan “perbedaan” itu. Kesadaran yang justru memperat persahabatan kami.

Saya menduga yang terjadi hanyalah “slip of tongue” belaka. Tidak perlu diperbesar sampai ke tuduhan tipisnya rasa nasionalisme dari sang artis.

Mari kita buang pemikiran negatif, karena itu melahirkan perilaku yang destruktif. Ganti dengan catatan prestasinya di dunia tarik suara internasional. Sedikit atau banyak, dia sudah membawa nama baik Indonesia.

Perbedaan ras antara Bambang, Ucen, dan saya, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang begitu jamak di negara ini, sudah disamakan, dipersatukan dan dilebur dalam “Soempah Pemoeda”, 28 Oktober, tahun 1928.

Warga Negara Indonesia, apa pun atributnya, semua berdarah Indonesia.

Dikukuhkan juga dalam “Lagu Kebangsaan Indonesia Raya” yang awalnya dibuka dengan syair: “Indonesia Tanahairku, Tanah Tumpah Darahku…”

Meski Bambang, Ucen, dan sang artis, belum sekaliber Rudy Hartono, Susi Susanti, Dr. Lie Agustinus Dharmawan (pendiri RS Apung) atau alm. Munir Said Thalib (tokoh pejuang HAM), tokoh-tokoh pejuang olahraga dan kemanusiaan yang bahkan rela mengorbankan dirinya untuk keharuman Ibu Pertiwi.

Tetapi saya yakin bahwa mereka bertiga mempunyai darah Indonesia dan mencintai Indonesia.

Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa isu bernada rasis begitu mudah disulut di negara kita tercinta ini?

Apakah karena manusia (Indonesia) dilahirkan dengan sifat rasis?. “Is racism − in the sense of discrimination against “the other” − innate in us?”. (Gil Diesendruck, Bar-Ilan University’s Psychology Department).

Saya menjawabnya: “Tidak”.

Membedakan “saya” versus “dia” adalah kemampuan manusia sejak kanak-kanak. Ia menjadi alat mekanisme pertahanan diri yang alamiah. Naluri itu berkembang menjadi diskriminatif dan negatif, karena budaya, lingkungan dan “diajarkan” oleh keadaan sekitar.

Sikap rasis dan diskriminatif tidak dilahirkan. Ia diterima dan diolah sepanjang hidup, namun bisa sepenuhnya dikendalikan oleh hati nurani dan akal sehat. Jangan mau kita dikuasainya.

“Discrimination is not born. It is taught. It is man made and can be removed by the action of human beings”. (Nelson Mandela)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here