Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Menggurunkan Daging

0
106 views
Yohanes Pembaptis.

Mat 11:16-19

Para pecinta hidup spiritual selalu menemukan, “jalan Tuhan berbeda arah atau berlawanan atau berbentrokan dengan jalan pilihan manusia”.

Jalan yang dibuat Tuhan untuk manusia itu, Dia buat lurus, rata tak bertikung dan mendaki.

Sedangkan yang dibuat dan yang dipilih manusia, gemar membuat jalan yang penuh dengan jebakan dan rintangan. “Jalan lumpur, becek, berlubang dan tikungan”, sengaja dia buat untuk menjatuhkan orang-orang di sekitarnya.

Kadang dia tidak puas sampai di situ, dia malah bisa membuat “jalan mendaki atau gunung atau bukit yang tinggi” guna menahan sesamanya supaya hidup sesamanya tetap berada “di bawah, tidak naik-naik”.

Sebetulnya, manusia yang gemar membuat jalan berbeda dengan yang Tuhan ini, bermaksud untuk apa?….Ya, apa lagi kalau bukan untuk mengemukkan “previlege” keduniawian egoistik.

Manusia belum ikhlas dan rela kalau hidupnya biasa-biasa saja. Apa lagi kalau hidupnya susah, miskin, tidak mempunyai power, serasa hidupnya sudah tidak bermakna lagi.

Tidak heran, seringkali pencarian manusia akan makna hidup berkisar di seputar pemenuhan materi, jabatan dan kekuasaan duniawi.

Ketiga hal ini, akan terus berputar dan mengelilingi hidup manusia selama 24 jam.

Adalah nabi Yohanes Pembabtis, perintis pembuka jalan bagi Tuhan diutus oleh Allah di Padang gurun. Dia tampil di sana guna mengeritik pola hidup manusia yang berorentasi pada “kedagingan duniawi”.

Di situ, dia tidak memperlihatkan kepada kita soal keutamaan dari kehidupan “tubuh atau kedagingan manusia”. Yang dia perlihatkan melalui praktek hidup di padang gurun adalah kehidupan jiwa.

Dalam merawat kehidupan jiwa itu, dia berdoa dan bermati raga. Dikisahkan begini, “Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (Mat 3:4).”

Gaya hidupnya, miskin dan sederhana sekali bukan?

Mengapa dia lebih memilih gaya hidup seperti ini? Ada dua jawaban. Pertama, karena dia ingin memberikan ruang kebebasan kepada jiwanya untuk mendengarkan suara dan perintah-perintah Allah.

Kedua, karena dia ingin mengeritik gaya hidup kita yang lebih mengutamakan kegemukan “tubuh atau kedagingan” daripada jiwa.

Menurut Yohanes Pembabtis, “orientasi hidup manusia yang lebih hedonis kepada materi, jabatan dan kekuasaan duniawi, bisa mempersempit dan menghalangi kepekaan jiwa manusia dalam menangkap suara dan perintah Allah.

Oleh karena itu, di masa adven ini, kita disadarkan lagi melalui gaya hidup Yohanes pembaptis untuk berevaluasi sekaligus berefleksi lagi soal pencarian makna dan arti hidup kita di hadapan Allah.

Dari gaya hidupnya, bisa membantu kita untuk melihat bagian-bagian mana dari tubuh kita yang perlu dihajar dan diajar untuk bertobat guna memberikan jalan bagi jiwa dalam menyambut kedatangan Tuhan Yesus.

Dan ajakan “menggurunkan tubuh” di masa adven ini, hanya mungkin terjadi kalau kita bersikap rendah hati dalam menghidupi jiwa “di padang gurun”.

Kata-kata seperti, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”…..”Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Mat 3:2-3) adalah ajakan untuk menghajar dan mengajar “tubuh” kita dari “semua jalan” dosa.

Renungan: Demi kehidupan jiwamu jernih, maukah anda “menggurunkan tubuhmu” dari dosa?

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here