Eksegese Hidup Orang Pedalaman: Sumber Ekonomiku Dirongrong dan Dibajak

0
152 views
Ilustrasi: Selama 15 tahun menjadi misionaris di Kenya, Afrika Timur, tugas pokok Sr. Xaveria adalah menjadi pembina calon suster SFIC. Foto ini menggambarkan Sr. Xaveria dengan aneka buah-buahan hasil panenan pekarangan Biara SFIC Kuala Dua. (Ist)

Luk 15:2-10

Prakik Korupsi, kolusi dan nepotisme tidak hanya terendus di negara ini. Sejatinya, budaya edan ini, sudah muncul juga di zaman Tuhan Yesus.

Di zaman Yesus, pelakunya adalah warga lokal yang bekerja sama dengan penjajah Romawi. Warga lokal ini, diberi kepercayaan oleh penjajah Romawi untuk menarik pajak ke orang-orang Yahudi.

Para penagih pajak ini, seringkali menagih pajak melampaui batas kewajaran. Sehingga tidak heran banyak warga yang ditagih merasa hidupnya tertekan. Keluhan, rintihan dan tekanan masyarakat bawah ini, sampai juga ke telinga Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.

Penderitaan masyarakat di kalangan bawah ini, dobel. Mereka tidak hanya membayar pajak ke penjajah Romawi, tetapi dari Bait Allah juga mereka ditekan perpuluhan.

Jadi, bisa dipastikan bahwa ahli-ahli taurat dan orang Farisi tidak hanya benci kepada para penjajah Romawi, tetapi mereka juga benci kepada “kaki tangan” penjajah yang oleh Injil hari ini menyebut mereka sebagai pemungut cukai.

Apakah hanya soal menagih pajak ini, yang menjadi alasan bagi mereka benci kepada penjajah Romawi dan “kaki tangannya”?

Tidak. Alasan utama mereka benci adalah karena karena umat sebagai “sumur air dan landang” mereka ikut dibajak oleh penjajah dan kaki tangannya”.

Lagi-lagi, ini tidak jauh dari perkara soal sumber pemasukan ekonomi. Kasihan sekali, orang-orang miskin ini, kini nasib mereka direbutkan sebagai ladang bisnis bersama.

Mereka lebih tambah jengkel lagi, ketika “kaki tangan” penjajah ini datang mendengarkan kuliah agama dari Yesus.

Ekspresi muka mereka bersungut-sungut dan ini adalah tanda bahwa mereka menaruh curiga juga ke Yesus, “jangan-jangan Dia ini bagian dari “kaki tangannya juga”.

Gawat ini. Kita akan tambah kehilangan pemasukan ekonomi kalau Dia ini ikut berembuk dengan mereka.

Betulkan kata pengkotbah, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia”(Pkh 5:9).

Pada hal maksud kedekatan Yesus dengan “kaki tangan” penjajah ini, tidak berurusan dengan perpuluhan. Dia hadir di tengah mereka bermaksud supaya mereka bertobat. Dia ada di situ dengan niat yang mulia yaitu, mengajak dan membawa mereka pulang “kerumah”.

Bagi Yesus, mereka yang disebut pendosa sebagai “kaki tangan” penjajah ini adalah orang yang kehilangan dan tidak mempunyai “Bapa dan Ibu”. Mereka tidak mempunyai “Rumah”.

Mereka adalah “yatim piatu” yang patut ditolong. Misi Yesus di situ, semata-mata mau menyelamatkan pendosa ini supaya tidak berbuat dosa lagi. Terkadang orang susah untuk berpikir positif, kalau pikiran tentang duniawi sudah mendahului yang surgawi.

Segala sesuatu yang orang perjuangkan baik, pasti dicurigai dan dianggap salah. Jadi, ekspresi “wajah yang bersungut-sungut”, tidak hanya menghadirkan nada kekecewaan dan kemarahan.

Lebih dari itu, dia menggungkapkan kecurigaan, penghakiman, penghinaan dan paling akhir adalah “rencana pembunuhan”.

Renungan: Apakah ekspresi wajahku ceria ketika suadaraku bisa menolong orang lain untuk berbuat baik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here