Ignatius Loyola Ingin Mengakhiri Hidup (6)

0
1,740 views

[media-credit name=”Google” align=”alignright” width=”262″][/media-credit]WAKTU itu, Inigo tinggal menetap di sebuah bilik yang disediakan oleh para Romo Dominikan di biara mereka.

Inigo masih melanjutkan kebiasaan-kebiasaan yang selama itu sudah dia praktikkan: berdoa berlutut selama tujuan jam setiap hari; bangun tengah malam untuk berdoa; menghadiri perayaan ekaristi setiap hari; membaca Kisah Sengsara Yesus selama misa; mengikuti doa vesper dan doa penutup setiap hari. Namun semuanya ini tidak juga menolongnya untuk bisa terbebaskan dari rasa skrupel yang telah menyiksanya selama berbulan-bulan.

Dalam keadaan batin terpuruk oleh keputusasaan itu, Inigo berpaling kepada Allah dan berteriak: ”Tolonglah aku ya Tuhan, sebab aku tidak menemukan bantuan pada manusia atau pun pada makhluk lain. Tidak ada sesuatu yang terlalu berat bagiku, kalau aku merasa dapat menemukan jalan untuk mengatasi kesulitanku ini. Tunjukkan kepadaku ya Tuhan dimana jalan itu bisa kutemukan. Bahkan kalau aku harus mengikuti seekor anjing kecil, asal aku bisa sembuh dari penderitaan ini, hal itu akan kulakukan.”

Berdoa dan Berpuasa

Inigo merasakan bahwa teriakannya belum didengar oleh Tuhan. Karena itu, dia merasa semakin menderita sehingga timbul keinginannya untuk bunuh diri dengan menerjunkan diri ke dalam sebuah lubang besar di kamarnya dekat tempat di mana ia berdoa. Namun niat itu kemudian dia urungkan, karena tahu bahwa tindakan bunuh diri adalah sebuah dosa.

Maka ia berteriak kepada Allah: ”Tuhan, saya tidak akan berbuat sesuatu yang menghina Engkau.”

Doa ini dan doa di atas kemudian dia daraskan secara berulang-ulang. Namun, perasaan skrupel itu juga tidak kunjung pergi. Ia lalu merespon kegelisahan dan rasa putus asa itu dengan tidak mau makan atau minum. Katanya, ini dia akan terus lalukan sampai Tuhan benar-benar memberi apa yang dia minta: terbebaskan dari perasaan skrupel.

Demikianlah, Inigo akhirnya tidak makan dan tidak minum selama sepekan lamanya. Meski demikian, ia tetap setia melakukan latihan-latihan rohani yang selama ini telah dia praktikkan: mengikuti doa ofisi dan misa setiap hari, membaca Kisah Sengsara selama misa, berdoa berlutut selama tujuh jam sehari, bangun tengah malam untuk berdoa, mengaku dosa dan menerima komuni setiap hari Minggu.

Ketika hari Minggu tiba, ia pergi mengaku dosa seperti yang selama ini telah dia lakukan sebelumnya. Ia menyebutkan daftar dosa itu secara lengkap dan mendetil. Kepada bapa pengakuannya, dia juga mengatakan bahwa sudah sepekan ini ia tidak makan atau minum apa-apa. Mendengar itu, bapa pengakuannya menyuruh Inigo supaya ia berhenti berpuasa. Inigo menaatinya. Pada hari itu juga dan pada hari berikutnya, ia bebas dari perasaan skrupel.

Namun pada hari Selasa –saat sedang berdoa– ia mulai ingat kembali akan semua dosa yang telah dia lakukan. Ia mulai memikirkan kembali semua dosanya di masa lampau bagaikan sebuah litani yang tak kunjung henti. Ia merasa perlu mengakukan lagi semuanya itu. Namun akhirnya timbul juga rasa jenuh menjalani keseharian semacam itu dan ia terdorong meninggalkannya saat itu juga.

Allah menghendaki Inigo sadar bagaikan orang yang terjaga dari tidur panjangnya. Dari pengalamannya membedakan berbagai macam roh, Inigo dengan tegas memutuskan untuk tidak lagi mengakukan dosa-dosanya di masa lalu. Sejak hari itu, ia bebas dari semua perasaan skrupel yang selama ini menyiksa dirinya. Inigo juga merasa yakin bahwa pembebasan itu telah dilakukan oleh Allah karena belas kasih-Nya. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here