In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Tak Punya Ikat Pinggang (10)

0
1,569 views

SELALU menyapa dan senyum, itu yang selalu saya kenang akan sosok Mgr. Johannes Pujasumarta. Ketika saya belajar di SMA Seminari Mertoyudan kelas 2, beliau adalah Romo Pamong, waktu itu tahun 1979. Beliau juga menjadi pembimbing karya tulis saya sebelum naik ke kelas 3, ketika waktu itu ada perpanjang waktu setengah tahun karena kebijakan Menteri Pendidikan Daoed Jusuf. (Baca: In Memoriam Mgr. Johannes Pujasumarta: Salam Ehem (9)

Dekat dengan para seminaris
Romo Pujo dikenal dan layak dikenal sosoknya yang sangat dekat dengan para seminaris. Beliau selalu menyapa setiap siswa dengan halus, sapaan yang biasa-biasa saja tetapi mempunyai arti. Kalau ada siswa yang kesulitan dalam pelajaran atau jikalau ada siswa seminaris yang ragu-ragu dalam panggilannya, beliau memberikan arahan yang jelas akan pilihannya.

Beliau juga memberikan bimbingan rohani yang berkesinambungan seakan-akan kami ini sebagai seminarist diarahkan pada panggilan khusus atau memang pada panggilan umum yaitu menjadi seorang awam yang berguna bagi Gereja dan Bangsa. Demikian juga sikapnya terhadap para seminaris yang suka mencuri buah-buahan di kebun belakang seminari. Beliau jarang menghukum, melainkan selalu memberikan nasehat yang mendewasakan para seminaris. Para seminaris mencuri papaya, atau buah-buah lainnya dikarenakan iseng saja; bukan bertujuan menjurus pada tindakan kriminal.

Kesederhanaan
Ketika masuk kamar Rm. Pujo sebagai Romo Pamong Siswa kelas 2 SMA Seminari Menengah Mertoyudan, tidak nampak barang-barang elektronik. Yang ada hanya buku-buku bacaan rohani, majalah Rohani, dan buku-buku pelajaran; selebihnya jubah yang tergantung di sudut kamarnya. Pakaian-pakaian bermerek atau pun batik berkualitas butik tidak ada. Terkesan pakaian yang dikenakan semuanya kedodoran. Artinya semua baju itu pemberian umat yang salah ukuran dalam menebak badan Romo Pujo.

Tidak punya ikat pinggang
Demikian pula lingkar perutnya. Ikat pinggangnya tidak pernah terlihat, sebab bajunya selalu dikeluarkan. Baju tidak dimasukkan. Pernah saya tanya mengapa Romo bajunya tidak pernah dimasukkan ke celana panjangnya? Dia hanya mengangkat bajunya yang kedodoran itu untuk memperlihatkan bahwa dia tidak punya ikat pinggang.

Baju yang dikenakan ya itu-itu saja, terkesan tidak pernah ganti. Padahal dia hanya memiliki kurang lebih 5 lembar baju dan beberapa kaos singlet serta 5 celana panjang. Celana jins jelas dia tidak punya. Maka sebagai imam Ppraja, dia telah menjalankan kaul kemiskinan, meskipun tidak mengkaulkan kemiskinan seperti para imam religius yang mengkaulkan kemiskinan.

Mgr.Puja
Vita functi: Mgr. Johannes Pujasumarta 1949-2015 (Ist)

Keteladanan
Apa yang dikatakan dalam kotbah, renungan ataupun bimbingan untuk Legio Mariae di Seminari, benar-benar dijalankan. Itu yang membuat para seminaris menaruh respek kepada pribadinya yang benar-benar melaksanakan panggilan imamatnya dengan satunya kata dan perbuatan.

Devosi kepada Bunda Maria dan juga Sakramen Maha Kudus sangat kentara, seperti berdoa Rosario, berdoa brevir (doa ibadat harian) serta berdevosi kepada Sakramen Maha Kudus di malam hari sebelum istirahat malam tak pernah terlewatkan, meskipun sakit selalu akan ada di depan Tabernakel.

Demikian pula dalam pemberian renungan-renungan dalam bentuk puncta (renungan singkat malam sebelum tidur memberikan santapan rohani) yang dapat direnungkan dan menjadi doa yang dipersiapkan pada waktu misa kudus di pagi hari

Pesan-pesan
Age quod Agis. Sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang ingin mengatakan lakukan apa yang ingin kau lakukan untuk sesuatu yang terbaik. Para siswa lulusan Seminari Mertoyudan diberikan pesan bahwa menjadi seorang imam atau pun tidak tetap harus melaksanakan suatu tindakan ke depan yang terbaik untuk dirinya, keluarganya, Gereja dan Bangsanya.

Menjadi seorang imam dan ayah dalam keluarga adalah sarana dalam memuliakan namaNya menjadi lebih besar. Dia menyebutkan sebagai Ad Maiorem Dei Gloriam (Semuanya demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar).

Selamat Jalan Mgr. Pujo. Monsinyur telah melaksanakan apa yang Monsinyur katakan dalam tindakan yang kongkrit sebagai seorang gembala umat dan keteladanan bagi para imam serta calon imam. Pesan-pesan Monsinyur tetap akan kami ingat sebagai alumni Seminari Mertoyudan dan akan kami jalankan dalam kehidupan kami sehari-hari, baik di keluarga maupun di tempat kerja maupun di masyarakat kami.

Kredit foto: Ilustrasi (Ucan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here