In Memoriam Romo Ignatius Hadisiswaya MSC: Pernah Jadi Rahib Trappist, Akhirnya Kembali Jadi MSC (2)

0
338 views
RIP Romo Ignatius Hadisiswaya MSC (84)

In Memoriam Romo Ignatius Sadiran Hadisiswaya MSC (84)

BERIKUT ini kami sampaikan riwayat hidup almarhum Romo Ignatius Sadiran Hadisiswaya MSC yang meninggal di RS Palang Biru Gombong, Jateng.

Curriculum vitae

Pater Ignatius Sadiran Hadisiswaya MSC (22 Oktober 1935 – 21 Desember 2019)

  • Lahir: Purworejo, 22 Oktober 1935, anak kelima dari sepuluh bersaudara (5 laki-laki dan 5 perempuan).
  • Baptis: Paroki SP. Maria Purworejo, 23 Desember 1954.
  • Nama Ayah: M. Pronodimedjo.
  • Nama Ibu: M. Sariyah.

Pendidikan dan pembinaan:

  • 1950: Sekolah Rakyat, Borokulon, Purworejo.
  • 1953: Sekolah Menengah Pertama Bruderan, Purworejo.
  • 1956: SGA Bruderan, Purworejo.
  • 1956 – 1958: Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang.
  • 1 Mei 1959: Memulai masa Postulat di Lawaan, Filipina.
  • 1959-1960: Sacred Heart Noviciate, Valladolid, Carcar, Cebu, Filipina.
  • 1961-1969: Sekolah Tinggi Seminari Pineleng, Manado.
  • 1966-1967: Tahun Orientasi Pastoral di Seminari St. Fransiskus Xaverius, Kakaskasen, Tomohon.
  • 31 Mei 1960: Berkaul pertama sebagai MSC di Valladolid, Filipina.
  • 1 Juni 1966: Berkaul kekal sebagai MSC di Pineleng, Manado.
  • 19 Desember 1968:  Tahbisan Diakonat oleh Mgr. Nicolaus Verhoeven MSC di Manado.
  • 15 Agustus 1969: Tahbisan imam oleh Mgr. Wilhelmus Schoemaker MSC di Purworejo.

Fungsi dan tugas yang diemban:

  • 1969-1970: Pastor pembantu di Pekalongan.
  • 1970-1972: Pastor pembantu di Tegal.
  • 1972-1974: Pejabat Rektor Seminari St Yudas Thadeus di Langgur, Maluku Tenggara.
  • 1974-1977: Pastor paroki di Pekalongan.
  • 1977-1987: Superior Daerah Jawa Tengah.
  • 1977-1978: Pastor pembantu di Purbalingga.
  • 1978-1979: Pastor paroki di Kebumen.
  • 1979-1980: Pastor paroki di Wonosobo.
  • 1980-1982: Pastor paroki di Purworejo.
  • 1982-1987: Pastor paroki di Karanganyar, Kebumen.
  • I987-1992: Pastor paroki di Purworejo.
  • 1992-1999: Pastor paroki di Tegal.
  • 1999-2001: Pastor paroki di Wonosobo.
  • 2001-2004: Pastor paroki di Karanganyar, Kebumen.
  • 2004-2007: Pastor paroki di Pemalang.
  • 2007-: Pastor rekan di Pemalang.

Menjadi guru

Pada mulanya, Rama Hadi berkeinginan menjadi seorang pendidik (guru). Keinginan itu membuat Rama Hadi muda melanjutkan sekolah di SGA Bruderan Purworejo dan menyelesaikannya pada tahun 1965.

Namun dalam perjalanan kemudian, keinginan Rama Hadi berubah, karena beliau ingin menjadi imam.

Masuk MSC

Seminari Menengah Mertoyudan adalah awal perjalanan menuju imamat. Rama Hadi memilih untuk mempersatukan diri dalam Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), sebuah tarekat yang dikenalnya sejak masih di Purworejo.

Pilihan ini kemudian membawa konsekuensi bahwa beliau harus meninggalkan Tanahair Indonesia untuk menempuh masa novisiat di Sacred Heart Novitiate Valladolid, Carcar, Cebu, Filipina — tempat yang sama di mana Mgr. Jos Suwatan melalui masa Novisiat.

Setelah mengikrarkan kaul pertama sebagai seorang religius MSC, Rama Hadi semestinya mengucapkan kaul kekal dalam tarekat MSC. Namun ternyata, Rama Hadi kembali memperbaharui kaul sementara sebagai MSC.

Kaul sementara dipilih karena saat itu Rama Hadi justru merasa tertarik dengan kehidupan sebagai biarawan Trappist (OSCO). Gerak hati ini diikuti dengan langkah memasuki biara Trappist Rawaseneng sebagai seorang novis.

Menjadi rahib Trappist di Rawaseneng

Tahun 1966, tiba saatnya mengikrarkan kaul sebagai seorang rahib Trappist, bersamaan dengan itu, masa kaul sementara sebagai biarawan MSC pun akan segera habis.

Rama Hadi bukannya mengucapkan kaul sebagai biarawan Trappist, tetapi malah memilih kembali ke Pineleng dan mengikrarkan kaul kekal sebagai biarawan MSC pada tahun 1966 di Pineleng.

Inilah keunikan jalan panggilan Rama Hadi.

Menerima Sakramen Imamat

Rama Hadi ditahbiskan imam di Purworejo, tempat yang sama di mana Rama Hadi menerima sakramen baptis, dengan motto: “Allah telah menyanggupkan kami untuk menjadi pelayan suatu Perjanjian Baru yang bukan berbentuk huruf melainkan berbentuk Roh” (II Kor. 3:6).

Selama kurang lebih 40 tahun berbagai tugas diembannya dengan senang hati dan penuh kesetiaan dan kepasrahan.

Rama Hadi pernah menjadi Pemimpin Daerah Jawa Tengah selama kurun waktu yang cukup lama, yakni dari tahun 1977 sampai 1987 (selama 3 periode). Tugas utama sebagai SUPDA ini dijalankan seraya menjalankan tugas tambahan lainnya dengan membantu di paroki-paroki di Keuskupan Purwokerto yang kekurangan tenaga imam.

Setelah masa bakti ke-3 selesai, Rama Hadi digantikan oleh SUPDA baru, yaitu Rama. T. Wignyosoemarto, MSC. Namun karena Rama Wignyo masih menjalani kursus di Filipina, Rama Hadi diminta tetap menjalankan tugas sebagai SUPDA sampai Rama Wignyo tiba di Indonesia.

Selama menjadi SUPDA, Rama Hadi juga mengikuti beberapa kursus pengembangan, di antaranya adalah kursus Pastoral di Purwokerto, Renewal Program For Superiors di Filipina tahun 1985 dan PRH di Jakarta tahun 1986.

Sebagai Pastor Paroki, salah satu catatan yang ditinggalkan Rama Hadi adalah beliau memulai proses pemisahan pastoran paroki dari kompleks Novisiat, ketika menjadi Pastor Paroki Karanganyar, sebagai bentuk upaya memandirikan Paroki Karanganyar yang selama itu sangat tergantung pada Novisiat dalam segala hal.

Karena usia yang semakin lanjut, pada bulan Juni 2007, Rama Hadi mengajukan surat pengunduran diri sebagai pastor paroki dan selanjutnya beliau tetap bertugas di Pemalang sebagai pastor bantu sesuai SK Bapa Uskup Purwokerto sejak 1 Agustus 2007.

Tanggal 5 Juli 2008, Rama Hadi mengalami sakit yang cukup berat yang membuatnya sulit untuk berbicara mengungkapkan ide yang sudah ada dalam pikirannya. Sejak saat itu, kondisi kesehatan Rama Hadi mulai menurun sampai akhirnya pensiun dan kembali ke Purworejo sebagai penghuni Rumah Daerah MSC dan akhirnya Rumah Doa Kasepuhan.

Rama Hadi dikenal sebagai pendoa dan pekerja keras.

Beliau menjalankan tugas yang diberikannya kepadanya dengan penuh tanggungjawab. Meskipun sebagai SUPDA, beliau dapat merangkap tugas sebagai pastor paroki dan pastor bantu di beberapa paroki, dan mampu mengaturnya, karena komitmen yang jelas sebagai seorang MSC.

Rama Hadi menghidupi semangat persaudaraan MSC dengan baik sehingga meskipun sudah lanjut usia, beliau selalu berusaha hadir dalam pertemuan-pertemuan bersama di Daerah maupun di komunitas.

Terimakasih Rama Hadi, atas kesaksian dan keteladan hidup dalam mengemban misi MSC yakni menghadirkan dan mewujud-nyatakan cinta Hati Kudus, di mana saja, dalam tugas apa saja dan kepada siapa saja.

Rama Hadi meninggal pada usia 84 tahun, pada tanggal 21 Desember 2019, pkl. 12.15 WIB, di RS Palang Biru Kutoarjo.

Selamat jalan Rama Hadi. Beristirahatlah dalam damai Tuha!

Sumber: Arsip Provinsialat MSC Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here