Jumat, 11 Januari 2019 Hari Biasa Sesudah Penampakan Lukas 5: 12-16

0
27 views
Ilustrasi: Yesus menyembuhkan mertua Petrus by John Bridges (Ist)

“Tuan, Jika Tuan mau (baca: menghendaki), Tuan dapat mentahirkan aku.”

“Jika ENGKAU menghendaki”. Kata-kata ini menarik untuk diperhatikan. Si penderita Kusta mengatakan: jika “Tuan mau” atau “Tuan mengendaki.”

Ia tidak mengatakan: jika “Aku mau” atau “Aku menghendaki”.

Kata-kata si penderita kusta ini menggambarkan situasi jiwanya yang lebih memilih berserah pada kehendak Tuhan ketimbang mengikuti kehendak pribadinya.

Kata-kata itu menyiratkan bahwa dia siap untuk menerima salibnya, yaitu menerima sakitnya, jika hal itu memang selaras dengan rencana Allah.

Menjadi egois dan tidak mau menerima masalah, sakit atau cacat, dengan sendirinya, merupakan hambatan untuk disembuhkan. Beberapa orang kehilangan kesabaran dalam pergulatan sakitnya karena mereka lebih memilih dan menginginkan “obat dan sembuh” daripada memilih dan menginginkan “Tuhan sebagai Pribadi” yang bisa mengobati dan menyembuhkan (baik melalui tangan dokter atau mukjijat-Nya). Pilihan semacam itu memang dapat menyembuhkan tubuh, tetapi ia tetap membiarkan jiwanya sakit dan menjauh dari Tuhan.

Keterbukaan dan penyerahan total seluruh hidup ke tangan Tuhan memungkinkan jiwa kita mengalami kesembuhan jauh sebelum sakit penyakit itu dibebaskan dari tubuh. Betapa indahnya jiwa penderita kusta yang rendah hati ini di mata Kristus!.

“Aku Mau, jadilah engkau Tahir”

Sakit kusta adalah simbol jiwa orang berdosa yang membutuhkan penebusan. Bagi orang Israel, sakit dan menderita merupakan akibat dosa yang menyedihkan dan menodai. Sakit dan penderitaan juga menjadi jalan menuju pertobatan dan perubahan.

Meskipun kita sudah bertobat dan berupaya berubah, kadangkala sengatan dosa lama masih kita rasakan. Di tengah situasi ini kadang kita yang sudah berusaha untuk mendekat pada Tuhan, tidak mudah untuk melihat kehadiran dan campurtangan Tuhan di dalam hidup baru kita. Kita pun lalu sedih.

Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa campur tangan Allah, yang bersifat abadi, menggerakkan tangan Kristus, yang menjangkau untuk menyentuh penderita kusta dengan mengatakan, “Aku akan melakukannya.

Sentuhan-Nya menyembuhkan si kusta dari jiwa ke ke tubuh fisiknya. Kehendak Tuhan untuk mengampuni dan menyembuhkan melampaui batas pemahaman kita sebagai manusia.

Ketika kita berhenti mengukur kegagalan kita dari cinta diri yang terluka dan dengan iman kita memulai dan menerima Kehendak Allah, kita akan menemukan diri kita sepenuhnya terbenam dalam kehidupan manusia baru dalam Kristus dan mati untuk dosa.

Ia Melarang untuk Memberitahukannya kepada Siapa pun

Tuhan sepertinya sedang “membungkam” mulut untuk tidak banyak omong. Semua hal atau peristiwa yang diketahui tidak harus segera dikatakan. Ia ingin kita mencerna dan memaknai lebih dahulu peristiwa ini bagi diri kita sendiri dalam relasinya dengan Dia. Seorang murid dituntut sikap bijak dan hati-hati.

 

Seberapa sering kita menghambat pekerjaan Tuhan dengan terlalu banyak omong? Seberapa sering kita mengacau rencana Tuhan dengan menyampaikan terlalu banyak pengetahuan kita demi kesombongan?

Kebijaksanaan, sebagai suatu kebajikan, adalah pekerjaan yang memberi diri, tidak sedikit pun melayani diri sendiri. Kita merenungkan hal ini untuk memaksimalkan kebaikan yang ingin kita lakukan untuk orang lain. Kebijaksanaan Tuhan membuktikan sikap seperti itu. Kapan identitas-Nya akan diumumkan secara formal?

Ketika Aku dibangkitkan, “maka Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:32).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here