Kekerasan Tanda Kurangnya Cinta

0
1,557 views
Ilustrasi: Konflik karena salah paham. (Ist)

Bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton Surakarta yang tak hanya melukai korban secra fisik tetapi juga melukai seluruh rakyat Indonesia yang cinta damai secara psikis menjadi penerang bagi kita semua bahwa rupanya masih ada orang-orang yang mencintai kekerasan.

Seiring dengan itu pula di televisi kita disuguhi oleh beragam berita tentang kekerasan yang terjadi entah antara siswa sekolah menengah atas dengan wartawan atau antara elemen masyarakat saat demontrasi, antara artis yang satu dengan artis yang lain. Dan yang paling meresahkan terjadi di Ambon karena kita tidak mau kerusuhan dan kekisruhan terulang kembali di tempat ini.

Semuanya menyisakan kepedihan dan membuat kita merasa prihatin. Tapi, rupanya rasa prihatin ini tidaklah berharga bila kita hanya diam. Mungkin dari kita masing-masing sudah mengupayakan banyak hal agar kedamaian selalu ada di negeri kita, di wilayah tempat kita tinggal, RT, RW atau kelurahan. Tapi itu belum cukup.

Mari kita mulai dari dalam keluarga kita sendiri. Apakah kita sudah menanamkan kedamaian dalam diri keluarga kita sendiri, dalam diri kita sendiri.
Kurang cinta

Seorang ahli kesehatan jiwa dari Amerika Serikat Dr. Bryan Weiss menyebutkan bahwa kekerasan dan kejahatan muncul karena kita kurang cinta. Cinta yang harusnya mengalir, mengisi hati kita masing-masing dan menjadi hak bagi setiap orang pada sebagian besar orang sulit atau tidak bisa dirasai entah karena cinta itu ‘direbut’ atau memang sengaja diserahkan secara paksa.

Ambil contoh misalnya seorang anak dengan satu kakak dan satu adik yang dalam lingkungan keluarganya selalu menjadi bahan olok-olokan di antara mereka bertiga. Si “tengah” ini dalam hal belajar kurang begitu bagus atau sering tidak fokus pada satu hal sehingga mudah kehilangan barang bila dibawa olehnya. Olok-olok inilah salah satu bentuk kekerasan yang mungkin tidak kita sadari kita hunjamkan padanya. Bila diteruskan akan membawa bahaya bagi kehidupan si tengah ini nantinya.

Masih ada banyak bentuk kekerasan yang lain yang bisa kita sebut. Mungkin tanpa sadar sebagai istri kita telah banyak menuntut pada suami untuk bisa memenuhi banyak hal sehingga sang suami harus banting tulang kelimpungan sementara si istri kerjanya cuma main, bergaul tanpa hasil. Itu juga bentuk kekerasan.

Kita sendiri tanpa sadar kerap menghunjami orang lain dengan “kekerasan psikis” karena cerita-cerita gosip yang tidak mengenakkan, kisah-kisah ngomongin kejelekan orang lain dan cerita-cerita tak bermutu bernada memburukkan orang lain.

Ya, bila disebut satu per satu pasti akan banyak sekali. Silakan Anda masing-masing meneliti diri sendiri. Coba perhatikan dengan seksama dan refleksikan apakah semua yang kita lakukan sudah mengarah pada pemberian cinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here