Kembali pada “Sustainable Vision”

0
948 views

BERBICARA tentang organisasi, pikiran kita tanpa disadari akan membayangkan gerakan yang terstruktur. Sebuah wadah yang mengakomodasi kepentingan banyak orang untuk mencapai tujuan bersama. Terbentuknya organisasi pada umumnya didasari oleh keprihatinan atau perasaan senasib dan sepenanggungan. Wadah yang dibentuk diharapkan dapat mengentaskan keprihatinan, atau setidaknya menjadi pengayom bagi anggotanya.

Organisasi berdiri dari suatu visi bersama. Ibaratnya rumah, visi adalah pondasi terkuat dari sebuah organisasi. Lenyap visi, matilah organisasi. Nah, penyebarluasan visi inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah organisasi yang sedang berkembang, Organisasi yang maju dengan jumlah anggota yang banyak tidak hanya “mengumpulkan” pasukan, melainkan “menciptakan” pasukan. Visi adalah modal utama yang bisa digunakan untuk itu.

Visi yang universal, mendasar dan menyentuh sumber masalah, tidak hanya diperlukan saat proses “penjualan”, tetapi juga untuk mempertahankan pangsa pasar di kemudian hari. Bukan tidak mungkin usaha untuk mencapainya mengalami kegagalan karena berbagai faktor.Di sinilah pentingnya komitmen bersama dan daya tahan anggota untuk terus mempertahankan pondasi agar tetap tegak berdiri.

Pengembangan dan pemberdayaan

Pemberdayaan organisasi menuntut keterlibatan secara penuh para anggotanya. Loyalitas terbentuk saat seseorang semakin sering terlibat, dan akhirnya menjadi “candu” baginya. Pertanyaannya adalah bagaimana membuat orang terlibat? Atau lebih sederhana, bagaimana membuat orang tertarik?

Tidak bisa dipungkiri lagi, seseorang mau melakukan sesuatu jika dia mendapatkan keuntungan entah secara material ataupun spiritual. Keuntungan ini yang sebenarnya menjadi daya tarik, daya penggerak untuk ikut terjun kedalam. Semakin cerdasnya masyarakat dalam berorganisasi menjadi PR  tambahan bagi para pelopor organisasi untuk mendapat lebih banyak simpatisan.

Ibaratnya pasar, pelopor organisasi adalah penjual dan khalayak ramai adalah pembelinya. Penjual yang baik tentunya akan memamerkan dagangan sedemikian rupa, sehingga para pembeli tertarik untuk membelinya. Di sinilah kemampuan para pelopor diuji untuk menjajakan visi organisasi yang dibentuknya, atau lebih mudah disebut sebagai “nilai jual”.

Cukup berhargakah “nilai jual” organisasi tersebut bagi masyarakat yang menjadi sasaran? Apa yang bisa diberikan kepada orang yang yang terlibat? Semakin tinggi “nilai jual”, pengaruhnya akan lebih mudah dirasakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran. Keinginan terlibat menjadi lebih besar, bahkan tanpa ajakan dari siapa pun, Dengan sendirinya seseorang merelakan dirinya untuk bergabung, hingga para anggotanya mencapai suatu titik yaitu loyal.

Pasang surut organisasi

Saat ini banyak bermunculan organisasi baru (ormas, LSM, organisasi sosial), apakah ini berarti menunjukkan banyaknya keprihatinan di sekitar kita? Silakan temukan jawabannya dalam sesi tersendiri. Tujuan dari semua gerakan itu tentunya mulia (kecuali kelompok yang dibentuk untuk pengalihan isu atau meng-counter gerakan lain), entah di bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, politik, lingkungan dan sebagainya. Semuanya mengarah pada tujuan yang sama: kehidupan yang lebih baik.

Di tengah tren berkembang biaknya gerakan-gerakan baru, terdapat sebuah ironi yang sangat bertolak belakang, yaitu mandeg-nya organisasi yang sudah berumur sampai pada berakhirnya gerakan itu. Ini memang hal wajar jika kita menilik kembali pada sejarah yang lebih dulu membuktikannya. Pasang surut gerakan adalah masalah klasik, karena hampir semuanya mengalami. Pertanyaannya, apakah masalah yang dialami semakin menguatkan atau justru sebaliknya? Apa yang menyebabkannya? Apakah keprihatinan yang diperjuangkan sudah tidak berharga lagi? Pertanyaan yang lain yang harus dilayangkan kepada para pendiri adalah apakah cukup sampai di sini dan berhenti?

Memang banyak faktor yang mempengaruhi tumbangnya sebuah organisasi, mulai permasalahan internal hingga persinggungan dengan pihak luar. Berbagai masalah yang tidak berkaitan dengan visi justru lebih menyibukkan untuk diurusi. Apakah visi sudah tidak berarti? Bagaimana dengan cita-cita mulia yang diimpikan bersama?

Ada baiknya, merujuk kembali kepada visi: pondasi utama organisasi. Visi yang kokoh tentunya akan menyatukan kembali puing-puing yang runtuh. Semua anggota badan akan melupakan fungsi dan masalah pribadinya, yang utama adalah kesegaran badan untuk tetap dapat bergerak dan membuat perubahan. Saat pembentukan organisasi, penggalian visi secara lebih mendalam diperlukan untuk menemukan inti dari keprihatinan yang dihadapi.  Sebuah kebutuhan primer dan bukan hanya sekunder atau tersier. Kebutuhan yang akan selalu ada dan tetap ada, untuk kehidupan yang lebih baik.

Jangan menunggu untuk berbuat baik, karena banyak yang menunggu kebaikan anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here