Komisi Seminari KWI-PGU: Suster Bertanya, Yang Lain Keplok Menyemangati Mereka (3)

0
343 views
Sr. Franchine CB dari Komunitas Susteran CB Samirono Yogyakarta bertanya. (Mathias Hariyadi)

NAMA resminya sih memang program pembinaan untuk para frater teologan dan para pastor pembinanya dari tujuh Seminari Tinggi se Jawa.

Sayang, Seminari Tinggi Johannes Paulus II KAJ urung berpartisipasi dalam program besutan Komisi Seminari KWI dan Paguyuban Gembala Utama (PGU), karena mereka ada program internal.

Program formatio untuk penguatan kapasitas diri ini berlangsung di Rumah Retret Pangesti Wening Susteran Kongregasi OSF, 1-4 Juli 2019.

Yang pasti, program ini kian menjadi lebih menarik, lantaran ikut sertanya 12 orang suster lintas Kongregasi. Para suster biarawati ini datang dari Kongregasi CB, OSF, ADM, Abdi Kristus, dan Penyelenggaraan Ilahi (PI).

Sr. Patricia AK dari Komunitas Suster Abdi Kristus (AK) Wonosari membuka sesi pertama dengan doa. (Mathias Hariyadi)

Bahkan boleh dibilang, kehadiran para suster yang masa formatio mereka tidak pernah terjadi di seminari melainkan di tempat lain itu justru menambah semarak program pengembangan kapasitas keterampilan dan keahilan memproduksi paparan katekese iman.

Semaraknya kehadiran para suster itu sudah terasa gaungnya, ketika  berlangsung Misa Pembukaan mengawali program ini, Senin petang tanggal 1 Juli 2019.

Para suster biarawati itu langsung mengisi slot Bacaan Pertama, kidung bacaan Mazmur, dan yang tak kalah seru — mereka juga banyak bertanya.

Bebas bicara, bebas pula menjawabnya

Yang terakhir itu terjadi di malam pembukaan.

Ketika sesi pertama ceramah diampu oleh Fransiskus Endang SH, MSi, Direktur Urusan Pendidikan Kantor Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kemenag RI, para suster itu bersahutan mengajukan banyak pertanyaan.

Gaya bebas Fransiskus Endang SH, MSi dari Direktorat Jenderal Bimas Katolik Kemenag RI.

Awalnya, memang Endang pulalah yang meretas atmosfir bebas bicara dan siapa pun boleh bertanya tentang apa saja secara publik dan terbuka.

Rupa-rupanya, setelah sesi itu dibuka oleh Romo Untung Pr dari Keuskupan Bogor, kesempatan mengajukan Q&A itu langsung mendapatkan gaung lebih kencang lagi dari para suster yang banyak bertanya.

Mereka itu bertanya banyak hal. Dari peluang bisa mendapatkan bantuan program bina komunitas sampai hal-hal praktis bagaimana membuat proposal permohonan bantuan program bina komunitas.

Yohanes Wasisa mewakili tim kerja sinergis PGU dan Komisi Seminari KWI. (Mathias Hariyadi)

Menjadi menarik bahwa di forum program bina besutan Komisi Seminari KWI dan PGU ini tersedia banyak waktu bagi para suster untuk boleh bertanya dan mengemukakan pendapatnya secara bebas.

Ada yang bertanya apakah memungkinkan mendapatkan bantuan pemerintah untuk program formatio para Aspiran –calon Suster yang belum “ditanggung” biaya dari kota mereka berasal menuju tempat formatio.

Suster lain bertanya, apakah boleh mengajukan proposal bantuan dana pemerintah untuk program pembinaan guru dan OMK. Lainnya bertanya soal lain lagi.

Oleh Fransiskus Endang SH, MSi, semua pertanyaan itu dijawab lugas. “Tulislahsaja proposal itu dan kirim kepada kami,” jawabnya.

Bahwa nanti besaran permohonan dana bantuan itu tidak sesuai ekspektasi, maka harus dimaklumi bahwa sebaran bantuan dana itu dimanfaatkan oleh banyak pihak.

Suster Fransilia CB dari Komunitas Susteran CB di Yogyakarta tengah bertanya.

Giliran para suster bicara

Selama ini, forum-forum pertemuan antar komunitas religius semacam ini lebih banyak “dikuasai” oleh kaum berjubah pria alias para imam.

Menjadi mahfumlah kita semua ini, karena para frater calon imam ini memag sedari muda memang sudah dilatih untuk bisa tampil meyakinkan dan micara melalui public speaking.

Dengan senyum mengembang penuh percaya diri, Sr. Lucy OSF dari Muntilan minta informasi mengenai program bantuan dana pemerintah untuk formatio. (Mathias Hariyadi)
Sr. Luisa PI mengajukan pertanyaan kepada Fransiskus Endang.

Tetapi, di forum program bina pengembangan kapasitas besutan bareng Komisi Seminari KWI dan PGU ini, para suster lintas Kongregasi itu boleh dan bebas bicara apa saja. Pun pula,  pertanyaan yang mereka lontarkan di forum juga akan mendapat apreasiasi dan jawaban yang tak kalah mencerahkan.

Alhasil, sesi pertama di aula yag luas dan berlangsung di tengah hembusan hawa dingin Ambarawa itu, para suster dan Fransiskus Endang dari Kemenag RI berhasil mendapat banyak keplok tangan dari audiens peserta. (Berlanjut)

Dua suster Kongregasi OSF: Sr. Odillia OSF dan Sr. Bernadetta OSF.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here