Laporan dari Jepang: Biara MSC Seluas 3 Ha, Merawat Iman Kawanan Kecil di Nagoya (1)

1
1,061 views

WAKTU saya akhirnya mendapat kesempatan pergi  ke Nagoya di Jepang untuk mengunjungi para Konfrater MSC yang tengah berkarya di sana, saya lalu nakal bertanya–tanya mengapa sampai MSC bisa berkarya di Jepang?  Pertanyaan nakal itu muncul di benak dan hati saya, apalagi saya kemudian melihat di Negeri Matahari Terbit ini, MSC punya lahan seluas 3 ha.

Ya, di Kota Nagoya itu ada kompleks Biara MSC dengan areal tanah seluas 3 hektar. Letaknya pun sangat strategis: berada di pinggir jalan besar dan utama di Kota Nagoya dan sangat dekat dengan Stasiun Sentral di Nagoya. Cukup berjalan kaki 10 menit saja dari stasiun KA di Kota Nagoya menuju Biara MSC ini.

Lahan seluas 3 Ha

Tanah seluas 3 hektar di dalam Kota Nagoya itu hanya dipakai sebagian kecil untuk rumah Biara MSC dan rumah biara suster PBKH, gereja paroki dan Pastoran serta bangunan sekolah anak–anak TK. Selebihnya dipakai untuk lahan parkir di mana orang-orang Jepang lokal yang mempunyai mobil dan tinggal di apartement membutuhkan lahan tempat parkir dan kemudian menyewanya di situ.

Lahan satu hektar lagi telah disewakan untuk latihan mengemudi mobil. Dari hasil sekolah TK dan menyewakan lahan itulah,  MSC bisa mendapatkan income. Masih banyak halaman luas di halaman biara yang ditanami pohon–pohon sakura.

Mikokoro Center. (Ist)

Jadi kalau dinilai secara duniawi, maka lahan seluas itu dengan halaman lebar yang penuh pohon sakura adalah sebuah kemewahan yang tidak dimiliki oleh orang Jepang pada umumnya. Apalagi, semisal saja,  kalau lahan seluas itu kemudian  diubah fungsinya menjasi pusat bisnis dengan bangunan–bangunan besar dan tinggi. Andaikan begitu, maka Biara MSC dan Gereja Paroki cukup mengambil sebagian kecil saja sesuai dengan kebutuhan, maka tempat itu akan menghasilkan keuntungan finansial  yang sangat besar.

Tidak jauh dari tempat itu ada taman kota yang luas dan penuh dengan pohon–pohon tempat orang–orang berjalan atau berlari untuk olahraga, atau untuk sekedar duduk–duduk di taman sambil bercerita bila musim semi tiba. Dan tidak jauh pula dari taman itu terdapat istana atau kuil tempat tinggal para pangeran zaman dulu. Kuil itu dikelilingi oleh sungai buatan sebagai sarana perlindungan.

Para imam dan frater MSC

Para MSC yang berkarya di Jepang sekarang ini terdiri dari 5 orang asal  dari Indonesia, 3 dari Australia, 2 dari Filipina, 1 dari India dan 1 pastor asli Jepang. Jadi total ada 12 orang.

Pastor MSC asli Jepang berkarya sebagai dosen dan mengajar di Universitas Sophia di Tokyo milik Jesuit. Sementara, anggota MSC lainnya berkarya di paroki–paroki dan sebuah pusat pelayanan yang disebut Mikokoro Center untuk melayani orang–orang asing di Nagoya dalam misa bahasa Inggris.

Mengapa MSC sampai punya areal maha luas?

Tetapi yang menarik bagi saya dan mungkin juga layak untuk diketahui  bersama adalah peristiwa dadakan apa yang membuat Kongregasi Misionaris Hati Kudus  (MSC) itu sampai bisa hadir di Jepang?

Dari banyak cerita yang saya dengar saat berada di Nagoya itu,  akhirnya bisa dirangkai jalinan kisah cerita seperti ini.

Setelah Jepang kalah laga melawan Sekutu dalam Perang Dunia II  dan kemudian menyerah kalah di tahun 1945, maka di tahun-tahun itu ada seorang imam MSC asal Australia yang kebetulan saat itu berada di Negeri Matahari Terbit.  Pastor MSC asal Australia itu bernama Archie Bryson MSC dengan tugas pokok adalah reksa pastoral untuk para tentara Sekutu.

Pastor Bryson yang  bertugas melayani tentara katolik itu kemudian berpikir  bahwa  MSC harus hadir di Jepang. Ia kemudian berusaha supaya MSC bisa hadir untuk melayani umat katolik di Nagasaki.

Sungguh sangat  kebetulan –yang dalam perperktif iman sering kali disebut ‘penyelenggaraan ilahi’– pastor MSC asal Australia itu sekali waktu tengah dalam sebuah perjalanan kereta api bersama dengan Uskup Nagoya Mgr. Matsuoka.

Uskup itu lalu mengatakan kepadanya: “Tempatmu nanti di Nagoya.”

Pelayanan pastoral MSC di Nagoya. (Ist)

Bekas areal gudang dan pabrik

Sebagai pastor reksa pastoral di kalangan tentara Sekutu yang mempunyai akses kepada penguasa sesudah perang, maka Pastor Archie MSC bisa dengan mudah mendapatkan sebidang tanah luas dan kemudian berhasil  membelinya dengan harga yang sangat terjangkau. Dulunya, lahan seluas itu adalah areal gudang atau pabrik yang akhirnya kemudian ‘disulap’ menjadi tempat Biara MSC sampai sekarang ini.

Tanah itu begitu luas sampai  ‘menjorok ‘ ke arah jalan raya di depannya. Namun kemudian, Biara MSC bersedia menghibahkan sebagian lahan tanahnya untuk kepentingan uum yang sekarang menjadi jalan raya.

Jasa Pastor Archie MSC

Karena begitu besar jasa Pastor Archie MSC itu, maka sekarang ini  di ruang rekreasi Biara MSC di Nagoya ada patung setengah badan terbuat dari perunggu. Setelah itu, barulah kemudian di tahun-tahun sesudahnya  datang  dan pergi para misionaris  MSC dari Australia.

Dan sejak 28 tahun terakhir ini,  para misionaris Indonesia pun mulai ikut bergabung dengan mereka.

Pastor Martin Priyo Susanto MSC dan Pastor Sani Saliwardaya MSC adalah dua imam MSC Indonesia yang menjadi pioneer misionaris Indonesia pertama yang diutus ke Jepang. Mereka datang  menjadi misionaris MSC Indonesia ke Jepang karena diutus oleh Romo Provinsial MSC Provinsi Indonesia waktu itu: Pastor Josef Th. Suwatan MSC –yang  di tahun-tahun kemudian menjadi Uskup Keuskupan Manado dan kini telah menjadi Uskup Emeritus.

Ini sekadar catatan tambahan.  Romo Priyo Susanto MSC dan koleganya Romo Sani MSC adalah alumni Seminari Mertoyudan di Magelang. Romo Priyo masuk angkatan tahun 1976, sementara Romo Sani masuk KPA tahun 1979.

Novel dan film “Silence”

Umat Katolik di Negeri Matahari Terbit ini  berjumlah sangat sedikit. Sejarah iman katolik di Jepang  ditabur pertama kali oleh St. Fransiskus Xaverius SJ.

Seorang novelis Jepang bernama Shusaku Endo  menyebut nama–nama para imam misionaris Jesuit yang pertama kali berkarya di Jepang untuk mengenalkan iman kristiani. Mereka adalah Xaverius, Cabral, Valignano, dan Torres. Mereka semua adalah para misionaris perintis pewartaan Kabar Gembira  di Jepang.

Tahun-tahun itu, sekitar tahun 1549, pewartaan  iman katolik  itu mendapat sambutan yang baik sehingga karya pewartaan iman itu akhirnya menghasilkan buah yang baik.

Shusaku Endo pernah menyebut tempat yang bernama Hirado itu konon pernah dikunjungi oleh St. Fransiskus Xaverius.

Novel “Silence”. (Ist)

Biarpun orang Jepang sudah mempunyai ‘agama’ dan kebudayaannya sendiri, namun mereka menerima para misionaris  Jesuit tersebut dengan sangat baik. Atau minimal, pendudukk lokal  tidak menghambat para misionaris asing,  termasuk sikap bersahabat yang juga ditunjukkan  oleh kalangan para penguasa.

Suasana kondusif itu menjasdi berubah total, ketika pada akhirnya di  tahun 1587, seorang  shogun bernama  Hideyoshi berhasil merebut  kekuasaan dengan upaya keras. Suasana langsung berbalik, sejak ia banyak melakukan penganiayaan dan penindasan atas orang katolik dan para misionaris.

Shusaku Endo lalu menceritakan kisah penganiayaan itu dalam sebuah novel laris berjudul Silence. Novel itu telah diangkat ke layar lebar dan menjadi sebuah film laris oleh sutradara Martin Scorsese dengan judul sama: Silence.

Novel yang ditulis dalam bahasa Jepang itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya pada tahun 1969 oleh Sophia University Press di Tokyo, sebuah universitas terkenal milik para Jesuit.

Iman yang ditanam oleh St. Fransiskus Xaverius itu telah berakar begitu kuat dan mendalam di Nagasaki sehingga ketika zaman penganiayaan oleh Hideyoshi itu meletup, mereka berani membela iman sampai menumpahkan darah.

Kenangan akan kunjungan JP II

Kepada saya, seorang misionaris MSC dari Filipina, Pastor Joy, memberi buku berjudul The Twenty – Six Martyrs of Nagasaki yang ditulis oleh Diego Yuuki SJ.  Pastor Yuuki ini mengawali bukunya dengan menceritakan kembali peristiwa kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Jepang di tahun 1981.

“Pukul 05.20,  tanggal 26 Februari 1981, Paus Yohanes Paulus II tiba di Lapangan Nishizaka di Nagasaki. Salju yang turun pada hari sebelumnya telah melapisi seluruh kota bagaikan karpet putih. Paus bergerak perlahan dan  menyalami umat yang menyemut di lapangan Nagasaki itu. Kemudian Paus berlutut di depan Monumen 26 Martir Nagasaki itu dalam doa hening yang dalam dan lama. Kemudian Paus mengangkat mukanya dengan tersenyum sambil mengarahkan pandangan matanya kepada deretan patung perunggu para martir itu,” begitu tulisan itu dalam buku tersebut.

“Setelah itu, Paus mengucapkan sambutan ini: ‘Saudara–saudari, hari ini saya ingin menjadi salah satu dari banyak peziarah yang datang ke Bukit Para Martir Nagasaki ini.  Inilah tempat di mana umat kristiani memeteraikan kesetiaan mereka kepada Kristus dengan pengorbanan hidup mereka. Mereka mengalahkan kematian dengan sebuah tindakan yang tak mampu kita pahami demi memuliakan Allah’,” tulis buku itu lagi.

“’Dalam refleksi penuh doa di hadapan monumen para martir itu, saya ingin berusaha masuk ke dalam misteri hidup mereka, untuk membiarkan mereka berbicara kepada saya dan kepada suluruh Gereja, dan untuk mendengarkan pesan mereka yang masih tetap hidup setelah ratusan tahun. Seperti Kristus, mereka telah dibawa ke tempat di mana para penjahat dihukum mati. Seperti Kristus, mereka telah menyerahkan hidup mereka supaya kita semua percaya akan kasih Bapa, dalam karya penyelamatan Putera-Nya, dalam bimbingan Roh Kudus yang tidak pernah akan gagal. Di Nishizaka ini, pada tanggal 5 Februari 1597 (48 tahun umur umat yang ditanam oleh St. Xaverius) 26 martir telah memberi kesaksian tentang kekuatan Salib Kristus. Mereka adalah yang pertama dari buah kemartiran yang amat subur, karena sesudah mereka masih lebih banyak lagi para martir yang mengalami penderitaan dan kematian’,” begitu buku itu menulis. (Berlanjut)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here