Lentera Keluarga – Mendengarkan Nasihat

0
127 views

Tahun A-2. Pekan Adven 2
Jumat 13 Desember 2019. 
PW. Santa Lusia, Perawan dan Martir 
Bacaan: Yes 48:17-19; Mzm 1:1-6; Mat 11:16-19. 

Renungan:

KITAB Yesaya menunjukkan di satu sisi usaha Tuhan untuk mengajarkan dan memberikan hal-hal yang bermanfaat bagi kebahagiaan Israel tetapi di lain sisi  kebutaan Israel untuk menyadari dan mengusahakan apa yang baik dan penting untuk hidupnya. Sehingga melalui Yesaya Tuhan berkata : “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagaanmu akan terus berlimpah….” Tetapi de fakto tidak terjadi karena Israel tidak mendengarkan dan berjalan menurut permikiran dan pertimbangannya sendiri. 

Pengalaman ini juga terjadi dalam pengalaman harian kita. Kita tidak mendengarkan nasihat orang yang benar, karena kita berpikir “tidak apa-apa”. Ketika orang mengatakan kepada kita untuk “berhenti merokok”, “jaga makan”, “sediakan waktu olah raga setiap hari”.  karena kurang baik untuk kesehatan kita, atau. “belajarlah taat aturan lalu lintas”, kitapun tidak begitu mengindahkan karena “hal itu belum terjadi pada kita”.  Nasihat-nasihat itu “mental” karena kita berpikir belum terjadi; dan setelah terjadi biasanya baru kemudian kita menyadari. Inilah yang disebut sebagai kesadaran terlambat. 

Dalam relasi kita dengan pasangan ataupun dengan anak-anak kita, penting bagi kita untuk belajar mendengarkan nasihat baik yang diberikan kepada kita. Nasihat sesederhanapun itu diberikan bukan untuk kepentingan orang yang memberikan nasihat, tetapi semata-mata adalah untuk kepentingan kita. Apalagi jika nasihat-nasihat itu diberikan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Nasihat itu adalah pagar yang menjaga kita dan pengingat bagi kita supaya hidup kita berjalan benar dan baik. 

Sebagai gembala, penting bagi kita yang biasa berbicara dan memberikan nasihat ini juga mendengarkan nasihat orang lain berkaitan dengan cara kita hidup dan melayani. Kita tundukan gambaran diri kita sebagai orang yang bebas karena kewaenangan, pemegang kebenaran, merasa diri pandai, kesombongan kita, untuk belajar mendengarkan nasihat, sesederhana apapun nasihat itu. Apalagi ketika nasihat-nasihat itu diberikan oleh para pemimpin kita, berdasarkan masukan dari orang lain. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana gambaran orang yang mendengarkan nasihat Tuhan dan apa yang de fakto terjadi ketika tidak mendengarkan nasihat Tuhan. 

Refleksi:

Apakah aku dengan rendah hati mau mendengarkan dan mengambil manfaat dari nasihat-nasihat yang diberikan orang lain, orang yang kompeten maupun pemimpin kita?

Doa: 

Ya Bapa, aku memberikan telingaku sebagai seorang murid yang mendengarkan pengajaran dan nasihatMu dengan sukacita dan syukur. Amin. 

Perutusan:

Dengarkanlah nasihat orang lain yang mereka berikan untuk kebaikan hidup anda dengan sukacita dan syukur.

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here