Makna Bunda Maria Diangkat ke Surga

1
1,013 views
Lukisan Bunda Maria Naik ke Surga karya Basuki Abdoellah by Ist


SETIAP bulan Agustus ada sebuah hari raya terkait dengan Bunda Maria. Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (Maria Assumpta).

Hari raya ini dirayakan pada tanggal 15 Agustus yang didasarkan pada dogma (ajaran Gereja) yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII.

Keyakinan dan khotbah-khotbah tentang pengangkatan Bunda Maria ke surga sudah dimulai sejak abad ke-6. Namun sebagai sebuah dogma, hari raya ini baru ditetapkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 15 Agustus 1950.

Di dalam Gereja Katolik, hari raya merupakan tingkatan tertinggi dari perayaan pesta (Festum). Hari Raya adalah sebuah perayaan untuk memperingati peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus, Bunda Maria atau para rasul; di mana peristiwa-peristiwa tersebut merupakan peristiwa utama atau sentral dalam rencana keselamatan Allah.

Dalam Misa Kudus, perayaan hari raya biasanya ditandai dengan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sesuai (Bacaan Pertama, Mazmur, Bacaan kedua, dan Injil), pengucapan atau lagu Kemuliaan, dan Aku Percaya. 

Refleksi lewat lukisan

Merefleksikan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (Maria Assumpta) ini, saya teringat akan sebuah lukisan yang sangat terkenal karya Sang Maestro pelukis Indonesia, Basoeki Abdullah (1915-1993).

Salah satu lukisan mahakarya Basoeki Abdullah adalah Lukisan berjudul ”Maria Assumpta” atau juga dikenal dengan sebutan Bunda Maria ”Jawa”. Lukisan ini dibuat pada tahun 1935 ketika ia masih berusia 20 tahun. 

Kala itu Basoeki Abdullah sedang menempuh studi seni lukis dengan beasiswa untuk belajar di Academie voor Beeldende Kunsten (Academie Voor Beeldende Kunsten), Den Haag, Belanda.

Berkat bantuan Pastor Koch SJ, pada tahun 1933, dia memperoleh beasiswa tersebut dan berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Sebagai ucapan terimakasih atas beasiswa tersebut, Basoeki Abdullah muda mempersembahkan lukisan tersebut kepada para pastor Jesuit di Belanda.

Saat ini lukisan Maria Assumpta atau Bunda Maria ’Jawa’ itu disimpan di bangunan megah Aqua Viva, sebuah komunitas para Jesuit yang sudah berusia lanjut (adiyuswa) di Nijmegen, Belanda.

Di dalam lukisan itu, Bunda Maria dilukiskan sebagai seorang wanita Jawa yang berparas ayu, cantik dan anggun. Bunda Maria mengenakan kain parang, kebaya beludru berwarna gelap, serta dilengkapi dengan bros dan giwang yang biasa dipakai perempuan bangsawan Jawa. Selain itu, juga ada selendang dan kerudung berwarna putih yang menempel di tubuhnya.

Makin menarik lagi, lukisan yang berskala besar itu menggambarkan Bunda Maria sedang terangkat ke surga. Dia tampak melayang atau terbang di atas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dua gunung yang sangat terkenal di Pulau Jawa, terlebih di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambar Bunda Maria juga dilingkupi oleh awan dan sinar lembut yang memancar dari kedua telapak tangan dan kakinya. Selain itu, adanya dunia pertanian juga semakin memperindah lukisan itu. 

Di bagian bawah lukisan itu dilukis hamparan sawah, hutan-hutan, aliran sungai, dan juga pohon-pohon kelapa. Lukisan ini sangat mengesankan saya karena Bunda Maria seperti sedang memberkati tanah air Indonesia yang sangat subur dan kaya akan hasil bumi.

Sokoguru Kebajikan dan Iman Lukisan Basoeki Abdullah yang inspiratif tersebut memberikan pesan dan makna yang sangat mendalam dalam peziarahan hidup beriman kita zaman now ini.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, yang pernah mengunjungi Komunitas Aqua Viva dan melihat langsung lukisan tersebut, mengungkapkan”

”Karya ini sarat makna dan seperti tengah berbicara kepada kita bahwa terdapat kesatuan yang tidak terpisahkan antara kekuatan Illahi, alam, dan kita sebagai manusia di dalamnya. Lukisan Maria Assumpta ini terasa sangat Indonesia”.

Gereja meyakini bahwa Bunda Maria secara istimewa dipersiapkan Allah menjadi tempat kediaman Putra-Nya. Dia telah menjalani hidup dengan kesucian yang luar biasa, dan pada akhir hidupnya pasti mendapatkan keistimewaan dari Allah. Ajaran yang mengatakan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan merupakan suatu ungkapan dan keyakinan iman.

Manusia kehabisan kata-kata untuk bisa menjelaskan dan mengungkapkan penghormatan atau penghargaannya atas keistimewaan Bunda Maria itu. 

Pada tanggal 15 Agustus 2004, dalam homili yang disampaikan di Gua Maria Lourdes Perancis, Paus Yohannes Paulus II mengutip bacaan Injil Yohanes 14:3 sebagai dasar Kitab Suci untuk memahami dogma Pengangkatan Maria ke surga. 

Dalam perikop itu Kristus saat perjamuan terakhir-Nya menjelaskan ”Ketika Aku pergi dan menyediakan tempat untuk kamu, Aku akan datang kembali dan akan membawamu bersama dengan Aku, di mana Aku berada, di situ juga kamu harus ada”. Menurut teologi ajaran Katolik, Maria adalah sebuah jaminan dari pemenuhan janji Kristus itu.
Sementara itu saat memberikan wejangan dalam doa Malaikat Tuhan di Lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan pada tanggal 15 Agustus 2017, Paus Fransiskus menegaskan bahwa Maria adalah sokoguru kebajikan dan iman. 

Diungkapkan Bapa Suci Fransiskus, “Dengan membawa Yesus, Bunda Maria membawakan kita juga sebuah sukacita baru, penuh makna. Ia membawakan kita kemampuan baru untuk melewati saat-saat yang menyakitkan dan sulit dengan iman; ia membawakan kita kemampuan belas kasihan, saling mengampuni, saling memahami, saling mendukung. Maria adalah sokoguru kebajikan dan iman”.

Lebih lanjut disampaikan, “Kita mohon kepadanya untuk melindungi dan mendukung kita, agar kita sudi memiliki iman yang kuat, penuh sukacita dan berbelas kasih; agar ia membantu kita untuk menjadi orang-orang kudus, untuk bertemu dengannya suatu hari di surga”. 

Akhirnya, Paus Fransiskus mengajak kita untuk bersyukur, ”Dengan merenungkan dirinya hari ini naik ke surga, dalam penggenapan akhir rencana perjalanan duniawinya, kita berterima kasih kepadanya karena ia selalu berjalan di depan kita dalam peziarahan kehidupan dan peziarahan iman – ia adalah murid yang pertama”.

Selamat berpesta dan proficiat bagi Anda dan Gereja paroki Anda yang berlindung di bawah naungan Bunda Maria Assumpta (Santa Perawan Maria Diangkat ke surga).

PS: Tulisan ini sudah dimuat di Majalah PRABA, edisi Agustus 2019.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here