Membuka Hati bagi Sesama

0
170 views
Bahkan di Negeri Belanda dan Belgia pun, karya pendidikan dan kesehatan tetap menjadi perhatian para suster OSA.

MEMBUKA diri bagi orang lain membantu hidup kita menjadi lebih baik. Keterbukaan hati itu memberi keyakinan bahwa sesama kita adalah orang-orang yang memiliki niat baik untuk membantu kita.

Pernahkah Anda menonton Drama Film Televisi atau biasa disingkat FTV?

Keberadaan drama ini sangat populer. Salah satu yang menarik adalah tema cerita cukup singkat tentang kisah cinta.

Namun, ternyata ada kisah cinta yang mirip di FTV. Seperti tidak mungkin, tetapi ternyata benar-benar terjadi.

Ada seorang wanita Malaysia bernama Nur Afilah Amir Rusdi yang akhirnya menikah dengan pria, yang ditemuinya saat wanita ini sedang sedih di suatu mal.

Pria ini bertemu dengannya dan menghiburnya. Perempuan berusia 24 tahun ini bertemu dengan suaminya, ketika dia menangis di Paviliun Mall di Kuala Lumpur, Desember 2018 lalu.

Saat itu, Nur Afilah duduk di sebuah kafe di Paviliun Kuala Lumpur dan merasa tidak puas atas teman serumahnya.

Dia berkata, “Saya menangis ketika tiba-tiba, pria ini mendekati saya yang sedang sendirian. Dia mulai menghibur saya. Awalnya, saya waspada, karena saya sendirian. Saya takut dia akan mengambil keuntungan dari saya. Tetapi saya melihat bahwa dia tulus dan saya tersentuh oleh ketulusannya. Saya percaya ini adalah takdir dan Allah telah membawanya kepada saya.”

Pria itu adalah Adama Mohamed Camara yang berusia 26 tahun. Ia berasal dari Guinea, Afrika Barat. Ia sedang belajar untuk gelar master di Universiti Sultan Zainal Abidin di Terengganu.

Hati yang tulus

Banyak hal yang sedang kita pikirkan sering tidak terlaksana dalam hidup ini. Namun apa yang sering kita tidak pikirkan justru terjadi dalam hidup ini. Kesedihan justru berubah menjadi kegembiraan.

Hidup orang lalu menjadi kesempatan untuk menumbuhkembangkan berbagai kemampuan yang ada dalam dirinya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk terus-menerus membuka hati kepada kebaikan hati dari orang lain. Gadis itu membuka hatinya saat dia sedang mengalami kesulitan hidup. Kesedihan itu berubah menjadi kegembiraan, ketika ia menemukan suatu kekuatan dari sesamanya. Cinta pun akhirnya bersemi di antara mereka.

Tentu saja tidak mudah membuka diri bagi orang lain, apalagi orang itu belum dikenal. Ada berbagai rasa enggan untuk mengungkapkan isi hati kepada orang lain.

Apalagi kalau orang merasa diri mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Orang kemudian membentengi dirinya dari bantuan orang lain.

Karena itu, yang dibutuhkan dari kita adalah dalam situasi yang sulit, kita berani membuka hati kepada sesama kita. Kita mesti memiliki pemikiran yang positif terhadap uluran tangan dari sesama yang ada di sekitar kita.

Dengan demikian, hidup kita menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama.

Tetap semangat, sahabat-sahabat. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here