Menjelang Sadranan, Warga Lakukan Sembahyangan Bergantian

0
376 views
Ibadat sabda sadranan di beberapa lingkungan di Paroki Wedi Klaten. (Laurentius Sukamta)

RATUSAN umat Katolik di tiga lingkungan di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten, menggelar Ibadat Sabda (sembahyangan) Sadranan pada Minggu (21/5/2017) malam.

Sadranan adalah tradisi masyarakat Jawa untuk mendoakan arwah para leluhur yang dilakukan pada bulan Ruwah.

Ibadat Sabda Sadranan ini digelar pada malam menjelang Sadranan yang dilakukan di makam setempat pada siang atau sore harinya.

Ibadat Sabda Sadranan

Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santa Clara Ceporan dilakukan di jalan pertengahan antara Makam Dukuh Kulungan dan Makam Dukuh Gamelan, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Ibadat Sabda dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Antonius Supriyadi.

Kesempatan bisa berkumpul sanak-saudara.

Sekitar 60 umat dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai orangtua menghadiri ibadat ini. Nampak hadir juga, para ahli waris dari luar Klaten, seperti dari Yogyakarta. Mereka nampak gembira karena bisa bertemua dengan para saudaranya.

Sebelum ibadat, dibacakan ujud (intensi) doa untuk mendoakan arwah yang dimakamkan di tempat itu. Dalam ibadat ini juga dilakukan doa Rosario dan pembacaan renungan Bulan Katekese Liturgi.

Sedang Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santo Ignatius Ceporan dilakukan di Bangsal Makam Wismo Eko Ronggo Bantolo Dukuh Gatak Jarakan, Desa Ceporan. Ibadat Sabda dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Yohanes Suparji.

Sekitar 50 umat dari anak-anak hingga orangtua mengikuti ibadat yang digelar di bawah pohon asem besar itu. Hadir juga, para ahli waris dari luar lingkungan tersebut. Sebelum ibadat, petugas membacakan ujud doa untuk mendoakan 110 nama arwah dari para ahli waris yang dimakamkan di tempat itu.

Dalam ibadat itu, kolekte terkumpul Rp 129 ribu. Kolekte tersebut kemudian diserahkan kepada pengurus Pangrukti Laya makam setempat.

Sementara itu, Ibadat Sabda Sadranan di Lingkungan Santa Monica Ceporan dilakukan di rumah FX Sukardi di Dukuh Kebon Agung, Desa Ceporan. Ibadat Sabda dipimpin oleh Prodiakon Paroki Wedi Christian Komang Luky Nilamdana.

Sekitar 50 umat hadir memenuhi rumah mantan Kepala SD Kanisius Murukan Wedi itu. Hadir juga, para ahli waris dari luar Desa Ceporan.

Dalam kotbahnya, Prodiakon Antonius Supriyadi menyampaikan, Ibadat Sabda Sadranan ini diadakan untuk mendoakan arwah yang dimakamkan di tempat tersebut, dan juga di makam-makam yang lain.

Tirakatan bersama lingkungan sekitar dan sanak-keluarga.

 

“Sadranan adalah tradisi yang baik, maka perlu dilestarikan. Karena dalam sadranan ini, kita (umat) bisa mendoakan para arwah, kita bisa berkumpul, guyub, dan bisa bertemu dengan saudara-saudari yang lain,” katanya.

Menurutnya, sadranan ini sesuai dengan renungan BKL tahun 2017 yang mengusung tema “Tradisi Doa Katolik”, terlebih pada renungan hari ke-21 yang menyampaikan tentang “Budaya lokal dan Penghayatan Iman”.

Budaya lokal

Penggunaan unsur-unsur budaya religius lokal atau setempat memang diperkenankan oleh Gereja, sejauh unsur-unsur budaya itu mendukung penghayatan iman kristiani yang autentik  dan tentu saja tidak bertentangan dengan norma-norma iman dan susila dari Gereja. Dalam konteks liturgi atau peribadatan, unsur-unsur budaya setempat, asalkan tidak terikat pada takhayul atau ajaran sesat, dan khususnya selaras dengan hakikat semangat liturgi yang sejati dan asli, dapat ditampung dalam liturgi atau peribadatan (Sacrosanctum Consilium 37).

Ada yang menarik dalam Ibadat Sabda Sadranan ini. Usai Ibadat Sabda dilanjutkan dengan acara tahlilan yang dilakukan oleh warga Muslim di sekitar makam. Mereka melakukan tahlilan di tempat yang sama secara bergantian. Setelah tahlilan, warga dan para ahli waris mengadakan tirakatan (bermalam sambil berdoa dan bersilaturahmi) sesuai dengan kemampuan fisiknya.

Mereka berbaur menjadi satu, tanpa sekat, tanpa memandang latar belakang dan agamanya. Mereka nampak guyub, rukun, dan bersatu. Sungguh, pemandangan yang begitu indah.

Kredit: Laurentius Sukamta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here