Mensyukuri Kelahiran

0
181 views
Ilustrasi: Lukisan Yesus dan Maria di Basilika Maria-Maggiore di Roma by Mathias Hariyadi.

PADA bulan September, Gereja merayakan Pesta Kelahiran Bunda Maria. Pesta ini dirayakan setiap tanggal 8 September.

Saat merefleksikan Pesta Kelahiran Bunda Maria ini, saya teringat akan sebuah keluarga yang selalu memberikan nama ‘Maria’ kepada semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.

Keluarga itu adalah keluarga pasutri Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Agnes Soekarti Pudjosumarto.

Pasutri tersebut memang selalu menyisipkan nama ‘Maria’ pada nama anak-anak mereka.

Untuk anak laki-laki nama ‘Maria’ ditulis sesudah nama permandiannya. Sedangkan untuk anak perempuan, nama ‘Maria’ ditulis sebelum nama permandian.

Dari perkawinan Bapak Hubertus Soekarto Pudjosumarto dan Ibu Agnes Soekarti Pudjosumarto ini, lahirlah 9 anak sebagai buah cinta mereka (3 laki-laki dan 6 perempuan).

Inilah kesembilan anak mereka:

  • Ignatius Maria Ismartono (imam Serikat Yesus).
  • Maria Bernadetta Retno Martani.
  • Alm. Mgr. Johannes Maria Trilaksyanta, Uskup Agung Semarang 2010-2015 dan sebelumnya Uskup Keuskupan Bandung.
  • Maria Theresia Dyah Widiarti.
  • Maria Immaculatta Dewi Sri Lestari.
  • Maria Agustina Sri Partini.
  • Maria Caecilia Sri Harini.
  • Johannes Berchmans Maria Bagus Nugroho.
  • Maria Chatarina Isti Maretrett.

Pertanyaannya, mengapa pasutri tersebut memberikan nama Maria kepada kesembilan anaknya?

Pemberian nama ‘Maria’ ini tentu bukan tanpa penyebab.

Dalam buku Menghidupi Teologi Berkah bersama Mgr. J. Pujasumarta (Kanisius, 2018), diuraikan bahwa pasutri tersebut adalah pengagum fanatik Bunda Maria. Selain itu, sosok Maria menjadi perekat kuat hubungan mereka berdua.

Pada waktu itu, dikisahkan Soekarto mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama ketika memandang Soekarti yang bekerja sebagai perawat di Rumah sakit Boro, Kulonprogo, Yogyakarta.

Soekarto berhasil merebut hati Soekarti setelah berdoa novena tiga kali Salam Maria selama sembilan kali di Gua Maria Sendang Sono, Promasan, Yogyakarta.

Dengan kata lain, dengan perantaraan Bunda Maria-lah, Tuhan menyatukan pemuda Soekarto dan pemudi Soekarti yang kebetulan bernama nyaris serupa ini. Untuk itulah, nama Maria sebagai pemersatu keduanya selalu ingin mereka abadikan dalam buah cinta mereka.

Makna pesta kelahiran
Peristiwa kelahiran adalah peristiwa syukur dan sukacita. Kitab Suci selalu mewartakan bahwa orang beriman selalu menyambut kelahiran dengan sukacita dan penuh pengharapan.

Sebut saja misalnya kisah kelahiran Samuel, kelahiran Yohanes Pembaptis, kelahiran Yesus, dsb.

Kita memang tidak mempunyai informasi biblis dan historis tentang kapan dan di mana Bunda Maria dilahirkan.

Penyebutan nama Santo Yoakim dan Santa Ana sebagai orangtuanya pun berdasarkan Tradisi dan Injil Apokrif. Informasi tentang kelahiran Bunda Maria ditemukan dalam kitab Proto-Injil Yakobus, sebuah Kitab Apokrif yang telah ada antara tahun 100 hingga 200 M.

Mulai bab V dalam Kitab Apokrif tersebut disampaikan informasi detil mengenai kelahiran Bunda Maria.

Tradisi Pesta Kelahiran Bunda Maria diperkirakan berasal dari Yerusalem sekitar abad VI. Tetapi sejak sekitar abad V sudah terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem.

Sophronius, seorang Patriarkh (Beatrik) Yerusalem, menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran Bunda Maria.

Pesta kelahiran Bunda Maria yang berawal dari tradisi Gereja Timur ini mulai berkembang di Gereja Barat menjelang abad VII.

Paus Santo Sergius I menyusun sebuah doa litani dan prosesi yang menjadi bagian dari perayaan liturgi pada hari pesta ini.

Paschasius Radbertus menulis bahwa pesta ini disebarluaskan ke Gereja di seluruh dunia dan menjadi sebuah pesta di Gereja Latin pada tahun 1007.

Pesta ini ingin menunjukkan betapa besar Gereja Katolik mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai perempuan yang mempunyai peranan besar di dalam karya keselamatan Allah.

Kelahiran Bunda Maria merupakan sebuah sukacita yang besar, karena menjadi “fajar keselamatan”, sebagaimana yang diajarkan Paus Paulus VI dalam Anjuran Apostolik Marialis Cultus tentang devosi kepada Bunda Maria dan pengembangannya, 2 Februari 1974.

Pesta Kelahiran Bunda Maria ini juga mau menyampaikan pesan bahwa dunia telah lama berada dalam kegelapan dosa dan dengan kedatangannya muncullah seberkas terang.

Terang yang muncul pada kelahiran Santa Perawan Maria ini mengawali kedatangan Kristus, Sang Terang Dunia. Kelahiran Bunda Maria menjadi awal dari dunia yang lebih baik (Origo mundi meliorism).

Kehadiran Bunda Maria di dunia ini tidak terpisahkan dari Yesus Kristus. Bunda Maria menerima panggilan luhur dan peran yang unik dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kelahiran Bunda Maria menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah keselamatan manusia. Kelahirannya menjadi kabar sukacita bagi umat manusia.

Kehadiran Bunda Maria merupakan salah satu ‘cetak biru’ Allah untuk menyelamatkan umat manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Maka, Gereja Katolik memberikan tempat yang istimewa bagi Bunda Maria.

Salah satunya adalah dengan merayakan hari kelahirannya.

Sumber: Majalah Praba, edisi September 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here