Merajut Semangat Kebangsaan Bersama Inayah Wahid di Gereja St. Antonius Kendal

0
335 views
Inayah Wahid, puteri bungsu almarhum Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Paroki Kendal).

SIANG itu, hujan mulai turun di pelataran Gereja St. Antonius Padua Kendal, Jateng. Tetapi tidak menyurutkan niat orang-orang muda lintas iman untuk berkumpul bersama menyambut kedatangan Inayah Wahid, puteri bungsu KH Abdulrahman Wahid (Gus Dur).

Inayah menghadiri acara Haul Gus Dur di Kaliwungu, Kendal. Di sela-sela waktunya, Inayah menyempatkan diri berdialog dengan kaum muda lintas iman di Gereja Kendal.

Hadir dalam acara ini OMK Paroki Kendal, Paroki Weleri, Kelompok IPNU, IPPNU, Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), PMK, Gusdurian, Perwakilan dari FKUB Kabupaten Kendal, para pamong umat dan Dewan Harian Paroki Kendal.

Acara dialog dilakukan di aula Paroki St. Antonius Padua Kendal pada hari Minggu, 20 Januari 2019.

“Kalau kita tidak bisa bertemu dalam iman, kita bisa bertemu dalam kemanusiaan,” ungkapan bijak itu terlontar oleh Inayah Wahid mengutip apa yang disampaikan almarhum Gus Dur.

Inayah mensharingkan bagaimana ayah kandungnya almarhum  Gus Dur tanpa henti selalu berjuang untuk membela kelompok-kelompok minoritas. Ini karena kelompok minoritas itu adalah warga negara yang mempunyai hak-hak sama di Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Kaum muda diajak untuk mewarisi nilai-nilai perjuangan Gus Dur tentang keadilan dan kemanusiaan.

Kaum muda lintas agama berdiskusi bersama Inayah Wahid di Aula Gereja St. Antonius Paroki Kendal.

Narsum lain

Selain Inayah Wahid, dialog juga menghadirkan Mbak Shunniya dari IPPNU. Ia mengimbau kepada kaum muda untuk terbuka wawasannya terhadap masalah kebangsaan.

“Janganlah kita ini mudah kagetan, gagap, terpancing. Apa-apa agama, apa-apa agama. Masalah kebangsaan ini jauh lebih urgen untuk kita hadapi bersama,” seruannya.

Inayah juga mengajak kaum muda untuk peka dan jeli melihat persoalan-persoalan keadilan di tengah masyarakat. Sekarang banyak orang memakai identitas sebagai alat untuk membuat pembedaan dan perpecahan.

Oleh karena itu, privilese (hak-hak istimewa) yang kita punyai mesti digunakan untuk membantu mereka yang lemah, tertindas, kurang diperhatikan. Yang punya keistimewaan dalam belajar harus membantu mereka yang lemah dan tak punya kesempatan belajar.

Yang punya privilese dalam bidang ekonomi harus membantu yang miskin.

Diskusi kebangsaan bersama Inayah Wahid dengan para peserta kaum muda lintas agama dari Paroki Kendal dan Paroki Weleri, Jateng.

Acara ini dimeriahkan dengan kolaborasi kaum muda Katolik dengan Komunitas Gusdurian, IPNU, persembahan tarian sufi, puisi dan lagu kebangsaan. Kaum muda lintas iman melebur menjadi satu keluarga dalam persaudaraan.

Kebersamaan ini lebih-lebih di kalangan orang muda adalah bekal dan fondasi yang kuat untuk merajut semangat kebangsaan.

Sore itu tanah yang basah oleh gerimis, tetap terasa hangat karena senyum kebersamaan antar orang muda dari berbagai lintas iman yang merajut semangat kebangsaan.

Nilai-nilai Gus Dur yang berjuang untuk Indonesia yang satu dalam wadah kebhinnekaan meresap damai dalam hati orang-orang muda.

Mbak Inayah, Mbak Sunniya, terimakasih telah menyalakan lilin kecil untuk orang-orang muda.

Selamat berjuang menyalakan lilin di mana-mana agar NKRI, Pancasila, UUD dan Bhinneka Tunggal Ika terus berkobar di dada kaum muda.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here