“Mewartakan di Lingkungan: 50 Tema dan Gagasan Pokok”, Panduan Ringkas Bina Komunitas Kristiani Matang

0
557 views
Buku "Mewartakan di Lingkungan: 50 Tema dan Gagasan Pokok". (Ist)


IDE dasar buku ini berangkat dari pengalaman riil penulis. Tidak hanya itu, buku ini lahir atas beberapa keprihatinan dalam proses pertemuan di lingkungan.

Penulis, Hardi Sastra Atmaja, adalah seorang katekis di Keuskupan Surabaya.

Hari-hari hidupnya, Hardi membagikan ilmunya pada lembaga pendidikan calon katekis STKIP Widya Yuwana Madiun dan mengampu mata kuliah pastoral, musik gerejawi, dan dinamika kelompok dalam pastoral.

Dua bagian

Secara runtut dan sistematis, buku ini dibagi dua bagian besar.

  • Bagian pertama bahan pendalama iman berisi tema, gagasan pokok, dan teks Kitab Suci.
  • Pada bagian kedua memaparkan model-model katekese.

Secara alfabetis ke-50 tema katekese penulis tawarkan kepada pembaca. Misalnya tema-topik itu di antaranya aborsi, anak, gosip, iri hati, kesendirian, komuni, korupsi, memaafkan, rendah diri, sakit, sumpah, surga, dan uang.

Tidak mengawang

Dengan tegas dalam pengantarnya,  Hardi menulis, ulasan setiap tema, sengaja dibuat ringan. Prinsip yang dikembangkan dalam buku ini adalah sedikit tetapi mendalam, daripada banyak bahan tapi dangkal.

Ajaran ringan dan praktis tetapi menyentuh yang esensial itu lebih baik, daripada mendalam tetapi diawang-awang tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari, akhirnya mubasir dan katekese tidak menawarkan apa-apa bagi penghatan iman kristiani, hlm 6.

Dalam bagian pertama, secara sistematis, jelas dan gamblang penulis memaparkan tema, ulasan atau gagasan pokok dan dasar Kitab Suci sesuai dengan temanya. Ulasan sebagai pokok pikiran digarap secara ringkas dan padat.

Waspada terhadap kemalasan

Beberapa contoh. Tema ke-3 tentang bekerja, hlm 18-20.

“Kerja” berasal dari bahasa Sanskerta: tindakan, usaha, sesuatu yang diperbuat. Dalam bahasa Yunani yang berarti bersusah-susah, dan mau berlelah-lelah.

Orang yang bekerja adalah orang yang melakukan sesuatu dengan susah payah, berlelah-lelah untuk mencari nafkah atau mata pencaharian.

Dalam konteks bekerja, St. Paulus menegaskan antara lain, jadilah seorang pekerja yang berkenan di hadapan Tuhan, atau waspada terhadap kemalasan, atau orang malas selalu mencari alasan untuk tidak bekerja.

Atau contoh lain. Tema ke 14 tentang hari Minggu, hlm 46-47.

“Minggu” berasal dari kata bahasa Portugis, Dominggo, artinya hari Tuhan.

Kata itu, dalam bahasa Melayu dieja menjadi dominggu, dalam perkembangannya menjadi Minggu, yakni hari pertama dalam pekan.

Pada hari Minggu, orang-orang Kristiani berhenti bekerja untuk dengan gembira mengenangkan kebangkitan Kristus, karya penciptaan Allah, dan kedatangan Roh Kudus.

Hari Minggu bagi orang Kristiani merupakan hari pertama dan hari utama dalam setiap pekan.

Korupsi itu keji

Tema ke 33 mengenai korupsi, hlm 94-95.

“Korupsi” dari bahasa Latin corruptio, corrumpere yangbermakna merusak, memperburuk, menggoyahkan, memutar-balik, atau menyogok.

Korupsi termasuk kejahatan.

  • Tindakan korupsi merupakan salah satu bentuk pelanggaran perintah ketujuh, jangan mencuri.
  • Tindakan mencuri adalah sesuatu perbuatan menyeleweng dengan memakai uang atau barang yang bukan miliknya, untuk kepentingan sendiri. Korupsi, sekecil apa pun nilainya, adalah sebuah kekejian.

Yang tidak kalah menarik dari buku karya Hardi Sastra Atmaja ini adalah pada bagian kedua. Dalam bagian ini diuraikan dengan gamblang kesepuluh contoh model katekese, hlm 137-212.

Umat antusias

Model-model katekese yang ditawarkan Hardi yakni model katekismus, model shared Christian praxis (SCP), model SOTARE, model tiga tahap, model pengacara, model katekese umat, model katekese Alkitabiah, model katekese metode analisis SWOT, model katekese berbasis budaya, dan model katekese berbasis seni.

Dalam pelaksanaan pemilihan dan pemakaian model katekese lebih dimaksud agar materi atau bahan yang disampaikan tidak membosankan bagi peserta.

Perlu dipahami pemilihan tema tertentu dengan pemakaian yang model katekese yang tepat akan menumbuhkan iman umat. Umat antusias mengikuti pertemuan baik di lingkungan, basis, komunitas atau stasi.

Contoh tema tentang dosa besat memakai model katekese katekismus. Tema sakit didekati dengan model katekese shared Christian praxis (SCP), tema ketagihan memakai model katekese SOTARE (situasi, fakta objektif, tema, analisis, rangkuman, aksi dan evaluasi), atau tema aborsi menggunakan model tiga tahap yakni melihat, menilai, melaksanakan-bertindak.

Butuh persiapan

Buku ini tentu sangat bermanfaat dalam pendalaman iman, pertumbuhan dan perkembangan iman umat baik di tingkat basis, lingkungan, komunitas atau stasi.

Karena itu, pantaslah buku ini dibaca oleh para pemandu, katekis, Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, Prodiakon atau asisten imam.

Penulis buku berpesan kepada para katekis atau para pemandu pertemuan iman di lingkungan, stasi atau komunitas kristiani, “hindari pemanduan berkatekese tanpa persiapan yang memadai,” hlm 9.

Data Buku:

  • Judul: Mewartakan di Lingkungan: 50 Tema dan Gagasan Pokok.
  • Penulis: Hardi Sastra Atmaja.
  • Penerbit: Kaniusis, Yogyakarta: April 2019.
  • Tebal: 216 hlm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here