Ngonthel ke Gua Maria Jatiningsih, Cara Ziarah Milenial Bruder Novis MTB

0
330 views
Ilustrasi: Para Bruder Novis MTB bersepeda ria dengan gembira sejak berangkat dari Novisiat ke Gua Maria Jatingningsih di Klepu, DIY. (Ist)

DALAM rangka menutup Bulan Rosario Oktober 2019, Peringatan Semua Arwah Orang Beriman dan Hari Raya Orang Kudus, para Bruder Novis Kongregasi Bruder MTB (Maria Tak Bernoda) melakukan ziarah ke Gua Jatiningsih, Klepu, Yogyakarta. Perjalanan ziarah ini tepatnya terjadi Minggu, 3 November 2019.

Mereka menggunakan transportasi sepeda onthel dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam 30 menit dari Novisiat Gedong Kuning, Bantul, Yogyakarta.

Program ini, merupakan agenda  bersama setiap tahun khususnya pada bulan Mei dan Oktober.

Mereka selalu memilih tempat bervariasi untuk melakukan ziarah bersama. Misalnya  Oktober 2018, mereka berziarah ke Gua Maria Sriningsih dengan menggunakan sepeda onthel dan Mei 2019 berziarah dengan berjalan kaki pulang pergi dari Novisiat ke Gua Maria Sendangsono.

Berbagai pengalaman  dalam berziarah, selalu menjadi kenangan terindah selama masa formasi. Gaya ziarah mereka tampil beda di tengah gerusnya tawaran transportasi yang selalu menggoda orang untuk menikmatinya dalam era budaya mileneal saat ini.

Hamparan padi di sawah Minggir Klepu begitu mempesona.

Hati mereka bicara

Br. Damasus berbagi cerita bahwa, tahun ini sangat kental dengan pengalaman persaudaraan bergaya Fransiskan.

“Saya sangat senang dengan ziarah kali ini, karena kami kompak sejak start pukul  07.00 WIB sampai pukul  09.30 WIB di Gua Jatingsih dengan saling menguatkan, meneguhkan dan menghibur disaat beberapa teman lelah dalam menggayuh sepeda”.

Biarawan dari Kupang ini menguatkan  kesembilan temannya dengan humornya yang ‘kocak” dan ‘gokil’.

Sesama ‘con-novisnya’  mempercayainya untuk membawa perlengkapan sepeda, bila mana di tengah perjalanan ada yang sepedanya mengalami kerusakan. Alat-alat yang disiap seperti pompa dan pentil dan lain sebagainya.

Ziarah gaya kaum muda milenial.

Selama dalam perjalanan, Damas berformasi di antara  kesembilan teman-temanya. Mereka sejenak berhenti 15 menit untuk merelaksasi diri dan mengisi kelelahannya dengan  seteguk air putih yang sudah disiapkan masing-masing dari Novisat.

Di sinilah Damas memainkan kata-katanya untuk menggoda teman-teman yang mulai letih dengan nada humornya yang berciamik, dan bergaya ‘satir’.  “Helo bro…..tetap fokus batinmu ke Jatiningsih yah…. sebab ‘Mbak Ningsih’ lainnya tinggalkan dulu demi Yesus lho bro”.

Celoteh Damas sambil tertawa terkikih-kikih di atas sepeda onthenya peninggalan bruder misionaris Belanda.

Pengalaman Damasus dikuatkan oleh Bruder Egidius.

Menurut putera Dayak dari Keuskupan Sanggau Kalimantan Barat, ziarah kali ini sarat dengan kesederhanaan.

Egi sapaan akrabnya tidak malu ketika harus beradu cepat dengan aneka merk sepeda, motor dan mobil berkelas, saat perpapasan di  sepanjang jalan dari Tugu Yogyakarta menuju tempat ziarah Jatiningsih Klepu.

Mereka sambil tertawa merekah dan sesekali bersiulan sebagai pertanda dan penanda bahwa kesederhanan itu membuat bathin bahagia. Karena mereka tidak memikirkan budaya tandingan dalam persaingan alat-alat transportasi yang merknya makin hari makin bersaing di antara kapitalis.

Bagi Egi bersepeda banyak maanfaatnya selain mudah menggunakanya juga melatih fisik untuk kuat dan sehat. Pungkas Egi dengan nada riang dalam menceritakan pengalamannya.

Eksotisnya Gua Maria Jatingningsih di Klepu Yogyakarta.

Romantisme alam

Bruder Orlando, sangat bahagia dalam perjalanan ziarahnya. Selain menikmati saat melintas depan Tugu Yogyakarta, ia sangat senang menikmati hamparan sawah sepanjang perjalanan di area Godean dan Klepu.

Pemain gitar berbakat ini sesekali ia membidik situasi denga kamera sederhana milik komunitas untuk memotret panorama padi dan pohon sepanjang perjalanan.

Bagi Orlando  pengalaman pertama ke Jatiningsih tidak permah dilupakan. Ia kagum dengan bebagai jenis pohon di Gua dengan penataan yang begitu eksotis. Pohon-pohon jati dan aneka jenis pohon lain mampu memberi ruang agar para peziarah bebas menghirup udara yang segar dan sejuk.

“Wah… saya bisa berkontemplasi dan meditasi alam bila memungkinkan agak lama di tempat ini,” begitu komentar putera Keuskupan Larantuka ini dengan penuh semangat.

Orlando mengaku dengan jujur bahwa, di daerahnya  Lembata, NTT, jarang menemukan pemadangan hijau seperti di Jatiningsih.

Sudut-sudut yang mempesona di Warung Mang Engking Group Minggir Klepu Sleman,

Di bawah teduhnya pohon-pohon tersebut, ia mengiringi dengan lantunan musik saat berdoa bersama depan patung Pieta. Ia merasa seolah-olah ciptaan lain ikut bersyukur dan bersimpuh ditempat tersebut.

Sharing penyuka musik pop rohani ini dengan gembira.

Lain orang, lain perasaanya dan pasti berbeda juga cara menshringkan pengalamanya.  Seperti misalnya Br. Willy. Ia merasa bahwa meskipun tidak bisa berdoa depan Gua Maria Jatiningsih, tetapi tetap merasa kehadiran Bunda Maria dalam doa-doa pribadinya. 

Ketenangan tempat untuk bisa merenung dan bunyi guruh air dari Sungai Progo Kalibawang sangat terasa untuk mendukung dan menikmatinya untuk bisa  berdoa Rosario dan meditasi alam.

Menurut  putera berdarah Batak ini, tempat ini menjadi representatif gua gua yang lain. Banyak hal yang didapatinya dari ziarah ini dan itu misteri baginya. Begitu ucap Willy dengan penuh semangat.

Peziarah membludak

Para novis tidak bisa berdoa bersama tepat di depan gua Maria, karena banyak peziarah yang berdoa secara pribadi.

Mereka memilih tempat yang cocok sehingga doa bersama pun bisa dilaksanakan dengan baik. Mereka berdoa dengan penuh khusuk sambil diringi dengan lagu-lagu yang teduh bertema Bunda Maria.

Setelah selesai  berziarah, rombongan sempat mampir di Komunitas Suster Charitas Klepu dan Potulat Bruder Budi Mulia. Ini untuk sekedar menyapa  dan puncaknya menikmati panorama dan aneka kuliner di salah satu warung makan pinggiran sawah di Minggir, Klepu.

“Wah.. ziarah kali ini sunguh-sungguh bergaya milenial bangets, tidak harus mahal lho Bro,” cetus salah  satu novis yang tidak mau disebut namanya saat menikmati ikan kuah asam manis di Warung Mang Engking Group di Minggir Klepu, Sleman, DIY.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here