Papua, Kisah di Samping Kapel

0
987 views

Inilah kisah pada suatu senja di samping kapel megah, le Cocq d’Armandville. Kisah sendu berpedar bersama mentari yang bergerak lambat. Suatu senja yang didahului oleh gerimis, yang membasahi lantai batu alam hitam legam dan ranting-ranting cemara mungil yang ditanam tangan renta Bruder Prapta.

Mulut mungil Lina bertutur, “Sa pu tante sudah mau melahirkan. Tapi sulit. Sa tidak tahu kenapa e. Su hampir dua hari dia di rumah dibantu mama-mama dorang di kampung.” Aku menangkap, tidak ada bidan di kampung nan jauh di pedalaman itu. Tidak ada dokter juga.

“Katanya, mesti dibawa ke kota. Tapi kami cari pesawat pas tidak ada. Baru kalau carter ke kota juga mahal. Begini, mereka bawa sa pu tante dengan strada. Jalan jelek. Belum sampai di kota, sa pu tante meninggal.”

Ingatan Lina terbang ke suatu hari pada beberapa tahun lalu, ke suatu kampung di pedalaman Papua, pada suatu kematian yang tragis dan menyesakkan dari orang-orang tercintanya: tante dan bayinya.

Aku tidak lagi bisa berkata-kata. Kulihat sepasang mata cemerlang berkaca-kaca. Butir air hampir menggelinding dan menyatu dengan sisa gerimis hari itu.

Kapel yang megah ini tidak cukup lebar untuk menampung air mata Lina karena kemegahan itu tidak bersahabat dengan duka seorang gadis belia yang mungkin beberapa tahun lagi bisa mengalami kisah tragis yang sama.

Seandainya Lina mengalami kisah duka serupa, kapel ini akan tetap berdiri tegak dengan angkuhnya dan menunjukkan ketidakmampuannya untuk memahami air mata.

Mengapa begitu? Mungkin karena kapel ini tidak dilengkapi oleh telinga dan mata hati yang mengerti bahasa airmata seorang gadis belia, Lina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here