Para Pastor Tentara Bertemu Paus Fransiskus di Vatikan (3)

0
245 views
Romo Letkol AU Yos "Yote" Bintoro Pr bertemu Paus Fransiskus di Vatikan dengan seragam militer. (Ist)

HASIL jajak pendapat mengenai citra TNI terus membaik didapat dari polling lembaga surve kredibel dari Majalah Tempo, maupun hasil survei Litbang Kompas, bagian dari harian terkemuka Indonesia. 

Hasil survey menyatakan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja, modernisasi dan profesionalisme TNI dan Kepolisian Republik Indonesia.

Menariknya, hasil survei itu disampaikan di tengah menghangatnya suhu politik Indonesia menjelang dan saat pesta demokrasi pemilihan umum 2019 di Indonesia, kehadiran aparat keamanan Indonesia mampu meredam dan dan menghadirkan suasana yang kondusif.  

Pertama, aparat keamanan pun dinilai masyarakat cepat bergerak dan mengambil insiatif dalam menangkal gerakan kelompok radikal seperti teroris, sehingga sanggup membatalkan niat kelompok-kelompok radikal untuk melaksanakan kepentingan agenda politik mereka yang berlawanan dengan kesatuan dan persatuan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat. 

Secara umum, baik TNI sebagai kekuatan militer Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia, masih dicintai dan sangat dipercaya oleh masyarakat Indonesia. 

Kunci kekuatan itu terletak pada aktualisasi sinergitas, koordinasi dan kerjasama TNI dan Kepolisian Republik Indonesia yang nyata di tengah kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.  

Kedua, mengenai proses pelayanan pelayanan rohani merupakan pendampingan hidup rohani umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri dalam bentuk pelayanan penerimaan berkat sakramental.

Bentuk pelayanan lainnya adalah pendampingan pendidikan di lingkungan lembaga pendidikan militer di Indonesia guna:

  • memberi bentuk pada jiwa-rohaniah, kepribadian, karakter, dan kebangsaan Indonesia yang religius, nasionalis serta militan dengan melasanakan pelayanan yang bersifat partisipatoris dan dialogis, baik bagi komunitas-komunitas Kristiani (Katolik maupun Protestan);
  • mengembangkan kebersamaan hidup yang inklusif dengan umat Muslim sebagai kelompok masyarakat beriman yang terbesar di Indonesia (dan di negara berpenduduk Muslim dunia), termasuk dengan kelompok umat Hindu, Buddhist  dan Konghucu yang diakui keberadaannya oleh pemerintahan Republik Indonesia.     

Secara khusus umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri diajarkan katekese berupa sejarah Kekatolikan yang diwariskan pendahulu beriman kepada generasi beriman Katolik selanjutnya yaitu: warisan cinta akan Tanahair.

Berbagai sharing dan tanggapan yang sangat hangat dan ekspresif mewarnai dinamika diskusi kelompok.  Perwakilan dari Ukraina misalnya mengisahkan bahwa pelayanan “military chaplain” menjadi andalan untuk membangun relasi yang rusak akibat perang.

Perwakilan dari Kenya menyampaikan bagaimana melindungi para pengungsi dari target-target kekerasan bukanlah hal yang mudah.

Tidak cukup seorang pelayan rohani hanya memiliki komitmen yang besar pada pelaksanaan tugas, tetapi bagaimana juga memiliki bekal kemampuan untuk memahami persoalan keamanan manusia (human security) yang kerap berhadapan dengan situasi-situasi lokal yang berbeda dengan prinsip-prinsip dasar pemuliaan manusia.

Terutama perlakuan terhadap masyarakat sipil di bawah umur yang sering diindoktrinasi atau dijadikan pekerja bersenjata, kaum wanita, pengungsi, baik yang sehat dan terutama yang sakit.

Ancaman Perang Asimetrik bersifat lokal dan lama

Kompleksitas penanganan pelayanan rohani di lingkungan militer saat ini berhadapan dengan godaan kelompok bersenjata melakukan aksinya. 

Jika dulu perhatian lebih kepada konflik bersenjata antarnegara, ketika perampasan kemanusiaan dan hak asasi terjadi begitu masif, saat kini tantangan datang dari kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata yang berada di dalam negara itu sendiri, antarkelompok yang bertikai; mulai dari pertikaian etnis yang berkepanjangan seperti terjadi di negara-negara Afrika dan Timur Tengah, juga antar kelompok bersenjata beda kepentingan seperti di negara-negara Amerika Latin.  

Audiensi dengan Paus Fransiskus di Vatikan.

Dalam pesan pada pembukaan acara, Kardinal Fernando Filoni (Praefek Departemen Kepausan bagi Penginjilan Bangsa-Bangsa, Propaganda Fide) menekankan pentingnya mengingat dan menegakkan Konvensi Jenewa, terutama kepada golongan yang paling rentan menjadi dampak konflik bersenjata.

Pertemuan ini mengajak para perwira rohani di dalam tubuh militer, angkatan bersenjata, kepolisian, national guard, dan segenap penjaga keamanan lainnya yang memiliki keunikan kelembagaan di masing-masing negara untuk terus menerus mengedepankan dialog kemanusiaan dan menegakkan perdamaian dan solidaritas.

Sebagai imam yang juga memiliki kedudukan sebagai perwira rohani di lembaga-lembaga tersebut, pertemuan ini kembali menegaskan peran kenabian dan imamat yang diemban oleh para imam perwira rohani tersebut, agar lebih menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasihan di tengah tantangan dan bahkan ancaman terhadap kemanusiaan dalam kondisi konflik bersenjata.

Inilah peran istimewa para imam perwira rohani yang membedakannya dengan pekerja sosial biasa yang bekerja di tengah para korban pertikaian tersebut.

Para imam perwira rohani diajak untuk berefleksi mengenai hal ini. Refleksi ini terbangun dalam suasana diskusi yang serius namun hangat oleh seluruh peserta saat rehat kopi, makan siang, maupun jamuan cocktail yang dilakukan di malam hari selama tiga hari kegiatan.

Diharapkan, para Uskup, imam dan awam militer bisa menyebarluaskan insight dari pertemuan ini sebagai trainer of trainers di negara asal masing-masing.

Lebih lanjut lagi, sebagai yang menghadirkan wajah Allah di tubuh Angkatan Bersenjata, segenap perwira rohani diajak tidak hanya untuk mendoakan para kelompok-kelompok yang dianggap musuh, seperti para teroris, tetapi juga merawat kelompok musuh yang menjadi tawanan dan tahanan.

Pertemuan ini mengajak untuk memandang kelompok yang dianggap musuh,  bukan untuk dikalahkan, tetapi bagaimana membuat agar kelompok musuh ini tidak menyerang. Karena itulah, tugas militer saat ini bukan hanya berperang, tetapi lebih dari itu adalah melindungi masyarakat sipil, terutama dari ancaman penanaman ideologi fundamentalisme yang menghancurkan.

Mengembangkan spiritualitas Kerasulan Militer

Ada dua titik berat utama yang muncul dari penyampaian pandangan umum yang menampilkan norma-norma keberlakuan pentingnya mengenali lebih dalam dan terus menggali implementasi Hukum Humaniter agar pemuliaan manusia tidak diabaikan dalam menyelesaikan sengketa bersenjata.

Pertama, tugas segenap perwira rohani di seluruh dunia mesti membawa semangat pelayanan yang tidak mudah agar baik tentara dan masyarakat mampu dilindungi dari target-target kekerasan.   Peran perwira rohani sebagai pelayan tidak hanya diberlakukan kepada mereka yang rentan sebagai korban konflik bersenjata dan perang, tetapi juga pelayanan kepada mereka yang menjadi tawanan dan tahanan.

Pelayanan yang dimaksud bukan sekadar pelayanan sosial kemanusiaan biasa, namun lebih dari itu, pelayanan yang menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih, baik dalam pelayanan sakramentali sebagai imam, maupun pelayanan yang menyentuh spiritualitas lintas agama.

Kedua, peran kejuangan. Yaitu peran perwira rohani untuk terus menerus berjuang menegakkan keadilan, perdamaian, penghargaan kepada kemanusiaan, dan segenap nilai-nilai yang sudah digariskan dalam Konvensi Jenewa tahun 1949.

Di sinilah pentingnya kehadiran imam yang memiliki kualifikasi seorang militer.  Mereka dapat berperan lebih dalam dan lebih jauh lewat jalur-jalur struktural komando dalam pergaulan militer untuk menghadirkan fungsi pelayanan rohani secara professional dengan membawa nilai-nilai kemanusiaan universal yang sampai kini ternyata masih terus relevan diperjuangkan di tengah perubahan dunia yang selalu diliputi konflik yang mengancam kemanusiaan.

Dengan melihat kompleksitas permasalahan yang ada dan membutuhkan perhatian-perhatian yang khusus di berbagai tempat, maka dibutuhkan “standard responsibility of Chaplain”, semacam tata kelola sebagai panduan pelayanan di tiap-tiap tempat sesuai dengan kebutuhan khas pelayanan rohani militer mengikuti situasi dan kearifan setempat.

Di samping itu aneka perayaan dalam doa bersama, mendoakan musuh, mendoakan perdamaian dunia menjadi ungkapan keutaman penting dalam pelayanan rohani “Military Chaplain”.  Kebersamaan dalam doa juga mewarnai pertemuan ini: perayaan ekaristi bersama (di Gereja St. Katarina) , doa harian (brevir) bersama di Kapel Collegio Urbaniano, dan Ekaristi Adorasi di Basilika St. Petrus.

Di hari terakhir, seluruh peserta mendapat kesempatan beraudiensi dengan Bapa Suci Fransiskus, di mana Bapa Suci menyampaikan amanat khususnya kepada para perwira rohani sedunia.

Pertemuan ini ditutup oleh Kardinal Peter Turkson, Praefek Urusan Promosi Pembangunan Manusia Integral dengan kembali menegaskan peran perwira rohani sebagai pelayan kemanusiaan kepada mereka yang paling rentan menjadi akibat dari konflik antar kelompok.     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here