Pelita Hati: 12.06.2019 – Menggenapi Hukum, Menghayati Iman

0
491 views

Bacaan Matius 5:17-19

Janganlah  kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Sahabat pelita hati,

YESUS memang datang membawa ajaran baru atau lebih tepatnya membawa pemaknaan baru tentang menghayati hukum Taurat. Tentu saja berbeda jauh dengan pengajaran para ahli Kitab dan para Farisi, sehingga mereka bereaksi, apalagi orang Farisi  merasa sebagai pewaris hukum Musa. Mereka mengabarkan bahwa Yesus ingin mengganti hukum Taurat. Sebuah tuduhan keji yang mau tidak mau harus diklarifikasi oleh Yesus.  “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (ay. 17)  Jadi, Tuhan tidak ingin meniadakan satu titik pun hukum Taurat, tetapi justru menggenapinya. Pertanyaannya, apa yang digenapi?

Sahabat pelita hati,

Yesus tidak ingin murid-murid-Nya menjalani hidup keagamaan hanya demi formalitas belaka atau demi aturan dan tuntutan. Menghayati iman dan liturgi harus bersumber pada hati dan dapat diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Ketika orang begitu rajin membaca Sabda Suci bahkan rajin mengikuti ibadah setiap hari  tetapi tutup mata terhadap orang-orang yang sedang menderita di sekitarnya, sejatinya ibadah mereka kosong belaka atau hampa tak bermakna. Itulah wajah orang yang saleh di dalam formalitas liturgi tetapi acuh terhadap nasib dan penderitaan sesama.

Sahabat terkasih, 

Marilah kita belajar beriman secara benar alias menghayati iman dan tata ibadah secara setia sekaligus mewujudnyatakannya dalam hidup bersesama, terutama peduli dan memberi perhatian kepada menderita. Jika demikian kita sejatinya telah menggenapi ajaran iman itu dengan ragam macam tindakan kebaikan. Janganlah menghayati iman karena aturan dan tuntutan tetapi karena kerinduan. Selalu rindu mendengarkan Firman dan rindu pula untuk mewujudnyatakan Firman dalam hidup keseharian. Apakah Anda sungguh rindu membaca Firman Tuhan? Apakah Anda juga rindu memberi perhatian kepada sesama yang menderita dan berkekurangan? 

Menghijau subur pohon di hutan,
berjajar rapi pohon jati.
Jika iman tanpa perbuatan,
pada hakekatnya mati.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here