Puncta 11.01.20: Perguruan Argakilasa

0
271 views
Murid Tuhan. (ist)


Yohanes 3:22-30

BEGAWAN Drona sangat mengkawatirkan dengan adanya Pandita baru di Gunung Argakilasa. Pandita ini bernama Begawan Bima Suci. Banyak murid Begawan Drona yang lari berguru kepada Pandita di Argakilasa ini.

Drona minta kepada Raja Duryudana untuk mengusir Pandita Bima Suci. Maka dia mengutus murid-muridnya para Kurawa untuk membubarkan perguruan baru di Argakilasa ini. Begawan Bima Suci mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Ini adalah ilmu kebajikan hidup mulia. Maka banyak murid-murid berguru padanya. Termasuk juga Anoman dan putra-putra Pandawa ikut berguru ke Bima Suci. Takut kewibawaannya hilang, Begawan Drona bersama Adipati Karna ingin menghancurkan Perguruan Argakilasa. Tetapi mereka tidak mampu mengalahkan Anoman dan murid-murid Bima Suci.

Persaingan antar perguruan nampaknya juga terjadi antara murid-murid Yohanes Pembaptis dan Yesus. Para murid Yohanes melaporkan kepada gurunya bahwa orang yang dulu dibaptis di Sungai Yordan dan kepadaNya Yohanes bersaksi, kini mulai membaptis dan mempunyai murid yang banyak. Hal itu jelas mengkawatirkan bagi murid-murid Yohanes.

Tetapi pandangan Sang Guru berbeda dengan muridnya. Yohanes justru merasa bahagia karena Yesus mulai tampil ke depan. Yohanes tidak merasa tersaingi, tetapi justru merasa bersukacita.

Kerendahan hati dan keikhlasan Yohanes menunjukkan betapa mulia hatinya. Ini dikatakan kepada murid-muridnya, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini, orang atau kelompok lain dianggap sebagai musuh. Homo Homini Lupus. Manusia yang satu adalah serigala bagi lainnya. Orang tidak suka jika ada temannya berhasil, sukses, melambung ke puncak. Kalau bisa dijegal, dihambat, dihalangi atau dijatuhkan.

Mari belajar dari Yohanes Pembaptis. Dia tidak berpikir egoistik, demi dirinya sendiri. Dia justru bersukacita jika orang lain menjadi besar, tumbuh berkembang dalam kemuliaan. Inilah kerendahan hati yang sungguh mulia.

Maukah kita dengan ikhlas dan rela, memberi kesempatan orang lain untuk menjadi besar dan berhasil? Ataukah kita suka menjegal atau menusuk dari belakang kalau ada orang lain yang berhasil?

Jika demikian, kita perlu belajar dari Yohanes Pembaptis.

Hujan tiada henti menerjang sejak pagi hari
Siap siaga kalau terjadi banjir di gereja
Yohanes Pembaptis adalah contoh kerendahan hati
Membiarkan orang lain tampil menjadi terkemuka

Cawas, berlatih yoga biar bisa menggunting awan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here