Puncta 12.01.19 Yohanes 3:22-30 Dia Harus Makin Besar

0
170 views
Ilustrasi. Yohanes Pembaptis. (ist)

CINTA pada tinju mengalahkan segalanya. Itulah yang terjadi pada Manny Pacquiao, atlit tinju sekaligus politisi berumur 40 tahun dari Filipina.

Walaupun ia sudah mengantongi 8 gelar juara dunia, namun ia enggan pensiun dan masih berambisi menghadapi petinju muda Adrien Broner, pada 19 Januari 2019. J

ika ia menang, dia akan bertemu Floyd Mayweather yang pernah mengalahkannya di MGM Grand, Las Vegas. Dunia memang penuh persaingan.

Pada tahun 1960-an, hampir di pergelangan tangan semua orang tergantung jam tangan “made in Switzerland”. Jam tangan buatan Swiss itu menguasai pangsa pasar dunia. Pada tahun 1970-an, kita hanya mengenal rol film merk Kodak dan Fuji Film.

Ketika telpon genggam mulai muncul, siapa tidak kenal Nokia, Motorolla, Ericsson, Blackberry?

Di mana mereka bersembunyi sekarang?

Dalam dunia transportasi, dulu hanya ada taksi dan ojek mangkal di perempatan jalan. Sekarang ada ribuan bahkan jutaan Go-Jek, Go-Car, GrabB, Uber berseliweran di depan mata kita.

Dunia sedang mengalami “disruption”.

Di Indonesia juga banyak perusahaan besar dengan merk besar tumbang dan limbung menghadapi persaingan yang keras dan bertubi-tubi.

Rhoma Irama yang incumbent dalam dunia dangdut sebagai rajanya harus tenggelam oleh goyang ngebor Inul Daratista. Ia tidak mampu lagi berhadapan dengan pendatang baru seperti Via Vallen dan Nella Kharisma.

Dalam Injil hari ini, terjadi juga “persaingan” antara murid-murid Yohanes dan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka lapor pada gurunya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan, dan tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga, dan semua orang pergi kepadaNya.”

Menghadapi persaingan itu, Yohanes lebih memilih berdamai. Ia mengakui, “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluinya.” Ia mengalami sukacita ketika Yesus yang ditunjuk Allah makin besar.

Prinsip “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” adalah jalan bijaksana mencapai kematangan spiritual. Kalau tidak mempunyai kedalaman spiritual seperti itu, kita hanya akan mengikuti Manny “Pacman” Paquiao dikuasai oleh ambisi untuk menang.

Lalu semua dianggap pesaing-pesaing yang harus dikalahkan.

Teladan kerendahan hati Yohanes Pembaptis, “Aku suka melihat orang lain sukses” bisa menjadi teladan bagi kita agar kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Ada perdagangan online seharga 80 jeti
Untuk mendapatkan surga dan para bidadari
Yohanes Pembaptis mengajarkan kerendahan hati
Agar hidup kita damai dengan diri sendiri.

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here