Puncta 14.01.20: Sekolah Katolik, Quo Vadis?

1
419 views
Ilustrasi: Sr. Verena SFS membimbing remaja Katolik Paroki St. Maria di Fatima Sragen di Jateng belajar kenal Kitab Suci dan kemudian mengajaknya suka membacanya. Program PIR dan PIA ini berlangsung selama liburan sekolah di bulan Juni-Juli 2018. (Sr. Maximiliana SFS)

Markus 1:21b-28

DALAM Konperensi pers di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Rubiyatmoko mengatakan adanya kesulitan besar bagi sekolah-sekolah Katolik dewasa ini untuk mengembangkan pendidikan. Hal itu ditandai dengan menurunnya peserta didik dan beban finansial yang makin berat.

Ketua MPK Romo Darmin Mbula OFM mengatakan bahwa orangtua zaman sekarang tidak mementingkan kualitas sekolah, tetapi mencari sekolah gratis dengan kualitas seadanya.

Menurut Uskup Semarang, sekolah Katolik harus memiliki kekhasan dan keunggulan. Untuk itu perlu ambil resiko untuk berani melawan arus. Caranya ialah memberi perhatian besar pada pendidikan iman, kepribadian, karakter dan kompetensi.

Sedangkan Rektor USD Eka Priyatma menawari strategy Good School Governance yakni membangun sekolah dengan prinsip Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi dan Fairness (TARIF).

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menjadi guru yang unggul dan berkarakter. “Orang-orang takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.”

Saya dulu punya dosen yang kalau mengajar hanya membaca diktat. Mahasiswanya pergi keluar kelas pun dia tidak tahu.

Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Orang-orang takjub dan memperbincangkanNya.

Sekolah katolik mestinya mencari kekhasan atau keunggulannya. Cara-cara lama sudah tidak laku lagi. Harus mencari terobosan baru sesuai dengan zamannya.

Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli Taurat. Berarti Dia mempunyai ciri khas sendiri, tidak meniru ahli-ahli Taurat. Yesus mengajar penuh kuasa.

“Guru ini berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun Ia perintah dan mereka taat kepadaNya.”

Kuasa disini berarti kata-katanya diikuti. Supaya bisa diikuti maka guru harus menjadi contoh teladan. Antara kata dan tindakannya sesuai.

Ahli-ahli Taurat itu tidak punya kuasa karena antara kata dan tindakan tidak sesuai. Mereka tidak bisa menjadi teladan.

Kalau gurunya bisa diteladani, punya kuasa, maka marketing akan berjalan dengan sendirinya. “Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.”

Pasti banyak orang datang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi muridNya. Nah, kita boleh bertanya Quo Vadis sekolah Katolik? Bagaimana karakter para guru Katolik?

Guru kencing berdiri
Murid kencing bergoyang-goyang
Apa sekolah katolik masih bisa berdiri
Kalau tidak punya keunggulan yang menjulang

Cawas, Mencari inspirasi

1 COMMENT

  1. Saya cuma prihatin dg apa yg disampaikan Mgr. Ruby. Kalau kita melihat paroki dan gereja tampaknya selalu ingin membangun gereja dan parokinya, tentu itu memakan biaya ratusan juta sampai mungkin milyaran rupiah. Itu bagus tapi tidak sempurna, justru perhatian ke sekolah di sekitar paroki yang perlu diutamakan. Program pemerintah adalah peningkatan kualitas sdm. Mau tidak mau gereja juga harus berpola demikian. Jadi peningkatan sdm bukan tanggungjawab utama dari gereja misi misal kanisius yang dari misi sj tetapi justru gereja setempat melalyi dewan parokinya harus memperhatikan sekolah sekitar paroki, jadi harus ada tambahan biaya pendidikan untuk peningkatan sekolah ya banginan, ya guru dan karyawan serta murid. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here