Puncta 16.03.19 Matius 5:43-48: Mengasihi Musuh

0
283 views
Ilustrasi.

SAYA mengenal Pak Fred Wibowo ketika sedang kusuk berdoa di Sendang Jatiningsih. Setiap Jum’at malam dia datang ke Sendang. Mulutnya bergetar mendaraskan manik-manik rosario dalam keheningan malam. Ia bahkan sering tidur di lantai pendopo Sendang sampai pagi.

Suatu kali dia singgah di pastoran dan berkisah. “Romo, mohon dukungan doa,” ia mengawali ceritanya, “Saya sedang membuat sebuah film di daerah Imogiri. Film tentang sejarah dan kepahlawanan. Masyarakat daerah itu menolak mentah-mentah, ketika shooting sedang berjalan.”

“Mereka demo besar-besaran. Ada pemain yang protes tentang honor. Perizinan dipersulit. Proses film ini menghadapi banyak tantangan. Ketika sudah selesai, banyak stasiun televisi tidak berani menayangkan. Saya hanya berdoa kepada Bunda Maria, agar segala hambatan itu dijauhkan,” tambahnya kemudian.

Hari Sabtu, 27 Mei 2006, ia dan istrinya baru pulang dari Sendang Jatiningsih, ketika terjadi gempa hebat di Yogyakarta. Ia langsung menuju ke kantornya, Radio Sonora.

Radio ini masih bisa mengudara. Stasiun radio lain mengalami kerusakan akibat gempa. Dia beritakan gempa ini lewat radio. Banyak sekali bantuan datang.

Dia mengajak seluruh crew untuk menyusur wilayah terdampak. Ia sampai di Imogiri. Daerah ini luluh lantak rata dengan tanah. Ia yang pertama datang dengan membawa bantuan kepada warga. Mereka menangis, menyesal dan meminta maaf karena pernah menolak dan mengusirnya.

Fred Wibowo yang selama ini tegar, menangis melihat kondisi warga yang kehilangan keluarga, rumah, harta benda, semuanya. Ia mengerahkan segala daya untuk membantu mereka.

Bacaan Injil hari ini berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuh-musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian kamu akan menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.”

Kualitas sebagai anak-anak Allah ditunjukkan ketika kita mengasihi orang-orang yang “melawan” kita. Apa artinya mengasihi kalau hanya ditujukan kepada mereka yang mengasihi kita?

Orang kebanyakan pun melakukan yang demikian. Bahkan pemungut cukai pun juga melakukan hal demikian. Apabila kita hanya memberi salam kepada saudara-saudara kita, apa lebihnya daripada perbuatan orang lain?

Yesus mengajak kita sempurna seperti Bapa sempurna adanya. Bapa mengasihi orang baik dan orang jahat.

Seperti matahari menyinari orang tanpa pilih kasih, demikian juga Bapa mengasihi siapapun. Mengasihi orang yang membenci kita, itu baru kualitas yang sempurna.

Memang sulit dan berat. Tetapi tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Sungguh indah waduk Wonogiri. Mengelilinginya dengan naik sampan.
Mari belajar dari Sang Matahari. Mengasihi tanpa membeda-bedakan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here