Puncta 19.02.19 Markus 8:14-21 Virus Sofisme

0
347 views
Ilustrasi: Ist

PARA filsul, pemikir, dan akademisi mengadakan diskusi publik bertema, “Menolak Pembusukan Filsafat” di Cikini, Jakarta pada 13 Februari 2019 dan sepakat menolak penggunaan filsafat untuk merusak demokrasi.

Robert Bala dalam Harian Kompas menulis opini berjudul “Pembusukan Akal Sehat”. Ia menulis kelihaian bersilat lidah di ranah publik, sekedar mengecoh lawan, disinyalir sebagai proses ke arah pembusukan akal sehat.

Akal sehat kita kini terserang virus sofisme yakni cara menyampaikan ide dengan suka bermain kata-kata dan bersilat lidah tetapi mengibuli audiens.

Coba anda lihat di acara-acara debat televisi. Orang pandai bersilat lidah tetapi yang dijual bukan informasi edukatif yang mencerahkan, tetapi permainan kata yang memanipulasi rasa.

Seperti orang jual obat di pasar. Kalau orang tergiring keliru membuat kesimpulan, maka obat yang kita beli bukan menyembuhkan tetapi kita terhipnotis oleh kata-kata manisnya dan sakit kita makin kronis tak tersembuhkan.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara kepada para murid supaya berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.

Mereka ini semacam virus yang merusak karya kerasulan Yesus. Kesalahan mengambil premis bisa mengakibatkan kekeliruan mengambil kesimpulan. Para murid salah menangkap kata-kata Yesus. Mereka berpikir dan berkata seorang kepada yang lain, “Itu dikatakanNya karena kita tidak mempunyai roti”.

Bukan itu yang dimaksud Yesus. Ragi orang Farisi dan ragi Herodes adalah virus kebencian, iri hati, kebohongan, dendam ingin melenyapkan Yesus. Mereka selalu mencobai untuk mencari cara membunuh Yesus. Itulah yang harus diwaspadai para murid.

Yesus mengkritik murid-muridNya, punya mata tetapi tidak melihat, punya telinga tetapi tidak mendengar.

Para filsuf dan akademisi itu mungkin mendengar kritikan Yesus sehingga mereka ingin supaya filsafat bukan hanya sebagai “ancilla theologiae” tetapi membumi menjadi “ancilla politicae”.

Agar virus kebohongan, hoaks, ujaran kebencian tidak berseliweran di arena kontestasi politik, tetapi kebenaran berdasarkan fakta dan datalah yang diutamakan. Orang tidak hanya pandai bersilat lidah tetapi omong berdasarkan kebenaran.

Nah kalau premis-premisnya seperti ini, anda bisa menyimpulkan sendiri kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here