Puncta 25.05.19 Yoh 15:18-21: Post-truth Era

0
298 views
Ilustrasi: Post-truth era (Ist)

IMAM di desa terganggu doanya karena anak-anak ramai bermain-main di sebelah rumahnya. Untuk menghalau anak-anak itu ia berseru: “Hai, ada raksasa mengerikan di sungai di bawah sana. Bergegaslah ke sana.. Nanti kamu akan melihatnya sedang menyemburkan api lewat lubang hidungnya.”

Sebentar saja semua orang di kampung sudah mendengar tentang munculnya raksasa itu. Mereka cepat-cepat berlari menuju sungai. Ketika imam melihat hal ini, ia ikut bergabung bersama banyak orang. Sambil berlari sepanjang jalan menuju ke sungai yang enam kilometer jauhnya, ia kembali berpikir: “Memang benar, aku sendiri yang membuat cerita. Tetapi, barangkali benar juga, … siapa tahu.” (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ)

Kisah di atas menggambarkan kehidupan masyarakat yang dikuasai oleh era post-truthpasca-kebenaran. Esensi kebenaran tidaklah terlalu penting. Post-truth adalah suatu upaya menggiring opini publik, bahkan emosi massa, dengan mengesampingkan dan mendegradasikan fakta dan data objektif.

Lihatlah di medsos, ada banyak data dan fakta yang tidak benar berseliweran, orang yang tidak kritis mudah mempercayainya sebagai kebenaran.

Dunia sekarang lebih suka mencari pembenaran daripada kebenaran.

Yesus pernah berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.”

Sabda dan tindakan Yesus adalah kebenaran karena berasal dari Allah sendiri. Ia tidak memainkan politik post-truth, tetapi mewartakan kebenaran. Karena mewartakan kebenaran, maka Yesus dibenci oleh dunia. Dunia lebih percaya pada cerita kebohongan seperti kisah Raksasa di sungai itu.

Oleh karenanya, para murid diingatkan oleh Yesus, “Jika dunia membenci kalian, ingatlah bahwa dunia telah membenci Aku lebih dahulu. Sekiranya kalian dari dunia, tentu dunia menyayangi kalian sebagai miliknya. Tetapi karena kalian bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kalian dari dunia, maka dunia membenci kalian”.

Kita dibenci oleh dunia karena kita mengikuti Yesus yang cinta kebenaran. Yesus adalah kebenaran itu sendiri. Murid Kristus harus berani mewartakan kebenaran.

Maka kita harus kritis di era post-truth ini. Jangan mudah percaya pada berita bohong, fitnah, hoaks. Apalagi malah langsung menyebarkannya.

Tidak masalah kita dibenci oleh dunia, karena Yesus telah lebih dahulu dibencinya. Kita ini bukan dari dunia karena telah ditebus oleh Sang Kebenaran sejati yakni Yesus sendiri.

Naik becak pergi ke kota Kendal
Karena ngantuk tersesat sampai ke Gombong
Janganlah diperbudak oleh media sosial
Dengan menyebarkan berita-berita bohong

Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here