Rama Mangun dan Grigak: “Sebuah Karya Sunyi?”

0
247 views
Gubug Romo Mangun di bibir Pantai Grigak Gunung Kidul kurun waktu 1986-1990 --Ist

“BAHASA adalah pewujud saling menjadi sesama” (Sudaryanto, 2017:7). Begitulah salah satu faset fungsi hakiki bahasa melalui pendekatan introspeksi-reflektif.

Selain fungsi bahasa sebagai pewujud menjadi sesama, bahasa juga berfungsi sebagai pengembang akal budi dan bahasa sebagai pemelihara kerukunan.

Dari koridor introspeksi-reflektif itu, dapat dipahami bahwa bahasa membantu seseorang untuk menjadi sesama dalam membentuk komunitas hidup bermasyarakat.

Bahasa sebagai pewujud menjadi sesama itu telah diterapkan oleh Rama Mangun (Romo YB.Mangunwijaya Pr) bersama warga Pedukuhan Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul.

Sekitar tahun 1987-1990 silam, saat ini, bahkan hingga selamanya, Rama Mangun akan selalu mendapatkan tempat yang begitu mesra di hati warga Pedukuhan Karang.

Rama Mangun sebagai tokoh nasional telah memperjuangkan ketercekaman rakyat melalui karya sastra, arsitek, pendidikan, dan bahkan penerapan ilmu-ilmu eksata dalam semangat kasih yang senantiasa membara, baik di Kali Code, Sendangsono, Waduk Gedung Ombo, maupun di Sekolah Mangunan.

Akan tetapi perjuangan Rama Mangun dalam membantu warga Pedukuhan Karang untuk mengangkut air dari sumber air di bawah tebing Pantai Grigak ‘belum diketahui’ oleh masyarakat Indonesia.

Karya dharma bakti ini adalah karya sunyi Rama Mangun dalam bingkai keberpihakan pada masyarakat kecil.  

Awal mula

Romo Mangun pergi ke Grigak setelah mendengar sepenggal kisah dari seorang siswa SMK (Wasmi) yang kala itu mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kali Code, Yogyakarta.

Wasmi mengisahkan bahwa warga di Pedukuhan Karang sangat kesulitan air di musim kemarau. Telaga-telaga di wilayah Pedukuhan Karang tidak lagi menampung air, karena pohon-pohon di sekitar telaga telah ditebang. Wasmi juga mengisahkan bahwa ada sumber air di bawah tebing-tebing di Pantai Grigak. Biasaya warga Pedukuhan Karang mengabil air bersih dari sumber air di Pantai Grigak itu (sekitar 3 KM) dengan menggunakan genthong.

Namun permasalahan yang akan selalu merongrong keselamatan warga Pedukuhan Karang saat mengambil ari bersih di sana adalah ketika  mereka harus melewati karang-karang tajam, menyusuri jembatan darurat di tepi-tepi tebing, bahkan harus menunggu air laut surut. Padahal ketika air laut surut pun, batu-batu di sekitar karang masih diselimuti banyak lumut yang bisa menggelincirkan warga Pedukuhan Karang ketika menginjaknya.

Setelah mendengarkan kisah itu, Rama Mangun meminta Wasmi agar mengantarkannya ke Pedukuhan Karang pada saat akhir pekan. Di Pedukuhan Karang, Rama Mangun bertemu dengan Mbah Sukirno (Dukuh Karang tahun 1986) dan langsung meminta Mbah Sukirno untuk menunjukkan jalan ke sumber air di Pantai Grigak.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Rama Mangun dan Mbah Sukirno memulai perjalannya yang masih dipenuhi semak-semak. Kadang kala Mbah Sukirno harus membabat beberapa semak untuk membuka ruang jalan bagi Rama Mangun. Setiba di sumber air Grigak, Rama Mangun mengatakan kepada Mbah Sukirno bahwa dia ingin membuat sebuah gubuk agar bisa tinggal di sana.

Sejak petang itu, Rama Mangun memutuskan untuk tinggal di sebuah gubuk ladang milik Mbah Sukirno yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari Pantai Grigak. Walaupun baru pertama kali pergi ke Pantai Grigak, Rama Mangun meminta Mbah Sukirno kembali ke Pedukuhan Karang.

Rama Mangun hanya ingin sendiri. Berselimut debuaran suara ombak Pantai Grigak dan beratap cahaya bulan.

Hanya ada satu alasan Rama Mangun berdharma bakti di Grigak,  yaitu memberikan ruang dan waktu keselamatan bagi warga Pedukuhan Karang dalam mengangkut air dari sumber air Grigak.

Rama Mangun mulai menulis banyak buku, artikel, dan novel demi mengumpulkan dana untuk mendesain, merancang, dan akhirnya bekerjasama dengan warga Pedukuhan Karang dalam membuat akses jalan bagi dengan menggunakan jembatan kayu (hingga jembatan permanen) melewati karang-karang, menyusuri tepi-tepi tebing menuju sumber air Grigak.

Selain itu, hasil pengumpulan dana juga digunakan untuk membeli pompa air manual (Dragon) dan membuat bak penampung di dekat pondok Rama Mangun atau setidaknya semakin jauh dari sumber air Grigak. Jembatan, pompa air manual, dan bak penampung ini berhasil meminimalisir bahaya kecelakaan warga Pedukuhan Karang dalam mengangkut air bersih di bawah tebing-tebing Pantai Grigak.

Dengan kata lain, warga Pedukuhan Karang hanya memerlukan tenaga untuk memompa alat pompa air secara manual pada bak penampung air sehingga air bersih di sumber air Grigak (di bawah tebing-tebing) itu dapat diangkut. Sederhananya, warga Pedukuhan Karang tidak perlu melewati karang-karang tajam, menyusuri tepi-tepi tebung, bahkan menunggu air laut surut untuk mengambil air bersih di sumber air Grigak.

Napak tilas

Ziarah ke Grigak adalah pilihan yang tepat. Adalah kisah karya sunyi Rama Mangun, Grigak, dan Mbah Sukirno sebagai representasi Warga Pedukuhan Karang. Bertepatan dengan Bulan Oktober sebagai Bulan Maria,

Menyambanngi gubuk Rama Mangun dan Gua Maria Tritis adalah sebuah perjalanan iman yang instrospekti-reflektif. Introspektif sebagai realita dan reflektif sebagai respirasi.

Perjalanan religi ini dapat dimulai dari Jogja dengan menggunakan bus, mobil rental atau mobil pribadi, dan sepeda motor. Keluar dari Daerah Istimewa Yogyakarta, kita akan melewati beberapa wilayah Kabupaten Bantul, antara lain, Banguntapan, Giwangan, Jalan Imogiri, bahkan kita juga dapat meyambangi makan para sultan Keraton Yogyakarta di Imogiri. Selain itu, di sekitar wisata makam para sultan Keraton Yogyakarta, ada warung makan tradisional khas Imogiri.

Sebelum sempat terlena oleh atmosfir Imogiri yang memanjakan mata melalui hamparan sawah, teduhnya hutan pinus Mangunan, dan wisata pintu langit, bergegas ke arah selatan sampai plang menunjukkan tulisan Panggang.

Tanpa mendustai keindahan hamparan sawah di sepanjang jalan menuju tanjakan Sile,  tengoklak ke jendela kaca bus sembari membiarkan kamera di telepon pintar mengabadikan kemesraan para petani Bantul bercumbu sawah dan seisinya.

Terlapau oleh romansa petani dan sawah, bersiaplah untuk manelusuri wilayah lantai dua Jogja yang disambut tanjakan Silo yang penuh kelok indah seperti gitar Spanyol. Sekali lagi, tanpa mendustai karya Tuhan yang Maha Esa biarlah hembusan angin segar dari ladang-ladang petani Gunung Kidul menyelinap di antara celah kaca jendela bus.

Berbisiklah dengan teman di sampingmu, “Suasana panasnya Jogja telah ditepis sejuknya angin yang datang dari antara pohon-pohon mahoni, jati, dan sengon.”

Barangkali temanmu akan menjawab “Jogja Lantai Dua sedang memamerkan karyanya. Hahaha..”

Puas menikmati tarian alam Gunung Kidul melalui deretan terasering yang bak membentangkan pameran gelombang hasil bumi, marilah kita memasuki deretan rumah warga mulai dari Kantor Kecamatan Panggang hingga tiba di Pedukuhan Karang.

Hati-hati! Nama Karang bukanlah representasi kampung tanpa tanah. Memang Pedukuhan Karang banyak batu karang, tapi warga Pedukuhan Karang bukan orang-orang garang, walaupun sering kali banyak mengarang guyongan.

Ketahuilah. Di sini para kakek-nenek masih kuat berjalan kaki. Bahkan sambil menggendong hasil bumi, pakan ternak, atau bahan bakar kayu. Di beberapa ruas jalan kita juga akan menemui anak-anak sekolah berseragam merah-putih menjajakkan kaki, bercengkrama ria dalam dunia kekanakan sembari berkejaran mesra.

Begitu bebas. Tanpa dendam. Tanpa benci.

Adalah Suratno (Dukuh Karang tahun 2018) dan warga Pedukuhan Karang yang sedari tadi menyiapkan sebuah barisan senyuman  sebagai pengganti pagar betis untuk menyambut para peziarah.

Pemandangan indah berhasil terekam melalui tuturan-tuturan selamat datang, pertanyaan tentang asal, komentar tentang perjalanan, bahkan mugkian sedikit komparasi tentang suasana di tempat asal dan Pedukuhan Karang.

Begitulah yang sepantasanya terjadi.

Inilah Negeri Bhineka Tunggal Ika. Semarak penyambuatn itu semakin afdol ketika Karang Taruna Catur Manunggal Dusun Karang bergerak lincah mengatur sirkulasi minuman teh panas dan aneka cemilan khas Gunung Kidul. Teh memang minuman yang selalu juara dalam kompetisi menghangatkan suasana percakapan.

Perjalanan napak tilas Rama Mangun berdimensi “Kisah Kasih Segitiga antara Rama Mangun, Warga Pedukuhan Karang, dan Grigak” pantas dirayakan. Perjalanan yang syahdu, sunyi, dan semarak dalam bingkai alam Grigak.

Kicauan burung, bunyi daun-daun kering ketika diinjak kera, bau tanah kapur, dan duri-duri semak belukar siap menggores kaki, tangan, dan muka yang tak sengaja membuat gerakan ‘tos’ dengan mereka.

Terkadang kita harus menuruni jalan miring, menuruni batu-batu karang yag terdampar di jalan berlembah itu. 

Kadang juga kita akan menemukan beberapa gua dan beberapa jejer tebing yang mengapit jalan berlembah. Di sini kira dan kanan, kita akan berjumpa dengan pohon-pohon angsono, pohon asam yang dulu di tanam Rama Mangun dan Mbah Sukirno.

Begitulah seharusnya menapaki tilas Rama Mangun menuju ke sumber air di Pantai Grigak. Menapaki tilas Rama Mangun lebih dari sekedar jalan biasa. Tanah, karang, tumbuhan, hewan, dan semilir angin di antara sela pohon adalah energi yang senantiasa berhasil mengantarkan kita pada tahap introspektif-reflektif.

Marilah kita merenung sejenak perjuangan kita mencari alasan mengapa Tuhan Yang Maha Esa memanggil kita untuk tinggal di bumi bersama sesama makhluk hidup? Benarkah kita adalah rekan kerja Allah? Atau bahkan kita adalah percikan jiwa Tuhan Yang Maha Pengasih?

Napak Tilas Rama Mangun belum selesai. Bekas gubuk Rama Mangun adalah prasasti yang tak akan lapuk oleh hujan dan tak akan lekang oleh panas. Di sinilah Rama Mangun berteduh di kala hujan dan panas terik menyengat.

Gubuk ini yang senantiasa menjadi saksi semua pergulatan Rama Mangun. Membenci sistem pemerintahan tetapi mengasihi masyarakat kecil.

Ruang dan waktu itu telah berhasil menyelubungi Rama Mangun dari hiruk pikuk kota dan kebisingan pemerintahan Orde Baru.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berpotret ria di bekas gubuk Rama Mangun.

Gubuk ini yang senantiasa menjadi saksi semua pergulatan Rama Mangun. Membenci sistem pemerintahan tetapi mengasihi masyarakat kecil. Ruang dan waktu itu telah berhasil menyelubungi Rama Mangun dari hiruk pikuk kota dan kebisingan pemerintahan Orde Baru.

Sebelum sempat sampai ke karang terakhir menuju sumber air Grigak, lemparkanlah pandanganmu sejauh mata memandang. Di sana-sini tertata karang, tebing-tebing berbaris, ombak berduruh riuh, dan yang pasti laut telah menggelarkan samudra seluas jangkauan indra penglihatan.

Rumput laut terlihat sedang berjoget mengikuti irama ombak. Sungguh gendang yang ditabuh oleh gulungan ombak tak pernah berhenti.

Sungguh Tuhan memamerkan karya lagi. Atau Tuhan selalu suka menyembunyikan karya-karya indah-Nya. Bahkan mungkin koleksi-koleksi karya terbaik Tuhan yang diciptakan saat Dia sedang tersenyum, masih banyak yang diselubungkan.

Kesemerbakan napak tilas Rama Mangun ini ditutup dengan kisah-kisah persahabatan Rama Mangun dan Mbah Sukirno tahun 1987-1990.

Di atas tanah lapang yang tak jauh dari Pantai Grigak, Mbah Kirno memulai kisah pelayanan kepada Rama Mangun tanpa pamrih.

Kisah tentang Rama Mangun jatuh ketika sibuk menanam pohon di lereng Mahesan, tentang Rama Mangun yang selalu makan kentang dan aneka sayur rebus, dan bahkan ketika Rama Mangun datang ke Pedukuhan Karang tanpa motivasi penyebaran agama.

Rama selalu berdiskusi bersama tokoh-tokoh agama Islam dengan selalu mengatakan bahwa datang ke Grigak adalah panggilan sebagai manusia yang membantu sesama manusia. (Mangun Karsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here