Romo Mangun Pr, Kesederhanaan yang Eksentrik

1
4,529 views
Pagi itu, Rumah Retret Salam masih agak berkabut. Dinginnya pagi, terbitnya mentari dan kicaunya burung menciptakan keindahan tersendiri. Rahmat yang mesti disyukuri.

Dengan setelan celana pendek dan kaos oblong, Romo Mangun berdiri dalam sunyinya pagi. Saya melihatnya dari jauh melalui sebuah jendela. Waktu itu dalam hati, saya menduga Romo Mangun pasti sudah bangun pagi-pagi sekali. Bisa jadi dia sudah selesai misa, tapi entah beliau sudah sarapan atau belum.

Apa yang sedang dia pikirkan?
Beberapa hari belakangan waktu itu, saya asyik mencermati. Sepertinya dia tengah merenungkan sesuatu, sekalipun gurat wajahnya tak tampak serius. Kesendirian itu begitu dinikmatinya. Ia bagaikan sedang berada dalam suasana silentium magnum. Keheningan total.

Saya merasa bersyukur ada dekat bersama dia, walau tak ada ikatan fungsional dan tugas saya dengannya. Perjumpaan yang tidak disengaja ini pasti merupakan sebuah rahmat, sebagaimana Deepak Copra pernah bilang bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup.

Setelah sarapan pagi, saya menghampirinya. Saya juga mohon maaf padanya jika mengganggu kesendiriannya. Saya lalu menyapanya selamat pagi dan saya tanyakan apakah sudah sarapan? Sambil senyum dia membalas sapaan saya dan menjawab bahwa sudah sarapan pagi sekali.

Saya tak tahu, saya mesti bicara apa selanjutnya padanya. Saya seolah kehabisan tema. Tapi saat itu spontan saya menawarkan diri dengan berkata: “Kalau Romo perlu bantuan, saya bersedia membantu,” begitu saya memulai pembicaraan di pagi itu.

Wajahnya tiba-tiba tersenyum sambil tangannya menepuk pundak saya berkali-kali dan berkata terima kasih-terima kasih. Sebuah kesederhanaan yang eksenstrik.

Kesadaran diri
Siang hari, Romo Mangun tiba-tiba menghampiri saya dan mengajak pergi ke Pasar Muntilan. Kami berdua naik mobil kijang tuanya yang sudah karatan ditemani Mas Karyo, salah seorang pengurus rumah retret. Ada lelucon banyolan dari banyak orang yang sering saya dengar: jika sampai kesrempet mobil romo ini pasti akan tetanus, lantaran saking dekil karatannya.

Saya dan Mas Karyo tak tahu kami diajak untuk apa. Rupanya sesampainya di pasar, Romo Mangun membeli delapan drum besar bekas minyak tanah dan beberapa kaleng aspal. Saya tak tahu untuk apa dia beli semua itu.

Pulang kembali ke Salam, saya menyaksikan ada beberapa orang sudah memulai sebuah proyek kerja. Ada yang menyerut banyak kepingan papan, membuat semacam tuas dan tiang pancang. Rupanya beberapa frater dari Anging Mamiri Kentungan, Yogyakarta ikut datang membantu.

Saya tanya kepada para calon pastor ini: Romo Mangun mau membuat apa? Mereka menjawab tidak tahu,. Kata mereka, “Kami melakukan apa yang beliau minta.”

Saya sungkan bertanya kepada Romo Mangun sebenarnya mau membuat apa. Tapi beliau malah menghampiri saya dan minta tolong dicarikan kulit pohon kapuk dan menumbuknya memanjang sampai halus berserat. Dalam benak saya: beliau menyimpan puzzle dalam pikirannya.

Menjelang sore, akhirnya saya baru tahu apa isi puzzle itu. Karena rangkaian kepingnya sudah terbentuk. Jadilah sebuah perahu dengan tong bekas minyak sebagai alasnya. Saya bekerja menutup celah papan dengan kulit pohon kapuk sebagai serat dan kemudian melumurinya dengan aspal agar air tidak merembes masuk.

Ketika sudah selesai, dengan tuturnya yang amat sederhana, Romo Mangun berkata singkat kepada saya, “Ini untuk perpustakaan berjalan di atas air Waduk Kedung Ombo”.

Romo Mangun punya antusiasme untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Dengan penuh enerjik, beliau lantas berupaya mengusahakan: dari yang tidak ada menjadi ada. Suatu perjalanan mawas diri yang matang.

Romo Mangun tidak sedang memimpin dan mengelola banyak orang. Dalam bekerja ia memimpin dirinya sendiri.

Model kepemimpinan Romo Mangun serupa dengan kepemimpinan Yesuit model Benedotto de Goes, Mateo Ricci, dan Christopher Clavius. Kepemimpinan bukanlah semata-mata mengupayakan agar tugas dilakukan, melainkan menyangkut bagaimana tugas itu dilakukan. Untuk seorang pemimpin, itu berarti memengaruhi, memiliki visi, bertekun, menyemangati, berinovasi, dan mengajar.

Manusia Latihan Rohani
Malam hari setelah merasa lelah dan agak santai, saya melewati kamar Romo Mangun. Jendelanya selalu terbuka dengan lampunya yang terang benderang. Tapi saya melihat romo ada di dalam. Saya lihat pintunya terbuka dan saya memberanikan diri masuk.

Saya tatap meja kerjanya, ada banyak kertas berserakan di atasnya dengan tulisan tangannya yang sulit dibaca dan banyak coretan. Ada mesin ketik tua di sebelahnya. Dalam pikiran saya, beliau pasti sedang menuliskan naskah untuk dikirimkan ke penerbitan surat kabar atau menuliskan karangan fiksi dan non fiksi. Namun saya disadarkan bahwa di balik itu semua, beliau sebetulnya beliau sedang menuangkan refleksi hidupnya sebagai suatu bentuk latihan rohani.

Filsuf Yunani Kuno, Socrates, pernah mencatat hal ekstrem tentang nilai pengenalan diri. Katanya, “Hidup yang tidak diperiksa tidak pantas untuk dijalani.”

Kesadaran diri selalu sangat dihargai oleh Romo Mangun. Hidup refleksi Romo Mangun begitu luar biasa dan mendalam mirip pendiri Serikat Yesus (baca: Ignatius Loyola). Ia mungkin sudah memiliki `buku pegangan´ kesadaran diri dalam dirinya. Atau mungkin tepat kalau kita menyebutnya `manusia latihan rohani´.

Dengan itu, beliau mencapai kesadaran diri hanya dengan refleksi yang terfokus pada pengalamannya sendiri. La Persona Que Se Ejercita alias “Pribadi yang melatih diri”. Sebagaimana yang sering dikatakan oleh Romo Kieser SJ bahwa wujud iman yang nyata adalah dalam tindakan untuk dilakukan.

Latihan rohani semacam itu tentu saja menuntut keterlibatan intelektual, emosional dan spiritual secara total. Saya jadi diingatkan akan kata-kata yang bisa memotivasi diri dari bukunya Chris Lowney; the Heroic Leadership.

Menurut mantan Yesuit ini, tak seorang pun dapat menjadi guru, orangtua, pemain biola atau eksekutif korporat yang hebat secara kebetulan. Hanya mereka yang tahu kelemahan mereka sendiri dapat menanganinya atau bahkan berharap mengalahkannya.

Dalam pikiran saya, Romo Mangun memiliki empat pilar keberhasilan Yesuit  seperti yang saya kutip dari buku Chris Lowney. Dan keempat faktor itu adalah:

Kesadaran Diri: Memahami kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan pandangan hidup.

Ingenuitas: Kemampuan berinovasi dan beradaptasi dengan penuh keyakinan terhadap dunia yang terus berubah.

Cinta: Kesediaan untuk terlibat dan melibatkan orang lain dengan sikap positif yang memungkinkan perkembangan potensi dan bakat terpendam mereka.

Heroisme: Menyemangati diri sendiri dan orang lain dengan ambisi-ambisi dan hasrat heroik untuk melakukan segala sesuatu dengan tuntas dan prima.

Semoga nilai pribadi Romo Mangun selalu menyemangati hidup kita.

Antonius Suhardi Santoso, mengagumi keteladanan mendiang Romo Mangun.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here