Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara bersama Para Kudus (9)

0
2,443 views

TERUS terang, saya tak punya seorang tokoh khusus. Yang ada beberapa tokoh, bukan karena keseluruhan tokoh tertentu itu, melainkan karena suatu aspek dalam hidup atau pribadi tokoh itu menyapa suatu aspek tertentu dalam diri saya juga; katakanlah, suatu afinitas aspek tertentu. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

Pada setiap Ekaristi pribadi yang saya persembahkan di Triniji, pada Doa Syukur Agung, selain Bunda Maria dan St. Yosef, atau orang kudus yang dirayakan hari tsb, saya menyebutkan dalam urutan prioritas kedekatan afinitas sbb.: Trio Nabi Elia – St. Yohanes Pembaptis – St. Maria Magdalena sebagai pelindung para pertapa, lalu Serafion (yang saya rasa merupakan nama malaikat pelindung saya) dan St. Martinus dari Tours (santo pelindung baptis saya), kemudian Trio St. Ignatius dari Loyola – St. Fransiskus Xaverius – St. Petrus Faber, St. Antonius Abbas dan St. Bruno, St. Theresa Kanak-kanak Yesus, St. Charbel Maklouf pertapa dari Lebanon , St. Padre Pio, dan St. Yohanes Paulus II.

Kedua nama terakhir mungkin perlu diterangkan karena bukan khas kontemplatif. St. Padre Pio dan St. Yohanes Paulus II saya sebut karena pengalaman pribadi saja. Pada malam-malam pertama saya di biara Karthusian, saya mimpi dinikahkan dengan putri cantik bernama Lady Sophia oleh Padre Pio. Sejak itu saya memang merasa selalu “dibayang-bayangi”, sayangnya bukan oleh putri cantik itu, melainkan oleh Padre Pio. (Baca:  Romo Pertama Martin Suhartono: Mengembara dalam Pencarian Batin Terus-menerus (8)

Lebih-lebih, entah siapa penghuni Sel L di Parkminster sebelum saya itu, yang memasang foto wajah Padre Pio ukuran A-4 tepat di pintu toilet di ruang bawah tanah sel. Saya duga, ruang bawah tanah itu agak angker dan foto Padre Pio dipasang untuk mengamankan wilayah itu.

Di atas altar ruang doa saya di Trinji Suci saya letakkan foto Padre Pio, bukan untuk mengamankan wilayah Triniji, melainkan untuk memohon bantuan doa beliau. Beberapa tamu bila berdoa di situ kadang mencium aroma bunga mawar, yang konon merupakan aroma khas kehadiran Padre Pio.

Pada kesempatan tahbisan imamat saya, dari seorang keluarga Itali di Roma saya menerima hadiah pergamen berkat apostolis Sri Paus Yohanes Paulus II (yang bisa didapatkan dengan mudah di toko-toko suvenir di Roma atau di kantor Vatikan untuk urusan itu).

Saya merasa ada koneksi pribadi juga karena pernah dipeluk oleh beliau sehabis menjadi penerjemah bagi beliau dalam pertemuan beliau dengan para pemuka agama di Taman Mini Indonesia Indah di tahun 1989. Pergamen berkat Sri Paus itu saya letakkan dekat pintu masuk pondok saya untuk semacam tolak bala, he he he.

Pada suatu sore saya didatangi oleh seorang tamu beragama Hindu Bali. Sedang asyik omong-omong, tiba-tiba ia terkejut, gemetar dan tersedu-sedu melihat ke suatu arah. Katanya, ia melihat seseorang turun dari sorga dalam pakaian kebesaran kuning emas.

Saya tanya, apakah itu Yesus. Ia menjawab, bukan. Saya suruh tanya namanya. Ia menjawab, katanya namanya Yohanes Paulus II. Ketika sudah tenang kembali dan tampaknya “penampakan” itu selesai, tamu itu pun bertanya, “Siapa ya Yohanes Paulus II?”

Bila saya ditanyai lagi, dari sekian banyak para kudus yang saya sebut itu siapa yang paling dekat bagi saya. Jawaban saya: St. Maria Magdalena, St. Petrus Faber, dan St. Charbel Makhlouf. Bila disuruh memilih satu tokoh saja. Jawaban saya: St. Petrus Faber, Yesuit yang dijuluki Karthusian Pengembara.

Julukan “Karthusian Pengembara” ini sebenarnya saling bertentangan arti, seorang Karthusian tak mungkin mengembara namun terikat oleh kaul stabilitas, yaitu kaul untuk hidup di biara tempat ia berkaul kekal sampai akhir hayatnya. Julukan itu sama kontradiktifnya seperti “Yesuit Eremit.”

Mengembara dalam Kebun Tuhan
Ada yang bertanya, apakah saya mutlak hidup hanya dari hasil kebun di Triniji, tidak pernah belanja ke pasar. Sebagai eremit saya tak pernah punya tujuan hidup berswasembada sandang pangan, seperti dihayati Mahatma Gandhi. Untuk mencukupi kebutuhan hidup pribadi saya, pada awalnya saya mencari nafkah dengan menerjemahkan email-email bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang diminta oleh seseorang.

Saya katakan pada awalnya, karena meskipun saya masih mengerjakan hal itu dan mendapat upah, saya tak perlu mempergunakan upah itu untuk membeli keperluan sehari-hari lagi. Hampir semua keperluan sehari-hari diberikan oleh tamu-tamu yang berkunjung ke Triniji. Sedemikian berlimpahnya sehingga bukan cuma cukup untuk saya sendiri, tetapi meluber juga ke para tetangga di dukuh, bahkan sampai ke para ayam, kucing dan tikus yang gemar berkunjung ke kebun Triniji.

Saya pernah mencoba menanam sayur mayur sendiri, supaya tak repot jalan kaki belanja ke pasar (kurang lebih 30 menitan). Tapi tak berhasil karena ketika sayuran masih amat muda sudah habis ditotholi ayam-ayam tetangga. Maklum Triniji tak dilingkari pagar apa pun.

Di kebun luas yang melingkari pondok Triniji ini ada puluhan pohon cengkih, sengon dan jati. Ada juga belasan pohon rambutan dan beberapa pohon duren. Rambutan, bila datang musimnya, langsung habis diserbu anak-anak dukuh. Tentu saja setelah minta izin, “Pak Romo, nyuwun ace!”.

Durian, puluhan jumlahnya bila datang musim durian, habis disantap para tamu dan dibagikan ke para tetangga.

Bila cengkih mulai bisa dipetik, para tetangga dipekerjakan dengan upah harian yang lumayan; bisa belasan orang. Hasil penjualan kurang lebih habis untuk mengupah mereka. Hasil penjualan sengon dan jati, bila terpaksa saya tebang karena kena hama atau berbahaya bagi rumah saya maupun tetangga dekat, saya kirimkan untuk keperluan-keperluan darurat penduduk dukuh.

Alih-alih hidup dari hasil kebun sendiri, saya justru punya niat sejak awal di sini bahwa hasil kebun di Triniji ini dipergunakan untuk kepentingan orang banyak, di dukuh ini dan juga tempat lain; bukan untuk saya sama sekali. Sampai saat ini, niat tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Syukur kepada Allah yang Maha Menyelenggarakan segala sesuatu. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara dalam Simbolisme Padang Gurun (10)

Kredit foto: Romo Antonius Dadang Hermawan (Keuskupan Agung Semarang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here